Bagaimanakah kedudukan Ahmad Ar-Rifa’i di mata pengikut tarekat Rifa’iyyah?
Tentu saja kedudukannya sangat mulia. Menurut mereka, ia orang yang saleh dan zuhud terhadap dunia. Karena itulah mereka menyandarkan nama tarekat mereka kepadanya.
Namun, apakah sama keyakinan Ahmad Ar-Rifa’i dengan keyakinan mereka (pengikut tarekat Rifa’iyyah)?
Belum tentu sama. Sebagai contoh:
Ahmad Ar-Rifa’i berkata:
إذا استعنتم بعباد الله وأوليائه فلا تشهدوا المعونة والإغاثة منهم فإن ذلك شرك
“Jika kalian meminta bantuan kepada hamba-hamba Allah dan wali-wali-Nya, maka jangan bersaksi bahwa pertolongan itu dari mereka, karena itu adalah syirik.” (Al-Burhan Al-Muayyid)
Ini menunjukkan bahwa Ahmad Ar-Rifa’i berpendapat terlarangnya istigasah kepada selain Allah, terutama kepada orang yang sudah mati.
Bahkan, di dalam kitabnya Halatu Ahli Al-Haqiqah Ma’a Allah, Ahmad Ar-Rifa’i berkali-kali menyebutkan larangan istigasah kepada selain Allah.
Sebagai contoh, ia menyebutkan di dalamnya bahwa Allah marah kepada seorang yang zuhud, tatkala ia hendak istigasah kepada selain-Nya. Allah berfirman kepadanya:
أتستغيث بغيري وأنا الغياث؟
“Apakah engkau istigasah kepada selain-Ku, sedangkan Aku adalah Maha Pemberi pertolongan?!” (Halatu Ahli Al-Haqiqah Ma’a Allah)
Itu menunjukkan bahwa sikap Ahmad Ar-Rifa’i terhadap perbuatan istigasah kepada selain Allah adalah sangat jelas. Ia benar-benar melarang demikian. Lantas, bagaimana dengan sikap orang-orang yang mengaku mengikutinya, yaitu pengikut tarekat Rifa’iyyah?
Suatu hari, Syekh Mahmud Syukri Al-Alusi menyaksikan seorang pengikut tarekat Rifa’iyyah meminta tolong kepada Ahmad Ar-Rifa’i. Maka Syekh berkata kepadanya:
هل يسمع الآن الرفاعي نداءك وهو في قبره في قرية «أم عبيدة» ويمدك بالمدد؟
“Apakah Ar-Rifa’i mendengar panggilanmu sekarang ini dan memberimu pertolongan, sedangkan ia berada di dalam kuburnya di kampung Ummu ‘Ubaidah?”
Orang itu menjawab:
نعم.
“Ya.”
Syekh berkata:
فإذا اتفق مثلك في بلاد كثيرة ومواضع متعددة ألوف مؤلفة في أقطار شاسعة، هل يسمعهم أحمد الرفاعي ويمدهم ويغيثهم؟
“Jika kebetulan di banyak negara dan di berbagai tempat ada ribuan orang semacammu dalam kawasan yang luas, apakah Ahmad Ar-Rifa’i mendengar mereka semua dan memberikan bantuan dan pertolongan?”
Orang itu menjawab:
نعم.
“Ya.”
Syekh berkata kepadanya:
أرأيت إن كان كثيرون مثلك في بلاد أخرى متعددة يستغيثونه في نفس الوقت الذي تستغيث أنت فيه، هل يسمع نداءهم جميعهم في آن واحد ويغيثهم؟
“Apa pendapatmu, jika orang yang begitu banyak sepertimu di berbagai negeri yang lain meminta tolong kepadanya dalam waktu yang bersamaan dengan engkau meminta tolong kepadanya, apakah ia mendengar semua panggilan mereka itu dalam satu waktu dan menolong mereka semua?”
Orang itu kembali menjawab:
نعم.
“Ya.”
Syekh berkata:
هذا هو الغلو الذي نهى الله عنه في كتابه الكريم.
“Inilah sikap ekstrem yang dilarang Allah dalam kitab-Nya yang mulia.” (Ghoyah Al-Amani fii Ar-Radd ‘Alaa An-Nabhani)
Siberut, 23 Shafar 1444
Abu Yahya Adiya






