Ilmu Kalam Itu Kelam?

Ilmu Kalam Itu Kelam?

Sejak munculnya ilmu kalam, banyak para ulama salaf yang mencelanya dan mencela orang yang menggelutinya.

Ibnu ‘Abdil Barr berkata:

أَجْمَعَ أَهْلُ الْفِقْهِ وَالْآثَارِ مِنْ جَمِيعِ الْأَمْصَارِ أَنَّ أَهْلَ الْكَلَامِ أَهْلُ بِدَعٍ وَزَيْغٍ وَلَا يُعَدُّونَ عِنْدَ الْجَمِيعِ فِي طَبَقَاتِ الْفُقَهَاءِ وَإِنَّمَا الْعُلَمَاءُ أَهْلُ الْأَثَرِ وَالتَّفَقُّهِ فِيهِ

“Para ahli fikih dan hadis dari semua kota telah sepakat bahwa ahli kalam adalah ahli bidah dan sesat serta tidak dianggap sebagai jajaran fukaha menurut mereka semua. Para ulama hanyalah orang-orang yang berpegang teguh pada hadis dan mendalaminya.” (Jami’ Bayan Al-‘Ilm Wa Fadhlihi)

Lantas, apa yang disebut dengan ilmu kalam?

Syekh Muhammad bin Husain Al-Jizani menjelaskan bahwa ilmu kalam adalah ilmu yang:

إثبات أمور العقائد بالأدلة العقلية والطرق الجدلية مع الإعراض عما في القرآن والسنة من الأدلة العقلية الدالة على أصول الدين

“Menetapkan perkara akidah lewat dalil akal dan metode perdebatan dengan berpaling dari dalil akal yang ada dalam Al-Quran dan As-Sunnah yang menunjukkan pokok agama.” (Qawa’id Ma’rifah Al-Bida’)

Syekh Muhammad bin ‘Abdirrahman Al-Khumais berkata:

يقوم علم الكلام على دعامتين أساسيتين هما: اتخاذ العقل أساسا-ومن هنا يوجبون تقديمه على النقل-والجدل.

“Ilmu kalam berdiri di atas dua pokok mendasar, yakni: menjadikan akal sebagai dasar-dari sini para ahli kalam mewajibkan mendahulukan akal dibandingkan dalil naqli-dan perdebatan.” (Hiwar Maa Asy’ari)

Maka, bisa disimpulkan ilmu kalam adalah ilmu yang menetapkan perkara akidah berdasarkan akal dan metode perdebatan. Padahal….

Sehebat apa pun akal manusia tetap saja lemah. Karena itu, kalau keyakinan dibangun berdasarkan akal manusia dan hasil perdebatan sesama mereka, maka itu hanya akan membuahkan kesesatan demi kesesatan.

Syekh Muhammad bin ‘Abdirrahman Al-Khumais berkata:

ومن الطبيعي أن يرفض أئمة السلف علم الكلام لإدراكهم خطورته على الدين, ومن هنا كان أئمة السنة ينهون عن الجدل وطلب الدين بالكلام.

“Dan termasuk wajar para ulama salaf menolak ilmu kalam, karena mereka tahu bahayanya ilmu tersebut terhadap agama ini. Dari situ para ulama sunnah melarang perdebatan dan mencari agama lewat ilmu kalam.” (Hiwar Maa Asy’ari)

Marilah kita tengok bagaimana sikap para ulama terdahulu terhadap ilmu kalam dan orang yang menggelutinya:

Imam Abu Hanifah pernah ditanya tentang aradh dan jisim, maka beliau berkata:

مقَالَاتُ الْفَلَاسِفَةِ عَلَيْكَ بِالْأَثَرِ وَطَرِيقَةِ السَّلَفِ وَإِيَّاكَ وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ فَإِنَّهَا بِدْعَةٌ

“Ini perkataan kaum filosof. Hendaknya engkau mengikuti hadis dan jalannya salaf. Hati-hatilah dari setiap perkara baru, karena itu bidah!” (Dzam Al-Kalam wa Ahlihi)

Imam Muhammad bin Al-Hasan berkata:

وَكَانَ أَبُو حَنِيفَةَ يَحُثُّنَا عَلَى الْفِقْه وينهانا عَن الْكَلَام

“Abu Hanifah menganjurkan kami untuk mempelajari fikih dan melarang kami dari ilmu kalam.” (Dzam Al-Kalam wa Ahlihi)

Imam Malik bin Anas berkata:

لو كان الكلام علماً لتكلم فيه الصحابة والتابعون كما تكلموا في الأحكام، ولكنه باطل يدل على باطل.

“Seandainya ilmu kalam itu adalah benar-benar ilmu, tentu itu telah dibahas oleh para sahabat dan tabiiin, sebagaimana mereka membahas masalah hukum. Namun, itu adalah batil yang menunjukkan yang batil.” (Al-Amru Bi Al-Ittiba’ wa An-Nahyu ‘An Al-Ibtida’)

Imam Asy-Syafi’i berkata:

وَمَا شَيْءٌ أَبْغَضُ إِلَيَّ مِنَ الكَلاَمِ وَأَهْلِهِ

“Tidak ada sesuatu yang lebih kubenci daripada ilmu kalam dan orang yang menggelutinya.” (Siyar A’lam An-Nubala)

Imam Asy-Syafi’i juga berkata:

لَأَنْ يَلْقَى الْعَبْدُ رَبَّهُ بِكُلِّ ذَنْبٍ مَا خَلَا الشِّرْكَ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَلْقَاهُ بِعِلْمِ الْكَلَامِ.

“Sungguh, seandainya seorang hamba bertemu dengan Tuhannya membawa semua dosa selain syirik, tentu itu lebih baik baginya daripada bertemu dengan Tuhannya dengan membawa ilmu kalam.” (Mughni Al-Muhtaj Ilaa Ma’rifati Ma’ani Alfazh Al-Minhaj)

Imam Ahmad bin Hanbal berkata:

فَإِنَّهُ لَا يُفْلِحُ مَنْ أَحَبَّ الْكَلَامَ , وَكُلُّ مَنْ أَحْدَثَ كَلَامًا لَمْ يَكُنْ آخِرُ أَمْرِهِ إِلَّا إِلَى بِدْعَةٍ , لِأَنَّ الْكَلَامَ لَا يَدْعُو إِلَى خَيْرٍ

“Sesungguhnya tidak beruntunglah orang yang menyukai ilmu kalam. Setiap orang yang membuat pernyataan berdasarkan ilmu kalam, tidaklah akhir perkaranya kecuali menuju bidah. Sebab, ilmu kalam tidaklah mengajak pada kebaikan.” (Al-Ibanah Al-Kubra)

Masih banyak lagi celaan para ulama terdahulu terhadap ilmu kalam dan orang yang menggelutinya.

Karena itu, tidak selayaknya kita menggeluti ilmu kalam dan menjadikannya sebagai dasar dalam berakidah.

Ilmu kalam hanya akan membuat hati, akal, dan pikiran kita menjadi kelam.

 

Siberut, 2 Shafar 1444

Abu Yahya Adiya