Ka’bah meninggalkan tempatnya lalu terbang menuju para wali untuk tawaf mengelilingi mereka.
Itulah cerita yang banyak beredar di kalangan kaum Sufi.
Abu Hamid Al-Ghazali berkata:
ومنهم من تأتي الكعبة إليه وتطوف هي به وتزوره
“Di antara mereka ada yang didatangi Ka’bah, dikelilingi, dan dikunjungi.” (Ihya ‘Ulum Ad-Diin)
Dan An-Nabhani menyebutkan dalam Jami’ Karamaat Al-Aulia juz1 hal 12 bahwa Ka’bah dan Hajar Aswad mendatangi Ibnu ‘Arabi lalu tawaf mengelilinginya, berguru kepadanya, dan meminta kepadanya supaya bisa ditinggikan kepada kedudukan yang tinggi. Lalu Ibnu ‘Arabi pun meninggikan Ka’bah dan Hajar Aswad ke posisi yang tinggi.
Ibnu ‘Abidin An-Naqsyabandi berkata:
وَفِي الْبَحْرِ عَنْ عِدَّةِ الْفَتَاوَى: الْكَعْبَةُ إذَا رُفِعَتْ عَنْ مَكَانِهَا لِزِيَارَةِ أَصْحَابِ الْكَرَامَةِ فَفِي تِلْكَ الْحَالَةِ جَازَتْ الصَّلَاةُ إلَى أَرْضِهَا
“Dalam Al-Bahr ‘An ‘Iddah Al-Fatawa: jika Ka’bah diangkat dari tempatnya untuk mengunjungi orang-orang yang memiliki keramat, maka dalam keadaan demikian boleh salat menghadap ke tempat yang ditinggalkan Ka’bah.” (Radd Al-Muhtaar ‘Alaa Ad-Durr Al-Mukhtaar)
Ahmad Al-Faruqi berkata:
أريت الكعبة المطهرة تطوف بي تشريفا منه تعالى وتكريما لي
“Aku melihat Ka’bah yang disucikan mengelilingiku sebagai bentuk pemuliaan dan penghormatan dari-Nya untukku.” (Al-Mawaahib As-Sarmadiyyah)
Semua tadi adalah pernyataan tokoh Sufi atau orang yang terpengaruh dengan ajaran kaum Sufi.
Dr. ‘Abdurrahman Dimasyqiyyyah berkata:
ولا يخلو كتاب صوفي من ذكر طواف الكعبة حول الأولياء
“Tidak ada satu pun kitab kaum Sufi yang kosong dari penyebutan tentang Kabah mengelilingi para wali.” (Ath-Thariqah An-Naqsyabandiyyah)
Ganjil?
Tentu saja ganjil. Namun anehnya, keganjilan itu banyak diyakini oleh kaum Sufi.
Seandainya Ka’bah pernah meninggalkan tempatnya lalu mengunjungi para wali dan tawaf mengelilingi mereka, tentu itu sudah disebutkan dalam kitab-kitab tarikh. Namun, adakah kitab tarikh yang menyebutkan demikian?
Seandainya tawafnya Ka’bah mengelilingi seseorang adalah pemuliaan dari Allah untuknya, tentu seorang nabi lebih berhak untuk mendapatkan pemuliaan itu daripada para wali. Namun, pernahkah Ka’bah tawaf mengelilingi nabi kita?
Apakah ada orang yang lebih mulia daripada nabi kita?!
“Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang mempunyai akal sehat.” (QS. Al-Baqarah: 269)
Siberut, 5 Jumada Ats-Tsaniyah 1444
Abu Yahya Adiya
Sumber: dorar.net






