Keasingan Yang Membawa pada Keberuntungan

Keasingan Yang Membawa pada Keberuntungan

Seseorang mengamalkan sunnah Nabi ﷺ, padahal banyak orang yang sudah melupakannya. Bukankah ia akan dianggap aneh?

Seseorang tidak melakukan bidah, padahal banyak orang yang mengerjakannya. Bukankah ia akan dianggap asing?

Tentu saja aneh dan asing.

Demikianlah keadaan orang yang berpegang teguh kepada sunnah Nabi ﷺ. Makin jauh ia dari masa kenabian, makin aneh dan asinglah ia.

Nabi ﷺ bersabda:

بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا، وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا، فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

“Islam datang dalam keadaan asing, dan akan kembali asing seperti awal datangnya, maka beruntunglah orang-orang yang asing.” (HR. Muslim)

Siapa orang-orang yang asing itu?

Disebutkan dalam riwayat lain bahwa orang-orang asing yang beruntung itu adalah:

الَّذِينَ يُحْيُونَ سُنَّتِي وَيُعَلِّمُونَهَا عِبَادَ اللَّهِ

“Orang-orang yang menghidupkan sunnahku dan mengajarkannya kepada hamba-hamba Allah.”

Merekalah yang menampakkan sunnah Nabi ﷺ setelah sebelumnya terkubur dan dikubur.

Merekalah yang menghidupkan sunnah Nabi ﷺ setelah sebelumnya dilupakan dan ditinggalkan.

Bukankah orang-orang seperti ini akan dianggap aneh dan asing?

Tentu saja aneh dan asing. Makanya mereka pun akan mendapatkan banyak tantangan dan rintangan.

Abu ‘Ubaid Al-Qasim bin Salam berkata:

المتبع للسنة كالقابض على الجمر، وهو اليوم عندي أفضل من ضرب السيف في سبيل الله

“Orang yang mengikuti sunnah seperti orang yang menggenggam bara api. Dan itu pada hari ini-menurutku-lebih utama daripada mengayunkan pedang di jalan Allah.” (Aqidah As-Salaf wa Ashhab Al-Hadits)

Syekh ‘Abdul ‘Aziz Ar-Rajhi berkata:

هذه المقالة لـ أبي عبيد القاسم بن سلام الإمام المشهور صاحب كتاب الإيمان يقول:

“Perkataan ini diucapkan oleh Abu ‘Ubaid Al-Qasim bin Salam, seorang imam yang terkenal dan penulis kitab Al-Iman. Beliau berkata:

المتبع للسنة كالقابض على الجمر

“Orang yang mengikuti sunnah seperti orang yang menggenggam bara api.”

هذا في زمانه، فكيف لو رأى أهل الزمان في القرن الرابع والقرن الخامس؟! فكيف لو رأى القرن الخامس عشر؟!.

Ini beliau katakan di zamannya. Maka bagaimana pula jika beliau melihat orang-orang yang ada di abad keempat dan kelima?! Bagaimana pula jika beliau melihat orang-orang di abad kelima belas?!” (Syarh Aqidah As-Salaf wa Ashhab Al-Hadits)

Kenapa Imam Abu ‘Ubaid sampai berkata demikian? Apa sebabnya beliau berkata demikian?

Syekh ‘Abdul ‘Aziz Ar-Rajhi berkata:

وسبب ذلك: قلة أهل السنة وكثرة أهل البدع، فلهذا يجد شدة ومشقة لمخالفة الناس؛ لأنه لا يجد من يوافقه على الحق

“Sebabnya yaitu sedikitnya Ahlussunnah dan banyaknya ahli bidah. Makanya, beliau menemui kekerasan dan kesulitan karena penentangan orang-orang. Sebab, beliau tidak menemukan orang yang sependapat dengannya dalam kebenaran.

فلكثرة أهل الباطل وقلة أهل الحق صار المتبع للسنة بين أهل البدع كالقابض على الجمر

Karena banyaknya jumlah orang yang membela kebatilan dan sedikitnya orang yang membela kebenaran, jadilah pengikut sunnah di antara ahli bid’ah seperti orang yang menggenggam bara api.

أهل البدع عن يمينه وشماله، وأمامه وخلفه وهو بينهم متبع للسنة ويتحمل ويجد مشقة كما أن القابض على الجمر يتحمل شدة حرارة الجمر

Ahli bidah di kanannya dan di kirinya, di depannya dan di belakangnya, sedangkan beliau ada di antara mereka mengikuti sunnah dan menanggung serta mendapati kesulitan. Sebagaimana halnya orang yang menggenggam bara api, ia menanggung hebatnya panas dari bara api.” (Syarh Aqidah As-Salaf wa Ashhab Al-Hadits)

Walaupun menjadi aneh dan asing, Ahlussunnah tetap berpegang teguh pada sunnah.

Walaupun terasa seperti menggenggam bara api, Ahlussunnah tetap mengikuti sunnah dan mengajak kaum muslimin untuk mengikuti sunnah.

Karena mereka tahu bahwa itulah kunci keberuntungan umat ini.

Allah berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Katakanlah (wahai Rasul): ‘Jika kalian memang mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa kalian.” (QS. Ali-Imran: 31)

Kalau Allah sudah mencintai hamba-hambanya, apakah mungkin Dia akan membiarkan mereka sengsara?

Dan kalau Allah sudah mencintai hamba-hamba-Nya, apakah mungkin Dia tidak akan membuat mereka mulia?

Syekh Muhammad bin Jamil Zainu berkata:

الفرقة الناجية تدعو المسلمين أن يكونوا من المتمسكين بسنة الرسول ﷺ و أصحابه حتى يكتب لهم النصر وحتى يدخلوا الجنة بفضل الله و شفاعة رسوله صلى الله عليه و سلم (بإذنه عز و جل)

“Golongan yang selamat mengajak kaum muslimin agar berpegang teguh pada sunnah Rasul ﷺ dan para sahabatnya hingga mereka mendapatkan pertolongan dan masuk surga karena karunia Allah dan melalui syafaat Rasul-nya dengan izin-Nya.” (Minhaj Al-Firqah An-Najiyah wa Ath-Thaifah Al-Manshurah)

 

Siberut, 13 Jumada Ats-Tsaniyah 1443

Abu Yahya Adiya