Kedatangan Allah yang Didustakan

Kedatangan Allah yang Didustakan

Salah satu momen menegangkan yang terjadi di akhirat nanti, yaitu kedatangan Allah untuk memberikan keputusan di antara hamba-hamba-Nya.

Allah berfirman:

كَلَّا إِذَا دُكَّتِ الْأَرْضُ دَكًّا دَكًّا وَجَاءَ رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا

“Sekali-kali tidak! Bila bumi digoncangkan berturut-turut, dan datanglah Tuhanmu; sedangkan malaikat berbaris-baris.” (QS. Al-Fajr: 21-22)

Imam Ibnu Katsir berkata:

يُخْبِرُ تَعَالَى عَمَّا يَقَعُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنَ الْأَهْوَالِ الْعَظِيمَةِ، فَقَالَ:

“Allah mengabarkan peristiwa dahsyat yang terjadi di hari kiamat. Dia berfirman:

{كَلا}

“Sekali-kali tidak!”

أَيْ: حَقًّا

Yakni benar-benar.

{إِذَا دُكَّتِ الأرْضُ دَكًّا دَكًّا}

“Bila bumi digoncangkan berturut-turut.”

أَيْ: وُطِئَتْ وَمُهِّدَتْ وَسُوِّيَتِ الْأَرْضُ وَالْجِبَالُ، وَقَامَ الْخَلَائِقُ مِنْ قُبُورِهِمْ لِرَبِّهِمْ،

Yakni bumi dan gunung ditekan, dilebarkan, dan diratakan. Dan semua makhluk bangkit dari kubur mereka untuk menghadap Tuhan mereka.

{وَجَاءَ رَبُّكَ}

“Dan datanglah Tuhanmu.”

يَعْنِي: لِفَصْلِ الْقَضَاءِ بَيْنَ خَلْقِه

Yakni untuk memberi keputusan di antara makhluk-makhluk-Nya.” (Tafsir Al-Quran Al-‘Azhim)

Beliau juga menjelaskan:

فَيَجِيءُ الرَّبُّ تَعَالَى لِفَصْلِ الْقَضَاءِ كَمَا يَشَاءُ، وَالْمَلَائِكَةُ يَجِيئُونَ بَيْنَ يَدَيْهِ صُفُوفًا صُفُوفًا.

“Lalu datanglah Allah untuk memberi keputusan sebagaimana yang Dia kehendaki, sedangkan para malaikat datang ke hadapan-Nya dalam keadaan berbaris-baris.” (Tafsir Al-Quran Al-‘Azhim)

Ayat tadi menunjukkan bahwa di antara sifat yang Allah miliki yaitu “datang”. Allah datang sesuai dengan keagungan dan kemuliaan-Nya.

Dan itu diperkuat oleh ayat lain:

هَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا أَنْ يَأْتِيَهُمُ اللَّهُ فِي ظُلَلٍ مِنَ الْغَمَامِ وَالْمَلَائِكَةُ وَقُضِيَ الْأَمْرُ وَإِلَى اللَّهِ تُرْجَعُ الْأُمُورُ

“Tidak ada yang mereka tunggu-tunggu kecuali datangnya Allah dan malaikat dalam naungan awan, sedangkan perkara mereka telah diputuskan. Dan hanya kepada Allah-lah dikembalikan segala urusan.” (QS. Al-Baqarah: 210)

“Datanglah Tuhanmu.” (QS. Al-Fajr: 22)

“Tidak ada yang mereka tunggu-tunggu kecuali datangnya Allah.” (QS. Al-Baqarah: 210)

Makna dua kalimat ini sangatlah jelas dan gamblang. Namun, sayangnya, makna keduanya ‘buram’ bagi sekte Jahmiyyah, Muktazilah, Asy’ariyyah, dan para penolak sifat Allah lainnya sehingga mereka berkata, “Kedua ayat ini tidak menunjukkan bahwa Allah memiliki sifat datang!”

Kenapa mereka sampai menolak sifat datang bagi Allah?

Mereka beralasan, “Kalau kita menyatakan bahwa Allah datang, maka kita sudah menyamakan Allah dengan makhluk. Sebab, makhluk juga memiliki sifat datang!”

Bagaimana menjawab ‘dalil’ mereka itu?

 

Jawaban

  1. Bagaimana bisa kalian menentang perkataan Allah dengan akal kalian yang lemah?!

Allah telah menyatakan bahwa diri-Nya akan datang di akhirat, maka bagaimana bisa kalian membantah-Nya dengan berkata, “Tidak. Allah tidak akan datang di akhirat nanti”?!

  1. Kedatangan seorang manusia dengan kedatangan manusia yang lainnya tidaklah sama.

Kedatangan seorang pemimpin negara berbeda dengan kedatangan orang biasa.

Kedatangan seorang anak muda berbeda dengan kedatangan orang tua renta.

Nah, kalau kedatangan satu makhluk dengan makhluk lainnya saja berbeda, maka apalagi dengan kedatangan Tuhan alam semesta!

 

Makna Kedatangan Allah Menurut Para Penolak Sifat

Kalau memang Jahmiyyah, Muktazilah, dan Asy’ariyyah menolak sifat datang bagi Allah, lantas apa makna “datanglah Tuhanmu.”  dan “tidak ada yang mereka tunggu-tunggu kecuali datangnya Allah” dalam dua ayat tadi?

Mereka menyatakan bahwa yang datang dalam kedua ayat tadi bukanlah Allah, melainkan ketetapan Allah!

Bagaimana menjawab ‘dalil’ mereka itu?

 

1. Kalau memang yang datang adalah ketetapan Allah dan bukanlah Allah, maka apa yang menghalangi Allah untuk menyebutkan: “datanglah ketetapan ” dan “tidak ada yang mereka tunggu-tunggu kecuali datangnya ketetapan Allah”?!

Apakah sulit bagi Allah untuk menyebutkan itu?!

2. Allah berfirman:

هَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا أَنْ تَأْتِيَهُمُ الْمَلَائِكَةُ أَوْ يَأْتِيَ رَبُّكَ أَوْ يَأْتِيَ بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ

“Yang mereka nanti-nantikan hanyalah kedatangan malaikat kepada mereka, atau kedatangan Tuhanmu atau kedatangan sebagian tanda-tanda dari Tuhanmu.” (QS. Al-An’aam: 158)

Ayat ini menunjukkan dengan jelas kedatangan Allah dan bahwasanya Allah memiliki sifat datang.

Syekh Muhammad bin Khalil Harras berkata:

إِذْ لَا يُمْكِنُ تَأْوِيلُ الْإِتْيَانِ فِيهَا بِأَنَّهُ إِتْيَانُ الْأَمْرِ أَوِ الْعَذَابِ؛ لِأَنَّهُ ردَّد فِيهَا بَيْنَ إِتْيَانِ الْمَلَائِكَةِ وَإِتْيَانِ الرَّبِّ، وَإِتْيَانِ بَعْضِ آيَاتِ الرَّبِّ سُبْحَانَهُ

“Sebab, tidak mungkin kedatangan Allah dalam ayat ini ditakwilkan menjadi ‘kedatangan ketetapan-Nya atau siksa-Nya’. Karena, Allah menyebutkan kedatangan secara berulang dalam ayat tersebut antara kedatangan para malaikat, kedatangan Allah, dan kedatangan sebagian tanda-tanda dari Allah.” (Syarh Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah)

Maka sudah sepantasnya kita menetapkan sifat datang bagi Allah sebagaimana yang Dia kabarkan sendiri dalam kitab-Nya.

Kita menetapkan sifat tersebut sesuai dengan keagungan dan kemuliaan-Nya.

Setelah menyebutkan surat Al-Baqarah ayat 210 tadi, Syekh ‘Abdurrahman As-Sa’di berkata:

هذه الآية وما أشبهها دليل لمذهب أهل السنة والجماعة، المثبتين للصفات الاختيارية، كالاستواء، والنزول، والمجيء، ونحو ذلك من الصفات التي أخبر بها تعالى، عن نفسه، أو أخبر بها عنه رسوله صلى الله عليه وسلم

“Ayat ini dan yang semacamnya adalah dalil bagi pendapat Ahlussunnah wal Jama’ah yang menetapkan sifat-sifat ikhtiari Allah seperti tinggi di atas, turun, datang, dan sifat semacamnya yang dengannya Dia mengabarkan tentang diri-Nya atau dengannya rasul-Nya mengabarkan tentang-Nya.

فيثبتونها على وجه يليق بجلال الله وعظمته، من غير تشبيه ولا تحريف، خلافا للمعطلة على اختلاف أنواعهم، من الجهمية، والمعتزلة، والأشعرية ونحوهم، ممن ينفي هذه الصفات

Mereka menetapkan sifat-sifat itu dalam bentuk yang sesuai dengan keagungan dan kebesaran Allah, tanpa menyerupakan-Nya dengan makhluk-Nya dan tanpa menyelewengkan makna-Nya. Berbeda halnya dengan para penolak sifat Allah dengan berbagai macamnya mereka, seperti Jahmiyyah, Muktazilah, Asy’ariyyah dan semacam mereka yang menolak sifat-sifat tadi.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman Fii Tafsiir Kalam Al-Mannan)

 

Siberut, 2 Sya’ban 1444

Abu Yahya Adiya