3. Semua perbuatan Allah itu mengandung hikmah dan tidak mungkin sia-sia, termasuk ketika Dia menyesatkan hamba-Nya.
“Apakah kalian menyangka bahwa Kami menciptakan kalian secara main-main saja?” (QS. Al-Muminun: 115)
“Apakah manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan begitu saja?” (QS. Al-Qiyamah: 36)
Dalam dua ayat ini Allah menyucikan perbuatan-Nya dari kesia-siaan. Karena itu, apa yang Allah takdirkan pasti mengandung hikmah dan kebaikan, baik kita menyadarinya maupun tidak, termasuk dalam hal menyesatkan sebagian dari hamba-hamba-Nya.
“Kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kalian satu umat (saja), tetapi Dia menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.” (QS. An-Nahl: 93)
Imam Al-Baghawi menjelaskan:
وَلَوْ شاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً واحِدَةً، عَلَى مِلَّةٍ وَاحِدَةٍ وَهِيَ الْإِسْلَامُ، وَلكِنْ يُضِلُّ مَنْ يَشاءُ، بِخِذْلَانِهِ إِيَّاهُمْ عَدْلًا مِنْهُ، وَيَهْدِي مَنْ يَشاءُ، بِتَوْفِيقِهِ إِيَّاهُمْ فَضْلًا منه
“Kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kalian satu umat saja yaitu di atas satu agama yakni Islam. Namun, Dia menyesatkan siapa yang Dia kehendaki yakni dengan Dia abaikan mereka, sebagai bentuk keadilan dari-Nya. Dan Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki yakni dengan Dia berikan taufik kepada mereka, sebagai karunia dari-Nya.” (Ma’alim At-Tanziil Fii Tafsiir Al-Quran)
Ketika Allah memberi petunjuk kepada seseorang, itu merupakan bentuk karunia dari-Nya. Dan ketika Dia menyesatkan seseorang, itu merupakan bentuk keadilan dari-Nya.
Tatkala Allah memberi petunjuk kepada seseorang, perlu kita yakini bahwa orang tersebut memang pantas mendapat petunjuk. Sebab, “Dia yang paling mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Najm: 30)
Begitu pula, tatkala Allah menyesatkan seseorang, perlu kita yakini bahwa orang tersebut memang layak menjadi sesat. Sebab, “Tuhanmu sama sekali tidak menzalimi hamba-hamba-Nya.” (QS. Fushshilat: 46)
4. Kesesatan hamba adalah karena pilihannya sendiri.
Ahlussunnah wal Jama’ah berkeyakinan bahwa perbuatan manusia adalah takdir dan ciptaan Allah. Sebagaimana firman-Nya: “Dia menciptakan segala sesuatu.” (QS. Al-Furqan: 2).
Ya, segala sesuatu, termasuk di antaranya perbuatan manusia.
Namun, walaupun perbuatannya telah ditakdirkan dan diciptakan, manusia juga mempunyai kehendak dan pilihan untuk melakukannya atau tidak.
“Bagi siapa di antara kalian yang menghendaki menempuh jalan yang lurus.” (QS. At-Takwir: 28)
“Sesungguhnya Kami telah menunjukkan kepadanya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur.” (QS. Al-Insan: 3)
Dua ayat ini menunjukkan bahwa manusia mempunyai kehendak dan pilihan untuk melakukan suatu perbuatan. Ia punya kehendak dan pilihan untuk menjadi orang baik atau orang jahat. Ia punya kehendak dan pilihan untuk mendapat petunjuk atau tersesat.
Kalau memang setiap insan punya kehendak dan pilihan untuk melakukan suatu perbuatan atau tidak, maka pantaslah jika Allah memberinya pahala karena melakukan ketaatan, dan memberinya siksa karena melakukan kemaksiatan. Itu merupakan bentuk keadilan-Nya.
Selain itu, seorang hamba bisa tersesat karena ia sendiri memilih untuk tersesat.
“Adapun kaum Tsamud, maka Kami telah memberi mereka petunjuk, tetapi mereka lebih menyukai kebutaan daripada petunjuk itu.” (QS. Fushshilat: 17)
Ibnu ‘Abbas menjelaskan:
أرسل الله إليهم الرسل بالهدى فاستحبوا العمى على الهدى
“Allah telah mengutus kepada mereka para rasul dengan membawa petunjuk, tetapi mereka lebih menyukai kebutaan dibandingkan petunjuk.” (Jami’ Al-Bayan Fii Tawiil Al-Quran)
“Maka ketika mereka berpaling, Allah memalingkan hati mereka.” (QS. Ash-Shaff: 5)
Al-Qurthubi menjelaskan:
(فَلَمَّا زاغُوا) أَيْ مَالُوا عَنِ الْحَقِّ (أَزاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ) أَيْ أَمَالَهَا عَنِ الْهُدَى
“Ketika mereka berpaling yakni belok dari kebenaran, maka Allah pun memalingkan hati mereka yakni Dia belokkan hati mereka dari petunjuk.” (Al-Jami’ Liahkam Al-Quran)
Karena seseorang memilih kesesatan, maka wajarlah kalau Allah menyesatkannya. Dan itu merupakan bentuk keadilan-Nya.
“Telah sempurnalah firman Tuhanmu (Al Qur’an) dengan benar dan adil.” (QS. Al-An’aam: 115)
Qatadah menjelaskan:
صِدْقًا فِيمَا قَالَ وَعَدْلًا فِيمَا حَكَمَ
“Benar yaitu dalam hal apa yang Dia katakan dan adil yaitu dalam hal yang Dia putuskan.” (Tafsir Al-Quran Al-‘Azhim)
Ayat ini menunjukkan bahwa Allah itu Maha Adil dan segala keputusan-Nya itu adil. Karena itu, tidak mungkin Allah memiliki sifat zalim. Kalau memang kezaliman itu adalah sifat yang tercela bagi seorang manusia, maka apalagi bagi Tuhannya seluruh manusia, bahkan alam semesta!
Karena itu, tidak ada ketetapan-Nya yang zalim sama sekali, termasuk ketika Dia menyesatkan hamba-hamba-Nya.
Siberut, 12 Sya’ban 1445
Abu Yahya Adiya






