Kenapa Harus Ada Orang yang Sesat?

Kenapa Harus Ada Orang yang Sesat?

“Kenapa Allah harus menakdirkan adanya orang yang baik dan orang yang jahat? Kenapa Dia tidak menakdirkan semua orang itu baik dan mendapatkan petunjuk sehingga semuanya bahagia di akhirat? Bukankah itu kezaliman terhadap hamba-Nya yang ditakdirkan jahat lalu sengsara di akhirat?”

Bisa jadi, setan melontarkan kerancuan demikian ke dalam hati kita.

Kerancuan itu bisa dijawab:

 

1. Allah tidak ditanya tentang apa yang Dia perbuat.

Dia tidak ditanya tentang apa yang Dia kerjakan, tetapi merekalah yang akan ditanya. (QS. Al-Anbiya: 23)

Tidak satu pun makhluk yang bisa bertanya kepada-Nya, Kenapa Engkau melakukan ini? Kenapa Engkau tidak melakukan itu?

Justru hamba-hamba-Nya lah yang akan Dia tanya tentang apa yang telah mereka perbuat. Sebab, Dia adalah penguasa mereka dan mereka adalah hamba-hamba-Nya dan di bawah kekuasaan-Nya. 

Kalau memang Dia adalah penguasa hamba-hamba-Nya dan mereka di bawah kekuasaan-Nya, maka Dia berhak memperlakukan hamba-Nya dengan apa pun yang Dia suka, termasuk menyesatkannya.

 

2. Tidak ada seorang pun yang bisa mewajibkan Allah untuk melakukan apa pun, termasuk memasukkan orang yang taat ke surga.

Syekhul Islam Ibnu Taimiyah:

وأهل السنة متفقون على أنه سبحانه خالق كل شيء وربه ومليكه، وأنه ما شاء كان وما لم يشأ لم يكن، وأن العباد لا يوجبون عليه شيئًا

“Ahlussunnah sepakat bahwa Dia adalah pencipta, pemilik, dan penguasa segala sesuatu dan apa yang Dia kehendaki pasti terjadi dan apa yang tidak Dia kehendaki pasti tidak terjadi, dan bahwasanya para hamba tidak bisa mewajibkan Allah sedikit pun.” (Iqtidha Ash-Shirath Al-Mustaqim Limukhalafah Ashhab Al-Jahim)

Memang ada hadis yang menyebutkan bahwa hamba memiliki hak atas Allah, yakni hadis yang berbunyi: Hak hamba yang pasti ditunaikan oleh Allah yaitu Allah tidak akan menyiksa orang yang tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Namun, itu bukanlah artinya Allah diwajibkan menunaikan hak hamba-Nya dan hamba tersebut berhak mendapatkan ganjaran dari-Nya sebagai kompensasi atas perbuatannya, sebagaimana halnya itu terjadi di antara sesama manusia.

Ganjaran yang Allah berikan kepada seorang hamba adalah sebagai bentuk karunia dan kemurahan dari-Nya, bukan sebagai kompensasi atas perbuatannya.

Kalau memang tidak ada yang bisa mewajibkan Allah untuk memasukkan seseorang ke surga karena ketaatannya, maka Allah berhak untuk menyesatkan hamba-Nya lalu memasukkan ke neraka karena kedurhakaannya.  Dan itu merupakan bentuk keadilan-Nya. 

(Bersambung)

 

Siberut, 11 Syaban 1445

Abu Yahya Adiya