Malu Menempati Saf Pertama?

Malu Menempati Saf Pertama?

Apa keutamaan menempati saf pertama dalam salat berjamaah?

Nabiﷺ  bersabda:

خَيْرُ صُفُوفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا

“Sebaik-baik saf kaum pria adalah yang paling depan.” (HR. Muslim)

Kenapa sebaik-baik saf kaum pria adalah yang paling depan?

Nabiﷺ  bersabda:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الصَّفِّ الْأَوَّلِ

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersalawat untuk orang yang ada di saf pertama.” (HR. Ibnu Majah)

Setelah kita mengetahui keutamaan ini, pantaskah kita enggan untuk menempati saf pertama ketika salat berjamaah?

Allah berfirman:

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ

“Maka berlomba-lombalah kalian dalam kebaikan.” (QS. Al-Baqarah: 148)

Ya, berlomba-lombalah dalam melakukan kebaikan. Bersemangatlah dalam menggapai kebaikan. Termasuk di antaranya yaitu menempati saf pertama dalam salat berjamaah.

Itulah seharusnya sikap seorang muslim sejati yang bersemangat mengejar rida ilahi. Namun sayangnya, sikap mulia itu tidak berlaku bagi kaum Sufi.

Seorang tokoh Sufi, Ath-Thusi berkata:

ومن آداب الصوفية أنهم يكرهون الصلاة في الصف الأول

“Di antara adab kaum Sufi yaitu mereka tidak suka salat di saf pertama.” (Kitab Al-Luma’ Fii At-Tashawwuf)

Siapakah sajakah mereka?

Asy-Sya’rani menyebutkan contohnya:

وقد كان سيدي أحمد الزاهد , وسيدي محمد المغربي , وسيدي مدين , وسيدي أبو العباس الغمري يصلّون دائماً في آخر صف مساجدهم

“Sesungguhnya Sidi Ahmad Az-Zahid, Sidi Muhammad Al-Maghribi, Sidi Medien, dan Sidi Abu Al-‘Abbas Al-Ghumari, mereka selalu melaksanakan salat di akhir saf masjid mereka.” (Al-Akhlaq Al-Matbuuliyyah)

Kenapa mereka melakukan demikian?

Asy-Sya’rani menyebutkan alasan mereka dan alasan tersebut lebih parah daripada perbuatan mereka. Asy-Sya’rani berkata:

إن فعلهم هذا كان حياء من الله كما قال سيدي علي الخواص رحمه الله:

“Sesungguhnya perbuatan mereka itu merupakan bentuk malu mereka kepada Allah, sebagaimana dikatakan oleh Sidi ‘Ali Al-Khawwash-semoga Allah merahmatinya-:

حكم كمل العارفين إذا وقف أحدهم بين يدي ربه في الصلاة حكم من كان فسق في حريم الوالي أتوا به إليه فهو يخاف من القرب من حضرته حتى يحصل رضى الوالي والعفو والمسامحة

“Status seorang arif yang sempurna jika berdiri di hadapan Tuhannya dalam salat adalah seperti status orang yang berbuat fasik dalam perkara yang dilarang oleh wali. Ia didatangkan kepada wali tersebut sedangkan ia dalam keadaan takut untuk mendekat di hadapannya hingga wali tersebut meridai, memaafkan, dan mengampuninya.” (Al-Akhlaq Al-Matbuuliyyah)

Apakah para sahabat Nabi ﷺ enggan menempati saf pertama dengan alasan malu atau takut kepada Allah, seperti yang dilakukan oleh kaum Sufi?

Syekh Ihsan Ilaahi Zhahir berkata:

وهل هؤلاء الصوفية كانوا أشدّ خوفاً من صحابة النبي صلى الله عليه وسلم

“Apakah kaum Sufi itu lebih takut kepada Allah dibandingkan para sahabat Nabi?!” (Diraasaat Fii At-Tashawwuf)

Tentu saja tidak. Para sahabat Nabi ﷺ lebih takut kepada Allah dibandingkan kaum Sufi. Dan kedudukan mereka juga sangat tinggi jauh melebihi kaum Sufi.

Karena itu, siapakah yang menjadi panutan kita? Apakah para sahabat Nabi ﷺ atau kaum Sufi?

 

Siberut, 25 Jumada Al-Ulaa 1444

Abu Yahya Adiya

 

Sumber: Diraasaat Fii At-Tashawwuf karya Ihsan Ilaahi Zhahir.