Kedekatan Allah Menjadi Masalah?

Kedekatan Allah Menjadi Masalah?

Apakah menjadi masalah tatkala kita menyatakan bahwa orang yang beriman akan dekat dengan Allah?

Nabi ﷺ mengabarkan:

إِنَّ اللَّهَ يُدْنِي المُؤْمِنَ، فَيَضَعُ عَلَيْهِ كَنَفَهُ وَيَسْتُرُهُ، فَيَقُولُ:

“Sesungguhnya Allah mendekatkan orang yang beriman, lalu memberikan penutup kepadanya kemudian menutupinya. Lalu Dia berfirman:

أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا، أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟

“Apakah kamu ingat dosamu yang begini? Apakah kamu ingat dosamu yang begitu?”

فَيَقُولُ:

Orang beriman itu berkata:

نَعَمْ أَيْ رَبِّ

“Ya, Tuhanku.”

حَتَّى إِذَا قَرَّرَهُ بِذُنُوبِهِ، وَرَأَى فِي نَفْسِهِ أَنَّهُ هَلَكَ، قَالَ:

Hingga ketika sudah diakui dosa-dosanya dan ia melihat bahwa dirinya akan celaka, Dia berfirman:

سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا، وَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ اليَوْمَ

“Aku telah menutupi dosa tersebut untukmu di dunia dan Aku ampuni itu untukmu di hari ini!” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan dengan jelas bahwa di akhirat orang yang beriman akan dekat dengan Allah dan didekatkan kepada-Nya.

Namun, sebagian orang menolak demikian dengan berkata bahwa maksud dekat di sini yaitu dekat dalam hal kebaikan, bukan dalam hal jarak!

Artinya, kelak orang yang beriman bukan dekat dengan-Nya, melainkan dekat dengan kebaikan-Nya. Karena, menurut mereka, Allah disucikan dari jarak!

Betulkah demikian?

Syekhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:

وَاَلَّذِينَ يُثْبِتُونَ تَقْرِيبَهُ الْعِبَادَ إلَى ذَاتِهِ هُوَ الْقَوْلُ الْمَعْرُوفُ لِلسَّلَفِ وَالْأَئِمَّةِ وَهُوَ قَوْلُ الْأَشْعَرِيِّ وَغَيْرِهِ مِنْ الْكُلَّابِيَة؛ فَإِنَّهُمْ يُثْبِتُونَ قُرْبَ الْعِبَادِ إلَى ذَاتِهِ وَكَذَلِكَ يُثْبِتُونَ اسْتِوَاءَهُ عَلَى الْعَرْشِ بِذَاتِهِ

“Orang-orang yang menetapkan bahwa Dia mendekatkan hamba-Nya kepada zat-Nya adalah pendapat yang dikenal dari salaf dan para imam dan itu pula pendapat Al-Asy’ari dan orang-orang Kullabiyyah lainnya. Sesungguhnya mereka menetapkan kedekatan hamba-hamba-Nya dengan zat-Nya. Demikian pula mereka menetapkan ketinggian zat-Nya di atas Arsy.” (Majmu ‘ Al-Fatawa)

Karena itu, menafsirkan kedekatan orang mukmin dengan Allah di akhirat dengan kedekatan orang mukmin dengan kebaikan-Nya merupakan tafsir yang tidak pernah diungkapkan oleh para sahabat dan tabiin, dan tidak pula tabiit tabiin.

Itu adalah tafsir yang muncul dari para penolak sifat Allah yang sudah teracuni oleh ilmu kalam dan filsafat.

Syekhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:

وَمَنْ جَعَلَ قُرْبَ عِبَادِهِ الْمُقَرَّبِينَ لَيْسَ إلَيْهِ؛ وَإِنَّمَا هُوَ إلَى ثَوَابِهِ وَإِحْسَانِهِ فَهُوَ مُعَطِّلٌ مُبْطِلٌ.

“Siapa yang menjadikan kedekatan hamba-hamba-Nya yang didekatkan bukan kepada-Nya, melainkan kepada balasan-Nya dan kebaikan-Nya, maka ia orang yang menolak dan membatalkan sifat-Nya.” (Majmu’ Al-Fatawa)

Karena itu, dalam hal kedekatan Allah dengan hamba-Nya, sikap kita yang seharusnya adalah seperti sikap Imam Malik terhadap ketinggian Allah di atas Arsy, yakni:

Makna dekatnya seorang mukmin dengan Allah itu sudah diketahui. Sedangkan bagaimana hakikatnya itu tidak diketahui. Sementara beriman bahwa Dia dekat dengan hamba-Nya adalah wajib. Dan bertanya tentang hakikatnya adalah bidah!

 

Siberut, 11 Rabi’ul Tsani 1444

Abu Yahya Adiya