Dibandingkan tarekat-tarekat Sufi lainnya, nama tarekat Sammaniyyah masih asing di telinga masyarakat Indonesia. Padahal, tarekat ini sudah ada di Indonesia dan memiliki aktivitas keagamaan di tengah masyarakat, walaupun tidak sebanyak tarekat lainnya.
Tarekat Sammaniyyah didirikan oleh seorang tokoh Sufi, Muhammad bin ‘Abdul Karim As-Saman sekitar tiga abad lalu.
Lantas, apa saja keyakinan tarekat Sammaniyyah?
1. Seorang wali bisa sampai ke Arsy menghadap Allah.
Muhammad bin Ahmad Al-Farghali berkata:
كنت أمشي بين يدي الله تعالى تحت العرش
“Aku berjalan di hadapan Allah di bawah Arsy.” (An-Nushrah Al-‘Ilmiyyah Liashhaab Ath-Thuruq Ash-Shufiyyah)
Kalau para nabi saja tidak bisa demikian, maka apakah mungkin seorang wali bisa demikian?!
2. Seorang wali boleh membunuh wali lainnya.
Muhammad ‘Abdul Mahmud Nur Ad-Daim berkata:
وقد يغيب الغوث عن الديوان فلا يحضره فيحصل بين أهل الله تعالى ما يوجب اختلافهم، فيقع منهم التصرف الموجب لأن يقتل بعضهم بعضًا
“Kadang pertolongan tersembunyi dari _diwan_ sehingga tidak muncul. Karena itu, terjadi di antara para wali Allah apa yang menyebabkan mereka berselisih sehingga terjadilah pada mereka tindakan yang menyebabkan mereka saling membunuh satu sama lain.” (An-Nushrah Al-‘Ilmiyyah Liashhaab Ath-Thuruq Ash-Shufiyyah)
Wali Allah adalah orang yang beriman dan bertakwa (lihat QS. Yunus: 62-63). Apakah pantas orang yang beriman dan bertakwa melakukan pembunuhan?!
3. Seorang wali boleh berzina
Muhammad ‘Abdul Mahmud menceritakan kisah seorang murid yang menyaksikan syekhnya sedang berzina, tetapi ia tidak menegurnya dan tidak mencelanya sehingga Syekh itu kagum kepadanya.
Murid itu mencari-cari pembenaran atas perbuatan syekhnya itu dengan ucapannya:
الفرق بين معصية الولي والفاسق؛ الولي يطيع الله على المعصية كشفًا وإلهامًا! والفاسق على العكس، ومن لم يطلعه الله على معصية فهو فاسق
“Perbedaan antara maksiat yang dilakukan oleh wali dengan yang dilakukan oleh orang fasik, yaitu wali menaati Allah ketika bermaksiat karena kasyaf (penyingkapan terhadap perkara gaib) dan ilham dari-Nya, sedangkan orang fasik kebalikan darinya. Siapa yang tidak Allah perlihatkan untuk bermaksiat, maka ia seorang fasik!” (An-Nushrah Al- ‘Ilmiyyah Liashhaab Ath-Thuruq Ash-Shufiyyah)
Apakah mungkin Allah memperlihatkan kepada hambanya kemaksiatan, agar ia melakukannya?!
4. Seluruh alam semesta di bawah pengaturan Ahmad Ath-Thayyib Al-Basyir As-Sammani.
Ahmad Ath-Thayyib Al-Basyir As-Sammani berkata:
ﺃﻧﺎ ﺍﻟﻘﻄﺐ ﺍﻟﺠﺎﻣﻊ، ﺃﻧﺎ ﺍﻟﻌﻠﻮﻱ ﻭﺍﻟﺴﻔﻠﻲ ﺗﺤﺖ ﻗﺪﻣﻲ ﻫﺬﻩ
“Aku adalah Quthb yang mengumpulkan. Alam yang tinggi dan rendah di bawah kakiku ini.”
5. Siapa yang beristigasah kepada Muhammad bin ‘Abdul Karim As-Samman, maka akan hilanglah kesulitan yang ia hadapi.
Muhammad bin ‘Abdul Karim As-Samman berkata:
إذا أصابتك نكبة أو شدة في أي آونة فنادني جهرة وقل: يا سمان يا سندي فأنا آتيك حيث كنت واُفَرِّجُ عنك وأكشف عنك الحَزَن والأذى
“Jika engkau mengalami bencana atau musibah dalam suatu waktu, maka panggillah aku dengan suara keras dan ucapkanlah, ‘Wahai Samman, Wahai sandaranku’, niscaya aku mendatangimu di mana pun engkau berada dan aku hilangkan musibah yang menimpamu serta kusingkap kesedihan dan gangguan darimu.” (Al-Kuus Al-Mutra’ah Fii Manaaqib As-Saadah Al-Arba’ah)
Lihatlah, “panggillah aku”! Bukan “panggillah Allah”! Padahal….
Siapakah yang bisa mendatangkan bencana dan menghilangkannya?
Allah berfirman:
وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَادَّ لِفَضْلِهِ يُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
“Dan jika Allah menimpakan suatu bencana kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagimu, maka tak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya dan Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha penyayang.” (QS. Yunus: 107)
6. Siapa yang bergabung dengan tarekat mereka, maka ia akan masuk surga. Dan siapa yang memakan makanan mereka, maka ia masuk surga.
Muhammad bin ‘Abdul Karim As-Samman berkata:
من أخذ طريقتي دخل الجنة ومن أكل طعامنا دخل الجنة
“Siapa yang mengambil jalanku, maka ia akan masuk surga. Dan siapa yang memakan makanan kami, maka ia akan masuk surga.” (Qathraat Min Ath-Thariqah As-Sammaaniyyah)
Siapa yang mengambil jalannya, maka ia akan masuk surga. Dan siapa yang tidak mengambil jalannya, maka ia?
Semua tadi adalah pembahasan tentang keyakinan tarekat Sammaniyyah. Adapun amaliah mereka, maka itu tidak berbeda dengan amaliah tarekat-tarekat Sufi lainnya, seperti membuat kubah di atas kubur, menyuruh pengikut mereka untuk Safar ke kubur Syekh mereka, berzikir disertai pukulan gendang dan meloncat-loncat, dan amaliah lainnya yang tidak pernah diajarkan oleh Nabi ﷺ dan tidak pula dipraktekkan oleh para sahabatnya.
Siberut, 24 Jumada Ats-Tsaniyah 1444
Abu Yahya Adiya
Sumber:
- http://www.saaid.net/feraq/sufyah/t/7.htm
- https://majles.alukah.net/t118112/
- https://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=31211






