Siapakah ‘Amru bin ‘Ubaid?
Imam Ibnu ‘Ulayyah berkata:
أَوَّلُ مَنْ تَكَلَّمَ فِي الاعْتزَالِ وَاصِلٌ الغَزَّالُ، فَدَخَلَ مَعَهُ عَمْرُو بنُ عُبَيْدٍ، فَأُعْجِبَ بِهِ، وَزَوَّجَهُ أُخْتَهُ
“Orang yang pertama kali mencetuskan pemikiran Muktazilah yaitu Washil Al-Ghazzal. Lalu ‘Amru bin ‘Ubaid masuk bersamanya. Ia mengaguminya dan menikahkannya dengan saudarinya.” (Siyar A’lam An-Nubala)
Kalau begitu ‘Amru bin ‘Ubaid adalah seorang tokoh Muktazilah yang mengikuti tokoh pencetusnya yaitu Washil bin ‘Atha Al-Ghazzal.
Selain tokoh Muktazilah, ia juga orang yang menolak takdir.
Ibnul Mubarak berkata:
دَعَا إِلَى القَدَرِ، فَتَرَكُوْهُ.
“Ia mengajak orang-orang untuk mengingkari takdir, maka mereka pun meninggalkannya.” (Siyar A’lam An-Nubala)
Walaupun keadaannya demikian, ia bukan seorang hedonis dan ahli maksiat.
Imam Hafsh bin Ghiyats berkata tentang ‘Amru bin ‘Ubaid:
مَا لَقِيْتُ أَزْهَدَ مِنْهُ
“Aku belum pernah bertemu dengan seseorang yang lebih zuhud daripadanya.” (Siyar A’lam An-Nubala)
Imam Adz-Dzahabi menyebutkan biografi ‘Amru bin ‘Ubaid:
الزَّاهِدُ، العَابِدُ
“Seorang yang zuhud dan ahli ibadah.” (Siyar A’lam An-Nubala)
Orang yang keadaannya seperti itu tentu membuat kagum orang awam yang tidak berilmu. Sebagai contoh, Khalifah Al-Manshur sampai memuji ‘Amru bin ‘Ubaid:
كُلُّكُم يَمْشِي رُوَيْد … كُلُّكُم يَطْلُبُ صَيْد غَيْرَ عَمْرِو بن عُبَيْد ..
“Masing-masing kalian berjalan pelan-pelan….masing-masing kalian mencari buruan kecuali ‘Amru bin ‘Ubaid.” (Siyar A’lam An-Nubala)
Itu keadaan orang awam. Adapun orang yang berilmu dan berpegang teguh pada sunnah, maka ia tidak mudah kagum akan demikian.
Setelah menyebutkan pujian Khalifah Al-Manshur tadi, Imam Adz-Dzahabi berkata:
اغْترَّ بِزُهْدِهِ وَإِخْلاَصِهِ، وَأَغفلَ بِدْعَتَهُ.
“Al-Manshur tertipu oleh sifat zuhud dan ketulusan yang ada pada dirinya (‘Amru), dan lalai dari bidah yang ada pada dirinya!” (Siyar A’lam An-Nubala)
Hebatnya sifat zuhud yang ada pada ‘Amru tidak membuat para ulama tersemu.
Hebatnya ibadah yang ada pada ‘Amru tidak membuat para ulama tertipu.
Karena itu, Imam An-Nasai berkata:
لَيْسَ بِثِقَةٍ.
“Ia bukan orang yang terpercaya.” (Siyar A’lam An-Nubala)
Imam Adz-Dzahabi berkata:
وَذَكَرَ مُحَمَّدُ بنُ عَبْدِ اللهِ الأَنْصَارِيُّ: أَنَّهُ رَأَى عَمْرَو بنَ عُبَيْدٍ فِي النَّوْمِ قَدْ مُسِخَ قِرْداً.
“Muhammad bin ‘Abdillah Al-Anshari menyebutkan bahwa ia melihat ‘Amru bin ‘Ubaid dalam mimpi telah diubah menjadi kera.” (Siyar A’lam An-Nubala)
Ketika Imam Yunus bin ‘Ubaid mengetahui bahwa anaknya mengikuti majlis ‘Amru bin ‘Ubaid, beliau berkata kepada anaknya:
أَنْهَى عَنِ الزِّنَاءِ , وَالسَّرِقَةِ , وَشُرْبِ الْخَمْرِ , وَلَئِنْ تَلْقَى اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ بِهَذَا أَحَبُّ مِنْ أَنْ تَلْقَاهُ بِرَأْيِ عَمْرِو بْنِ عُبَيْدٍ وَأَصْحَابِ عَمْرٍو
“Aku melarang engkau berzina, mencuri, dan meminum khamar. Sungguh, seandainya engkau menemui Allah ‘Azza wa Jalla dalam keadaan melakukan perbuatan tadi, itu lebih kusukai daripada engkau menemui Allah dengan membawa pemikiran ‘Amru bin ‘Ubaid dan sahabat- sahabatnya!” (Al-Ibanah Al-Kubra)
Mengapa sikap para ulama demikian keras terhadap ‘Amru bin ‘Ubaid, padahal ia bukan ahli maksiat?
Imam Sufyan Ats-Tsauri berkata:
الْبِدْعَةُ أَحَبُّ إِلَى إِبْلِيسَ مِنَ الْمَعْصِيَةِ , وَالْمَعْصِيَةُ يُتَابُ مِنْهَا , وَالْبِدْعَةُ لَا يُتَابُ مِنْهَا
“Bidah lebih disukai iblis daripada maksiat. Pelaku maksiat masih mungkin untuk bertobat dari perbuatannya, sedangkan pelaku bidah sulit untuk bertaubat dari perbuatannya.” (Syarh Ushul I’tiqad Ahlussunnah wal Jamaah)
Ahli maksiat merasa salah karena kemaksiatan yang ia lakukan. Sedangkan ahli bidah merasa benar karena bidah yang ia lakukan, sehingga akhirnya ia tidak mau bertobat atau sulit untuk bertobat.
Siberut, 19 Jumada Ats-Tsaniyah 1444
Abu Yahya Adiya






