“Untuk apa timbangan?! Yang membutuhkan timbangan hanyalah tukang sayur, dan penjual dan semacam mereka!”
Itulah pendustaan para filosof terhadap mizan. Mereka mengingkari bahwa amalan manusia akan ditimbang di hari kiamat.
Mereka menyangka bahwa kabar tentang itu hanyalah dongengan dan khayalan, padahal….
Allah berfirman:
والوزن يومئذ الحق فمن ثقلت موازينه فأولئك هم المفلحون* ومن خفت موازينه فأولئك الذين خسروا أنفسهم بما كانوا بآياتنا يظلمون
“Timbangan pada hari itu adalah kebenaran. Maka, siapa yang berat timbangan kebaikannya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan siapa yang ringan timbangan kebaikannya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri, karena mereka mengingkari ayat-ayat Kami.” (QS. Al-A’raaf: 8-9)
Dan Nabi ﷺ mengabarkan:
إِنَّ اللَّهَ سَيُخَلِّصُ رَجُلًا مِنْ أُمَّتِي عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيَنْشُرُ عَلَيْهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ سِجِلًّا كُلُّ سِجِلٍّ مِثْلُ مَدِّ الْبَصَرِ ثُمَّ يَقُولُ
“Sesungguhnya Allah akan membebaskan seorang dari umatku di hadapan seluruh makhluk di hari kiamat. Lalu Allah memperlihatkan kepadanya sembilah puluh sembilan lembaran. Masing-masing lembaran panjangnya seperti sejauh mata memandang. Lalu Allah bertanya:
أَتُنْكِرُ مِنْ هَذَا شَيْئًا أَظَلَمَكَ كَتَبَتِي الْحَافِظُونَ
“Apakah engkau pungkiri sesuatu dari catatan ini? Apakah para penulis-Ku yang selalu mengawasi telah menzalimimu?”
فَيَقُولُ
Orang itu menjawab:
لَا يَا رَبِّ
“Tidak, wahai Tuhanku.”
فَيَقُولُ
Allah kembali bertanya:
أَفَلَكَ عُذْرٌ
“Apakah engkau memiliki alasan?”
فَيَقُولُ
Ia menjawab:
لَا يَا رَبِّ
“Tidak, wahai Tuhanku.”
فَيَقُولُ
Allah berfirman:
بَلَى إِنَّ لَكَ عِنْدَنَا حَسَنَةً فَإِنَّهُ لَا ظُلْمَ عَلَيْكَ الْيَوْمَ
“Tentu, engkau memiliki kebaikan di sisi Kami. Sesungguhnya tidak ada kezaliman terhadap dirimu pada hari ini.”
فَتَخْرُجُ بِطَاقَةٌ فِيهَا
Lalu, dikeluarkan sebuah kartu yang di dalamnya tertulis:
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
“Aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.”
فَيَقُولُ
Allah lalu berfirman:
احْضُرْ وَزْنَكَ
“Datangilah timbanganmu.”
فَيَقُولُ
Orang itu bertanya:
يَا رَبِّ مَا هَذِهِ الْبِطَاقَةُ مَعَ هَذِهِ السِّجِلَّاتِ
“Ya Tuhanku, kartu dan lembaran-lembaran apakah ini?”
فَقَالَ
Allah berfirman:
إِنَّكَ لَا تُظْلَمُ
“Sesungguhnya engkau tidak akan dizalimi.”
قَالَ
Nabi ﷺ bersabda:
فَتُوضَعُ السِّجِلَّاتُ فِي كَفَّةٍ وَالْبِطَاقَةُ فِي كَفَّةٍ فَطَاشَتْ السِّجِلَّاتُ وَثَقُلَتْ الْبِطَاقَةُ فَلَا يَثْقُلُ مَعَ اسْمِ اللَّهِ شَيْءٌ
“Lalu, lembaran-lembaran itu diletakkan pada salah satu daun timbangan, sedangkan kartu itu diletakkan di daun timbangan yang lain. Ternyata lembaran-lembaran itu ringan, sedangkan kartu itu lebih berat timbangannya. Maka, tidak ada sesuatu pun yang melebihi beratnya nama Allah.” (HR. Tirmidzi)
Masih banyak lagi ayat Al-Quran dan hadis Nabi ﷺ yang menyebutkan tentang mizan, yakni timbangan amal. Maka, wajib atas setiap muslim untuk mengimaninya.
Abu Ishaq Az-Zajjaj berkata:
أَجْمَعَ أَهْلُ السُّنَّةِ عَلَى الْإِيمَانِ بِالْمِيزَانِ وَأَنَّ أَعْمَالَ الْعِبَادِ تُوزَنُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ….وَأَنْكَرَتِ الْمُعْتَزِلَةُ الْمِيزَانَ وَقَالُوا هُوَ عِبَارَةٌ عَنِ الْعَدْلِ فَخَالَفُوا الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ
“Ahlussunnah telah sepakat untuk mengimani mizan dan bahwa amalan hamba akan ditimbang di hari kiamat….sedangkan kaum Muktazilah mengingkari mizan. Mereka berkata bahwa mizan adalah ibarat tentang keadilan, karena itu mereka telah menyelisihi Al-Quran dan As-Sunnah.” (Fath Al-Bari Syarh Shahih Al-Bukhari)
Kalau seseorang mengingkari mizan dengan mendustakan ayat dan hadis yang menyebutkan itu, maka tidak diragukan lagi ia kafir, bukan lagi muslim.
Namun, kalau ia mengingkari mizan dengan menakwilkannya ke makna yang menyelisihi lahirnya, maka ia tidak kafir, ‘cuma’ sesat.
Maka, jangan ingkari itu dengan alasan apapun!
Apa Yang Ditimbang?
Kalau memang mengimani mizan adalah kewajiban, lantas apa yang akan ditimbang nanti?
Nabi ﷺ bersabda:
كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ، ثَقِيلَتَانِ فِي المِيزَانِ، حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ
“Ada dua kalimat yang ringan di lisan, tetapi berat di timbangan, dan dicintai Ar Rahman (Tuhan Yang Maha Pengasih), yaitu:
سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، سُبْحَانَ اللَّهِ العَظِيمِ
“Maha Suci Allah dan aku memuji-Nya. Maha Suci Allah Yang Maha Agung.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Setelah menyebutkan hadis ini dan hadis tentang kartu yang sudah disebutkan tadi serta ayat yang menyebutkan tentang mizan, Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:
والذي يوزن العمل؛ لظاهر الآية السابقة والحديث بعدها
“Yang ditimbang adalah amalan, berdasarkan lahir ayat tadi dan hadis setelahnya.
وقيل: صحائف العمل، لحديث صاحب البطاقة
Dikatakan bahwa yang ditimbang adalah lembaran catatan amal, berdasarkan hadis kartu.
وقيل: العامل نفسه لحديث أبي هريرة أن النبي -صلى الله عليه وسلم- قال:
Dikatakan bahwa yang ditimbang adalah orang yang beramal itu sendiri, berdasarkan hadis Abu Hurairah bahwa Nabi ﷺ bersabda:
إِنَّهُ لَيَأْتِي الرَّجُلُ العَظِيمُ السَّمِينُ يَوْمَ القِيَامَةِ، لاَ يَزِنُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ
“Sesungguhnya di hari kiamat akan datang seseorang yang berbadan besar dan gemuk, tetapi timbangannya di sisi Allah tidak seberat sayap nyamuk.”
وقال
Beliau ﷺ bersabda:
اقرءوا:
“Bacalah:
{فَلا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنا} [الكهف: 105] متفق عليه
“Kami tidak memberikan penimbangan terhadap (amalan) mereka pada hari kiamat.” (QS. Al-Kahfi: 105)
وجمع بعض العلماء بين هذه النصوص بأن الجميع يوزن أو أن الوزن حقيقة للصحائف، وحيث إنها تثقل وتخف بحسب الأعمال المكتوبة صار الوزن كأنه للأعمال، وأما وزن صاحب العمل فالمراد به قدره وحرمته، وهذا جمع حسن والله أعلم.
Sebagian ulama mengompromikan antara nas-nas tadi yakni bahwa semuanya ditimbang atau yang ditimbang sebenarnya adalah lembaran catatan amal, di mana ia bisa berat dan ringan tergantung pada amal yang tercatat, sehingga yang ditimbang seakan-akan itu adalah amalan. Adapun penimbangan terhadap orang yang mengamalkannya, maksudnya yaitu nilai dan kehormatannya. Dan ini adalah pengompromian yang baik. Allahu a’lam.” (Ta’liq Mukhtashar ‘Alaa Kitab Lum’ah Al-I’tiqad Al-Hadi Ilaa Sabiil Ar-Rasyad)
Kenapa Perlu Timbangan?
Allah berfirman:
ونضع الموازين القسط ليوم القيامة فلا تظلم نفس شيئاً وإن كان مثقال حبة من خردل أتينا بها وكفى بنا حاسبين
“Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tidak seorang pun dirugikan walau sedikit; sekali pun hanya seberat biji sawi, pasti Kami mendatangkannya. Dan cukuplah Kami yang membuat perhitungan.” (QS. Al-Anbiya’: 47)
Seandainya Allah berkehendak, bisa saja Dia tidak menimbang amalan hamba-hamba-Nya dan langsung membalas mereka sesuai dengan amalan mereka. Dan itu bukanlah kezaliman terhadap mereka.
Namun, Allah tidak menghendaki itu. Dia ingin hamba-hamba-Nya mengetahui itu dengan jelas dan nyata, sehingga tidak ada lagi alasan untuk membantah dan menyangkal, sehingga tampaklah keadilan-Nya yang sempurna.
Syekh Saleh Al-Fauzan berkata:
وتكرر ذكر الوزن والميزان في آيات كثيرة، وهذا من عدل الله عز وجل، وأنه لا يظلم أحداً.
“Penyebutan timbangan dan mizan telah berulang-ulang dalam banyak ayat. Dan itu termasuk keadilan Allah dan bahwa Dia tidak menganiaya siapa pun.” (At-Ta’liqat Al-Mukhtasharah ‘Alaa Matn Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah)
Siberut, 13 Rajab 1442
Abu Yahya Adiya






