Akidah pengikut Nabi Musa bertentangan dengan akidah Jahmiyyah.
Siapa pengikut Nabi Musa di sini?
Yakni Ahlussunnah wal Jama’ah.
Allah menyebutkan perkataan Fir’aun dalam Al-Quran:
يَا هَامَانُ ابْنِ لِي صَرْحًا لَعَلِّي أَبْلُغُ الْأَسْبَابَ أَسْبَابَ السَّمَاوَاتِ فَأَطَّلِعَ إِلَى إِلَهِ مُوسَى وَإِنِّي لَأَظُنُّهُ كَاذِبًا
“Hai Haman, buatkanlah untukku sebuah bangunan yang tinggi agar aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku memandangnya sebagai seorang pendusta.” (QS. Al-Mu’min: 36-37)
Lihatlah, agar aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa!
Siapa Tuhannya Nabi Musa?
Tentu saja Allah!
Kalau demikian….
Imam Ath-Thabari (wafat tahun 310 H) menjelaskan ayat tersebut:
وقوله: (وَإِنِّي لأظُنُّهُ كَاذِبًا) يقول: وإني لأظنّ موسى كاذبا فيما يقول ويدّعي من أن له في السماء ربا أرسله إلينا.
“Perkataan Fir’aun, ‘Sesungguhnya aku memandangnya sebagai seorang pendusta’, maksudnya, aku memandang Musa telah berdusta dalam hal perkataannya dan pengakuannya bahwa ia punya Tuhan di atas langit yang telah mengutusnya sebagai rasul kepada kita.” (Jami’ Al-Bayan Fii Tawiil Al-Quran)
Imam Ad-Darimi (wafat tahun 280 H) berkata:
فَفِي هَذِهِ الْآيَةِ بَيَانٌ بَيِّنٌ وَدِلَالَةٌ ظَاهِرَةٌ أَنَّ مُوسَى كَانَ يَدْعُو فِرْعَوْنَ إِلَى مَعْرِفَةِ اللَّهِ بِأَنَّهُ فَوْقَ السَّمَاءِ، فَمِنْ أَجْلِ ذَلِكَ أَمَرَ بِبِنَاءِ الصَّرْحِ، وَرَامَ الِاطِّلَاعَ إِلَيْهِ.
“Dalam ayat ini terdapat keterangan jelas dan dalil yang terang bahwa Musa mengajak Fir’aun untuk mengenal Allah bahwa Dia di atas langit. Karena itulah Fir’aun memerintahkan pembuatan bangunan tinggi dan hendak melihat-Nya.” (Ar-Radd ‘Alaa Al-Jahmiyyah)
Imam Abu Muhammad Al-Juwaini (wafat tahun 438 H) berkata:
وَهَذَا يدل على أَن مُوسَى أخبرهُ بِأَن ربه تَعَالَى فَوق السَّمَاء وَلِهَذَا قَالَ وَإِنِّي لأظنه كَاذِبًا
“Ini menunjukkan bahwa Musa mengabarkan kepada Fir’aun bahwa Tuhannya di atas langit. Karena itu ia berkata, ‘Sesungguhnya aku memandangnya sebagai seorang pendusta.” (Risalah Fii Itsbaat Al-Istiwa wa Al-Fauqiyyah)
Imam Abu ‘Utsman Ash-Shabuni (wafat tahun 449 H) berkata:
وإنما قال ذلك لأنه سمع موسى عليه الصلاة والسلام يذكر أن ربه في السماء
“Fir’aun berkata demikian karena ia mendengar Musa menyebutkan bahwa Tuhannya berada di atas langit.” (‘Aqidah As-Salaf Ashhaab Al-Hadits)
Imam Adz-Dzahabi (wafat tahun 748 H) berkata:
ولو لم يكن موسى عليه السلام يدعوه إلى إله في السماء لما قال هذا؛ إذ لو كان موسى قال له: إن الإله الذي أدعوك إليه، ليس في السماء، لكان هذا القول من فروعون عبثاً، ولكان بناؤه القصر جنوناً
“Kalau Musa tidak mengajak Fir’aun agar beriman kepada Tuhan yang ada di atas langit, tentu Fir’aun tidak akan mengucapkan itu. Karena, kalau Musa berkata kepadanya, ‘Sesungguhnya Tuhan yang kuajak engkau agar beriman kepada-Nya tidak di atas langit’, tentu perkataan Fir’aun tadi sia-sia dan tentu pembuatan bangunan tinggi yang ia perintahkan itu adalah ketidakwarasan.” (Al-‘Arsy)
Maka, jelaslah bahwa Allah itu Maha Tinggi. Dia tinggi di atas langit-Nya, yakni di atas Arsy-Nya. Itulah keyakinan Ahlussunnah wal Jama’ah. Berbeda dengan keyakinan Jahmiyyah.
Ada yang bertanya kepada Imam ‘Abdullah bin Al-Mubarak (wafat tahun 181 H):
كَيْفَ نَعْرِفُ رَبَّنَا؟
“Bagaimana kita mengenal Tuhan kita?”
Beliau menjawab:
فِي السَّمَاءِ السَّابِعَةِ عَلَى عَرْشِهِ….إِنَّا لَا نَقُولُ كَمَا قَالَتِ الْجَهْمِيَّة
“Dia di atas langit ketujuh, yakni di atas Arsy-Nya….sesungguhnya kita tidak berpendapat seperti pendapat Jahmiyyyah.” (Al-Asma wa Ash-Shifaat)
Kenapa beliau tidak sependapat dengan Jahmiyyah?
Karena, Jahmiyyah menolak ketinggian Allah di atas Arsy-Nya. Mereka menolak ratusan ayat dan hadis yang menetapkan ketinggian-Nya di atas seluruh makhluk-Nya. Mereka telah bersikap lancang terhadap-Nya!
Imam Sa’id bin ‘Amir (wafat tahun 208 H) berkata:
الْجَهْمِيَّةُ أَشَرُّ قَوْلًا مِنَ الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى، قَدِ اجْتَمَعَتِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى، وَأَهْلُ الْأَدْيَانِ أَنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى عَلَى الْعَرْشِ، وَقَالُوا هُمْ: لَيْسَ عَلَى الْعَرْشِ شَيْءٌ
“Pendapat Jahmiyyah lebih buruk daripada pendapat kaum Yahudi dan Nashrani. Kaum Yahudi dan Nashrani serta pemeluk agama lainnya telah sepakat bahwa Allah Tabaraka wa Ta’ala di atas Arsy, sedangkan Jahmiyyah berpendapat bahwa tidak ada di atas Arsy sesuatu pun.” (Khalqu Af’aal Al-‘Ibaad)
Kalau demikian buruk pendapat Jahmiyyah, maka pantaskah mereka dianggap pengikut para nabi dan rasul?
Imam Ibnu Abil ‘Izz Al-Hanafi (wafat tahun 792 H) berkata:
فَمَنْ نَفَى الْعُلُوَّ مِنَ الْجَهْمِيَّةِ فَهُوَ فِرْعَوْنِيٌّ، وَمَنْ أَثْبَتَهُ فَهُوَ مُوسَوِيٌّ مُحَمَّدِيٌّ.
“Siapa pun dari kalangan Jahmiyyah yang menolak ketinggian Allah, maka ia adalah pengikut Fir’aun. Dan siapa pun yang menetapkan ketinggian Allah, maka ia adalah pengikut Musa dan Muhammad.” (Syarh Ath-Thahawiyyah)
Siberut, 8 Jumada Ats-Tsaniyah 1444
Abu Yahya Adiya






