Perlukah “Insya Allah” Dalam Hal Iman?

Perlukah “Insya Allah” Dalam Hal Iman?

Kalau ada yang bertanya, “Apakah kamu mukmin?”, maka apa jawaban yang tepat atas pertanyaan itu?

Sebelum menjawab pertanyaan itu, perlu kita ketahui bahwa pertanyaan seperti itu tidak pernah muncul di zaman Nabi ﷺ,  dan tidak pula muncul di zaman para sahabatnya, dan para pengikut mereka.

Yang memunculkan dan memopulerkan pertanyaan itu adalah sekte Murjiah.

Mereka melakukan itu demi menyebarkan keyakinan mereka yang rusak bahwa amalan bukan bagian dari iman.

Karenanya, dulu para ulama salaf mengingkari pertanyaan seperti itu dan menganggapnya sebagai perkara baru dalam agama.

Imam Ahmad pernah ditanya tentang kasus seseorang yang ditanya, “Apakah engkau mukmin?”, maka apa yang harus ia jawab?

Imam Ahmad berkata:

سُؤَالُهُ إِيَّاكَ بِدْعَةٌ

“Pertanyaannya kepadamu adalah bidah!” (As-Sunnah)

Karena itu, Imam Al-Ajurri menyebutkan dalam kitab beliau:

بَابٌ فِيمَنْ كَرِهَ مِنَ الْعُلَمَاءِ لِمَنْ يَسْأَلُ لِغَيْرِهِ، فَيَقُولُ لَهُ: أَنْتَ مُؤْمِنٌ؟ هَذَا عِنْدَهُمْ مُبْتَدِعٌ رَجُلُ سُوءٍ

“Bab tentang para ulama yang membenci orang yang bertanya kepada selainnya dengan berkata, ‘Engkau seorang mukmin?’. Orang tersebut menurut mereka adalah pelaku bidah dan buruk.”  (Asy-Syari’ah)

Namun, apa yang mesti diucapkan seorang muslim tatkala mendapatkan pertanyaan seperti itu?

Apakah boleh ia menjawab dengan, “Ya, aku mukmin, insya Allah”?

Atau itu diwajibkan?

Atau itu malah diharamkan?

 

Pendapat Ahlussunnah wal Jama’ah

Adapun golongan yang selamat, Ahlussunnah wal Jama’ah, mereka berpendapat bolehnya seorang muslim mengucapkan: “Aku mukmin, insya Allah.”

Dalam kasus Imam Ahmad tadi, setelah beliau memvonis bahwa pertanyaan “Apakah engkau mukmin” adalah bidah, setelah itu Imam Ahmad memberi saran kepada orang yang ditanya:

 يَقُولُ: إِنْ شَاءَ اللَّهُ

“Hendaknya ia berkata, ‘Insya Allah.” (As-Sunnah)

Ada seseorang yang bertanya kepada ‘Alqamah:

أَمُؤْمِنٌ أَنْتَ؟

“Apakah mukmin dirimu?”

Maka ‘Alqamah menjawab:

أَرْجُو إِنْ شَاءَ اللَّهُ

“Aku berharap itu insya Allah.” (Al-Iman lil Qasim bin Salam)

Al-Walid bin Muslim berkata:

سَمِعْتُ أَبَا عَمْرٍو يَعْنِي الْأَوْزَاعِيَّ، وَمَالِكُ بْنُ أَنَسٍ، وَسَعِيدُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ، يُنْكِرُونَ أَنْ يَقُولَ: «أَنَا مُؤْمِنٌ، وَيَأْذَنُونَ، فِي الِاسْتِثْنَاءِ أَنْ أَقُولَ، أَنَا مُؤْمِنٌ، إِنْ شَاءَ اللَّهُ»

“Aku mendengar Abu ‘Amru yakni Al-Auza’i, Malik bin Anas, Sa’id bin ‘Abdul ‘Aziz mengingkari perkataan ‘Aku mukmin’, dan mengizinkan untuk mengucapkan insya Allah yaitu mengatakan, ‘Aku mukmin, insya Allah.” (As-Sunnah)

Syekhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:

وَالْمَأْثُورُ عَنْ الصَّحَابَةِ وَأَئِمَّةِ التَّابِعِينَ وَجُمْهُورِ السَّلَفِ وَهُوَ مَذْهَبُ أَهْلِ الْحَدِيثِ وَهُوَ الْمَنْسُوبُ إلَى أَهْلِ السُّنَّةِ أَنَّ الْإِيمَانَ قَوْلٌ وَعَمَلٌ يَزِيدُ وَيَنْقُصُ يَزِيدُ بِالطَّاعَةِ وَيَنْقُصُ بِالْمَعْصِيَةِ وَأَنَّهُ يَجُوزُ الِاسْتِثْنَاءُ فِيهِ

“Yang diriwayatkan dari para sahabat, para imam tabiin, dan mayoritas salaf dan itu adalah pendapat ahli hadis dan yang dinisbatkan kepada Ahlussunnah yakni bahwa iman adalah perkataan dan perbuatan, bisa bertambah dan berkurang. Bertambah karena ketaatan, dan berkurang karena kemaksiatan. Dan boleh mengucapkan insya Allah dalam hal iman.” (Majmu’ Al-Fatawa)

Apa dasar Ahlussunnah membolehkan ucapan demikian?

Iman adalah keyakinan dalam hati dan pengakuan dengan lisan serta pengamalan dengan anggota badan. Dan mukmin adalah orang yang mewujudkan semua itu. Artinya ia bisa melaksanakan semua bagian dari agama dengan sempurna.

Namun, apakah ada orang yang berani menyatakan dirinya bisa mewujudkan itu dengan sempurna?!

Karena itu, Al-Khalil bin Ahmad An-Nahwi berkata:

إِذَا قُلْتَ: أَنَا مُؤْمِنٌ فَأَيُّ شَيْءٍ بَقِيَ؟

“Jika engkau mengatakan, ‘Aku mukmin’, maka apalagi yang tersisa?!” (Syarh Ushul I’tiqad Ahli As-Sunnah wa Al-Jama’ah)

Allah telah mengingatkan:

فلا تزكوا أنفسكم هو أعلم بمن اتقى

“Maka janganlah kalian menganggap diri kalian suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32)

Kalau seseorang cuma mengatakan “Aku mukmin”, tanpa disertai “insya Allah”, seakan-akan ia memuji dirinya sendiri dan menganggap dirinya sempurna. Makanya, untuk menghilangkan kesan demikian, seseorang diperbolehkan mengucapkan, “Aku mukmin, insya Allah.”

 

Pendapat Kullabiyyah dan Asy’ariyyah

Sekte Kullabiyyah dan Asy’ariyyah berpendapat wajibnya seorang muslim mengucapkan, “Aku mukmin, insya Allah.”

Mengapa itu wajib menurut mereka?

Sebab, seseorang apakah mukmin atau tidak di sisi Allah hanya bisa diketahui ketika ia sudah mati, bukan ketika masih hidup.

Sedangkan keadaan akhir hidup manusia itu perkara gaib yang tidak diketahui oleh siapa pun kecuali Dia.

Karena itu, tidak boleh seseorang-menurut mereka-memastikan dirinya mukmin. Makanya, ia harus berkata, “Aku mukmin, insya Allah.” (Lihat: Al-Irsyad hal. 336)

 

Bantahan Terhadap Mereka

Pendapat mereka itu berkonsekuensi bahwa seorang muslim harus juga mengucapkan, “Aku tidak kafir, insya Allah”. Sebab, tidak seorang pun tahu apakah dirinya akan mati dalam keadaan kafir atau tidak.

Namun, nyatanya itu tidak mereka lakukan. Karena itu, alasan mereka tidak bisa diterima dan itu juga tidak pernah diungkapkan oleh salaf.

Imam Ibnu Abil ‘Izz Al-Hanafi berkata:

وَلَيْسَ هَذَا قَوْلَ السَّلَفِ، وَلَا كَانَ يُعَلِّلُ بِهَذَا مَنْ يَسْتَثْنِي مِنَ السَّلَفِ فِي إِيمَانِه

“Itu bukan pendapat salaf. Dan salaf yang mengucapkan insya Allah dalam hal keimanannya juga tidak beralasan dengan itu.” (Syarh Ath-Thahawiyyah)

 

Pendapat Jahmiyyah, Murjiah, dan Maturidiyyah

Berbeda 180 derajat dengan sekte Kullabiyyah dan Asy’ariyyah yang mewajibkan pengucapan insya Allah dalam hal iman, sekte Jahmiyyah, Murjiah dan Maturidiyyah justru berpendapat terlarangnya seorang muslim mengucapkan, “Aku mukmin, insya Allah.” (Lihat Al-Iman hal 334 dan At-Tauhid hal. 388)

Mengapa itu terlarang menurut mereka?

Sebab, iman-menurut mereka-adalah keyakinan. Sedangkan perkataan “insya Allah” itu menunjukkan keraguan. Sementara keraguan dalam keyakinan sama saja dengan kekafiran!

Karena itu, mereka melarang ucapan itu. Bahkan, di antara mereka ada yang berkata:

مَنْ قَالَ أَنَا مُؤْمِنٌ إنْ شَاءَ اللَّهُ فَهُوَ كَافِرٌ لَا تَجُوزُ الْمُنَاكَحَةُ مَعَهُ

“Siapa yang berkata, ‘Aku adalah mukmin insya Allah’, maka ia kafir. Tidak boleh ia dinikahkan dengan wanita muslimah!” (Al-Bahr Ar-Raiq Syarh Kanz Ad-Daqaiq)

 

Bantahan Terhadap Mereka

Banyak ayat dan hadis yang menunjukkan bahwa iman itu bukan cuma keyakinan, melainkan juga ucapan dengan lisan dan perbuatan anggota badan.

Kalaupun iman-kita anggap-hanya keyakinan, maka ucapan: “Aku mukmin, insya Allah” tidak mesti menunjukkan keraguan.

Allah berfirman:

لَقَدْ صَدَقَ اللَّهُ رَسُولَهُ الرُّؤْيَا بِالْحَقِّ لَتَدْخُلُنَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ آمِنِينَ مُحَلِّقِينَ رُءُوسَكُمْ وَمُقَصِّرِينَ لا تَخَافُونَ

“Sungguh, Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya bahwa kalian pasti akan memasuki Masjidil haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan menggunduli rambut kepala dan memendekkannya, sedang kalian tidak merasa takut.” (QS. Al-Fath: 27)

Lihatlah, insya Allah dalam keadaan aman! Apakah mungkin Allah ragu akan janji-Nya?!

Begitu juga dalam doa ketika ziarah kubur yang diajarkan oleh Nabi ﷺ kepada para sahabatnya:

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لَاحِقُونَ….

“Semoga kesejahteraan atas kalian wahai penghuni kubur dari kaum mukminin dan muslimin. Sesungguhnya kami insya Allah akan menyusul kalian…” (HR. Muslim)

Lihatlah, kami insya Allah akan menyusul kalian! Apakah mungkin Nabi ﷺ ragu bahwa orang yang hidup akan mati?!

Itu menunjukkan bahwa kata “Insya Allah” tidak mesti menunjukkan keraguan.

Dengan ini terbantahlah argumen ahli bidah dari kalangan sekte Jahmiyyah, Murjiah, dan Maturidiyyah.

 

Siberut, 21 Muharram 1443

Abu Yahya Adiya