Permasalahan Seputar Jihad (Bag. 4)

Permasalahan Seputar Jihad (Bag. 4)

 

  1. Tidak boleh menggelapkan rampasan perang

Allah berfirman:

وَمَن يَغْلُلْ يَأْتِ بِمَا غَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Siapa yang berkhianat, maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu.” (QS. Ali-’Imran: 161)

Nabi ﷺ bersabda:

اغْزُوا وَلَا تَغُلُّوا

“Seranglah dan jangan kalian menggelapkan rampasan perang!” (HR. Muslim)

’Abdullāh bin ’Amru berkata:

كَانَ عَلَى ثَقَلِ النَّبِيِّ ﷺ رَجُلٌ يُقَالُ لَهُ كِرْكِرَةُ فَمَاتَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ

“Ada seseorang bernama Kirkirah yang ditugaskan Nabi ﷺ menjaga barang bawaan kemudian dia meninggal dunia. Lalu Rasulullah ﷺ berkata:

هُوَ فِي النَّارِ

“Dia di neraka.”

فَذَهَبُوا يَنْظُرُونَ إِلَيْهِ فَوَجَدُوا عَبَاءَةً قَدْ غَلَّهَا

Maka orang-orang pergi untuk menengoknya, lalu ternyata mereka temukan ada kain yang ia curi.” (HR. Bukhārī)

Syekh Faiṣal Al-Mubārak berkata:

في هذا الحديث: تحريم الغلول قليله وكثيره، وهو من الكبائر بالإجماع

“Dalam hadis ini terdapat pengharaman penggelapan rampasan perang, baik sedikit maupun banyak, dan itu termasuk dosa besar berdasarkan kesepakatan para ulama.” (Taṭrīz Riyāḍ Aṣ-Ṣāliḥīn)

Imam Aż-Żahabī berkata:

‌‌الْكَبِيرَة الثَّانِيَة وَالْعشْرُونَ الْغلُول من الْغَنِيمَة

“Dosa besar yang kedua puluh dua, yaitu menggelapkan rampasan perang.” (Al-Kabā‘ir)

 

  1. Tidak boleh memanfaatkan rampasan perang sebelum dibagikan, kecuali makanan dan pakan.

Nabi ﷺ bersabda:

وَلَا يَحِلُّ لِامْرِئٍ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ أَنْ يَبِيعَ مَغْنَمًا حَتَّى يُقْسَمَ

“Tidaklah halal bagi orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir untuk menjual harta rampasan perang hingga harta tersebut dibagikan.” (HR. Abū Dāwūd)

Al-Muẓhirī menjelaskan:

يعني: لا يحلُّ لرجلٍ يؤمن بالله والبعث بعد الموت….وأن يبيعَ شيئًا من الغنيمة أو يَهبَه قبل القِسمة، أمَّا المطعومُ فيَحلُّ له أكلُه قبلَ القِسمة.

“Yakni tidak halal bagi orang yang beriman kepada Allah dan hari kebangkitan setelah kematian…untuk menjual atau menghadiahkan sesuatu dari harta rampasan perang sebelum dibagikan. Adapun makanan, maka itu dibolehkan memakannya sebelum pembagian rampasan perang.” (Al-Mafātīḥ fī Syarḥ Al-Maṣābīḥ)

Adapun pernyataan Al-Muẓhirī bahwa diperbolehkan makanan yang didapatkan dari musuh sebelum pembagian rampasan perang, maka itu berdasarkan hadis ’Abdullāh bin Mugaffal. Ia berkata:

أَصَبْتُ جِرَابًا مِنْ شَحْمٍ يَوْمَ خَيْبَرَ قَالَ فَالْتَزَمْتُهُ فَقُلْتُ

“Aku mendapatkan sekantong lemak ketika penaklukan Khaibar. Kemudian aku mengambilnya lalu kukatakan:

لَا أُعْطِي الْيَوْمَ أَحَدًا مِنْ هَذَا شَيْئًا

“Hari ini aku tidak akan memberikannya kepada seorang pun.”

’Abdullāh berkata:

فَالْتَفَتُّ فَإِذَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مُتَبَسِّمًا

“Kemudian aku menoleh, ternyata Rasulullah ﷺ tersenyum.” (HR. Muslim)

Seandainya memakan makanan tersebut diharamkan, tentu Rasulullah ﷺ akan menegurnya dan tidak tersenyum.

Ibnu ‘Umar berkata:

كُنَّا نُصِيبُ فِي مَغَازِينَا الْعَسَلَ وَالْعِنَبَ فَنَأْكُلُهُ وَلَا نَرْفَعُهُ

“Dalam beberapa peperangan yang kami ikuti, kami pernah mendapatkan madu dan anggur lalu kami memakannya dan tidak melaporkannya.” (HR. Bukhārī)

Ibnu Baṭṭāl berkata:

هو كالإجماع من الصحابة

“Perbuatannya seperti kesepakatan para sahabat Nabi akan bolehnya demikian.” (Syarḥ Ṣaḥīḥ Al-Bukhārī)

Beliau juga berkata:

جمهور العلماء متفقون على أنه لا بأس بأكل الطعام والعلف فى دار الحرب بغير إذن الإمام، ولا بأس بذبح الإبل والبقر والغنم قبل أن يقع فى المقاسم. هذا قول مالك والكوفيين والليث والأوزاعى والشافعى وأحمد. قال مالك:

“Mayoritas ulama sepakat akan bolehnya memakan makanan dan pakan di negeri perang tanpa izin pemimpin. Dan tidak mengapa menyembelih unta, sapi, dan kambing sebelum pembagian rampasan perang. Ini adalah pendapat Mālik dan para ulama Kufah, Al-Laiṡ, Al-Auzā’ī, Asy-Syāfi’ī, dan Aḥmad. Mālik berkata:

ولو أن ذلك لا يؤكل حتى يقسم فيهم أضر ذلك بهم.

“Seandainya yang demikian tidak boleh dimakan sampai dibagikan di antara mereka, tentu itu akan membahayakan mereka.”

قال:

Malik juga berkata:

وإنما يأكلون ذلك على وجه المعروف والحاجة، ولا يدخر أحد منهم شيئًا يرجع به إلى أهله،

“Mereka memakannya hanya dengan cara yang baik dan karena membutuhkannya, dan tidak boleh seorang pun dari mereka menyimpan sedikit pun itu untuk dibawa ke keluarganya.” (Syarḥ Ṣaḥīḥ Al-Bukhārī)

 

(bersambung

 

Siberut, 28 Rabī’ul Ṡāni 1447

Abu Yahya Adiya