Prasangka Mukminin vs Prasangka Munafikin

Prasangka Mukminin vs Prasangka Munafikin

Kaum muslimin akan kalah dan Islam akan musnah. Itulah prasangka orang-orang munafik setelah kaum muslimin mengalami kekalahan dalam perang Uhud.

Allah menceritakan demikian dalam Al-Quran:

يَظُنُّونَ بِاللَّهِ غَيْرَ الْحَقِّ ظَنَّ الْجَاهِلِيَّةِ يَقُولُونَ هَلْ لَنَا مِنَ الْأَمْرِ مِنْ شَيْءٍ قُلْ إِنَّ الْأَمْرَ كُلَّهُ لِلَّهِ

“Mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliah. Mereka berkata, ‘Adakah sesuatu yang dapat kita perbuat dalam urusan ini?’ Katakanlah, ‘Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah.” (QS. Ali-Imran: 154)

Apa maksud menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliah?

Imam Ibnul Qoyyim menerangkan:

فُسِّر هذا الظن بأنه سبحانه لا ينصر رسوله، وأن أمره سيضمحِلّ

“Prasangka yang tidak benar ini maksudnya bahwa Allah Subhanahu tidak akan menolong Rasul-Nya, dan bahwa agama-Nya akan lenyap.

وفسر بأن ما أصابه لم يكن بقدر الله وحكمته

Dan maksudnya pula bahwa apa yang menimpa beliau bukan berdasarkan takdir Allah dan kebijaksanaan-Nya.

ففُسِّر

Maka, prasangka di sini maksudnya:

بإنكار الحكمة

Mengingkari kebijaksanaan-Nya.

وإنكار القدر

Mengingkari takdir-Nya.

وإنكار أن يتم أمر رسوله وأن يظهره الله على الدين كله

Mengingkari bahwa agama yang dibawa Rasul-Nya akan sempurna dan dimenangkan Allah atas semua agama.

وهذا هو ظن السوء الذي ظنه المنافقون والمشركون في سورة الفتح

Itulah prasangka buruk yang disangka oleh orang-orang munafik dan orang-orang musyrik yang disebutkan dalam surat Al Fath.” (Zaad Al-Ma’ad Fii Hadyi Khair Al-‘Ibaad)

Ya, itulah prasangka orang-orang munafik dan musyrik.

Mereka menyangka bahwa Allah tidak akan menolong Rasul-Nya dan agama-Nya.

Mereka menyangka bahwa umat Islam akan kalah dan Islam akan musnah.

Mereka telah berprasangka tidak baik kepada Tuhan Yang Maha Mulia lagi Maha Baik.

Mengapa sangkaan seperti itu adalah sangkaan buruk dan tidak baik?

Imam Ibnu Qoyyim menerangkan:

وإنما كان هذا ظن السوء؛ لأنه ظن غير ما يليق به سبحانه وما يليق بحكمته وحمده ووعده الصادق

“Itu merupakan prasangka buruk, karena itu prasangka yang tidak layak bagi Allah, tidak tidak sesuai dengan kebijaksanaan-Nya, sifat terpuji-Nya, dan janji-Nya yang benar.” (Zaad Al-Ma’ad Fii Hadyi Khair Al-‘Ibaad)

Ya, bagaimana mungkin Allah menelantarkan rasul-Nya dan para pembela agama-Nya?

Bagaimana mungkin Allah membiarkan agama-Nya lenyap di tangan musuh-Nya?

Bagaimana mungkin Allah membiarkan kebenaran lenyap ditelan kebatilan selama-lamanya?

Apakah itu patut dengan kebijaksanaan-Nya, kemuliaan-Nya, dan keperkasaan-Nya?

Tentu saja tidak. Makanya Imam Ibnul Qayyim berkata lagi:

فمن ظن أنه يُديل الباطل على الحق إدالة مستقرّة يضمحلّ معها الحق، أو أنكر أن يكون ما جرى بقضائه وقدره، أو أنكر أن يكون قدَّرَه بحكمة بالغة يستحق عليها الحمد، بل زعم أن ذلك لمشيئة مجردة، فـ ذَلِكَ ظَنُّ الَّذِينَ كَفَرُوا فَوَيْلٌ لِّلَّذِينَ كَفَرُوا مِنَ النَّارِ

“Karena itu, siapa yang berprasangka bahwa Allah akan memenangkan kebatilan di atas kebenaran, sehingga selalu unggullah kebatilan lalu lenyaplah kebenaran, atau menyangka bahwa apa yang terjadi ini bukan karena keputusan dan takdir-Nya, atau menyangka bahwa apa yang Dia takdirkan tanpa ada hikmah yang agung sehingga karenanya Dia berhak untuk dipuji, bahkan ia beranggapan bahwa yang terjadi adalah semata-mata kehendak-Nya tanpa ada hikmahnya, maka itulah prasangka orang-orang kafir. Maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka.” (Zaad Al-Ma’ad Fii Hadyi Khair Al-‘Ibaad)

Ya, itu semua prasangka orang-orang yang ingkar kepada Allah, lantas bagaimana prasangka orang-orang yang beriman kepada Allah?

 

Buah Perjanjian Hudaibiyah

Merugikan dan merendahkan. Itulah anggapan sebagian orang terhadap Perjanjian Hudaibiyah.

Sebab, di antara nota perjanjian yang disepakati Rasulullah ﷺ dan musyrikin Quraisy itu adalah siapa saja di antara kaum muslimin di Madinah yang murtad dan pergi ke Mekah, maka ia tidak boleh dikembalikan ke Madinah.

Sedangkan siapa saja di antara kaum muslimin di Mekah yang pergi ke Madinah, maka ia harus dikembalikan ke Mekah.

Perjanjian itu dianggap tidak menguntungkan kaum muslimin, malah merugikan dan merendahkan mereka.

Namun, mereka sadar bahwa keputusan beliau bukanlah berdasarkan hawa nafsu, melainkan berdasarkan wahyu.

Karena itu, mereka pun menyambutnya dan mengokohkan diri mereka untuk menerimanya. Mereka berprasangka baik kepada Allah dan Rasul-Nya. Lantas apa hasilnya?

Turunlah kabar gembira dari-Nya. Allah menurunkan firman-Nya:

إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata.” (QS. Al Fath: 1)

Ya, kemenangan yang nyata.

Sebab, setelah turunnya surat ini, Allah memberikan karunia dan rezeki kepada kaum muslimin dengan jatuhnya kota Mekah ke tangan mereka dalam suatu peristiwa yang dinamakan Fathu Makkah (penaklukkan kota Mekah). Allahu akbar!

Maka, sebesar apa pun masalah yang menghadangmu, tetaplah berprasangka baik kepada-Nya.

Separah apa pun musibah yang menimpa dirimu, tetaplah berprasangka baik kepada-Nya. Sebab….

Tuhanmu itu sesuai dengan prasangka dirimu kepada-Nya.

Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ اللهَ يَقُولُ:

“Sesungguhnya Allah berfirman:

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ إِذَا دَعَانِي

“Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku. Dan Aku bersamanya jika ia berdoa kepada-Ku.” (HR. Muslim)

 

Siberut, 25 Rabi’ul Tsani 1442

Abu Yahya Adiya