Suatu hari, ‘Ubadah bin Ash-Shamit mengalami sakit parah. Saking parahnya sakit yang ia derita sampai-sampai putranya menganggap bahwa dirinya akan meninggal dunia.
Putranya berkata:
يا أبتاه, أوصني واجتهد لي
“Wahai ayah, berilah aku nasihat dan bersungguh-sungguhlah untukku.”
Maka ‘Ubadah pun berkata:
إِنَّكَ لَنْ تَجِدَ طَعْمَ حَقِيقَةِ الْإِيمَانِ حَتَّى تَعْلَمَ أَنَّ مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ، وَمَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ، سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ:
“Hai anakku, sungguh, engkau tidak akan bisa merasakan iman yang sebenarnya sampai engkau meyakini bahwa apa yang ditakdirkan menimpa dirimu pasti tidak akan meleset darimu, dan apa yang ditakdirkan tidak menimpa dirimu pasti tidak akan menimpamu. Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللَّهُ الْقَلَمَ، فَقَالَ لَهُ:
“Sesungguhnya yang pertama kali Allah ciptakan adalah pena. Allah berfirman kepadanya:
اكْتُبْ
“Tulislah!”
قَالَ:
Kemudian pena berkata:
رَبِّ وَمَاذَا أَكْتُبُ؟
“Hai Tuhanku, apa yang harus kutulis?”
قَالَ:
Dia berfirman:
اكْتُبْ مَقَادِيرَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُ
“Tulislah takdir segala sesuatu hingga hari kiamat!”
Lalu kata ‘Ubadah:
يَا بُنَيَّ إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ:
“Wahai anakku, sesungguhnya aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ مَاتَ عَلَى غَيْرِ هَذَا فَلَيْسَ مِنِّي
“Siapa yang mati dalam keadaan tidak meyakini ini, maka ia bukan termasuk golonganku.” (HR. Abu Daud)
Ya, bukan termasuk golonganku. Artinya, bukan termasuk umatku.
Siapa yang mati dalam keadaan mengingkari takdir Allah, berarti ia bukan termasuk umat Muhammad.
Siapa yang mati dalam keadaan tidak meyakini bahwa segala sesuatu telah Allah ketahui dan Dia tetapkan, berarti ia bukan termasuk umat Muhammad. Bukan termasuk umat Islam.
Ia bukan muslim, walaupun ia mengaku sebagai muslim.
Ia bukan pemeluk agama Islam, walaupun ia mengaku memeluk agama Islam.
Makanya sebanyak apa pun amalan yang ia lakukan, Allah akan menolaknya dan tidak akan menerimanya, sampai ia beriman kepada takdir-Nya yang baik maupun yang buruk.
Pengingkaran Ibnu ‘Umar
Ibnu ‘Umar terkejut. Yahya bin Ma’mar mengabarkan kepadanya bahwa ada orang-orang di Bashrah yang mengingkari takdir. Mereka tidak meyakini takdir Allah. Mereka tidak yakin bahwa segala sesuatu telah Allah takdirkan.
Ibnu ‘Umar pun berkata:
فَإِذَا لَقِيتَ أُولَئِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنِّي بَرِيءٌ مِنْهُمْ، وَأَنَّهُمْ بُرَآءُ مِنِّي
“Kalau engkau bertemu dengan mereka, maka kabarkanlah kepada mereka bahwa aku berlepas diri dari mereka, dan mereka pun berlepas diri dariku.
وَالَّذِي يَحْلِفُ بِهِ عَبْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ لَوْ أَنَّ لِأَحَدِهِمْ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا، فَأَنْفَقَهُ مَا قَبِلَ اللهُ مِنْهُ حَتَّى يُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ
Demi Zat yang ‘Abdullah bin ‘Umar bersumpah dengan nama-Nya, seandainya salah seorang dari mereka memiliki emas sebesar bukit Uhud, lalu ia infakkan, niscaya Allah tidak akan menerimanya, sampai ia beriman kepada takdir.”
Lalu Ibnu ‘Umar menyebutkan hadis Nabi:
أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ، وَمَلَائِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ، وَرُسُلِهِ، وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ
“Iman yaitu hendaklah engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari akhir, serta engkau beriman kepada takdir yang baik dan buruk.” (HR. Muslim)
Karena itu, kita wajib beriman kepada takdir Allah yang baik maupun yang buruk.
Kita harus yakin bahwa segala kebaikan yang kita rasakan adalah takdir Allah. Ketetapan dari Allah.
Kita bisa kaya itu adalah ketetapan dari Allah. Kita bisa naik pangkat itu adalah ketetapan dari Allah. Kita bisa sehat itu adalah ketetapan dari Allah.
Begitu juga, kita harus yakin bahwa segala keburukan yang kita rasakan adalah takdir Allah. Ketetapan dari Allah.
Kita bisa miskin itu adalah ketetapan dari Allah. Kita bisa sakit itu adalah ketetapan dari Allah. Kita bisa terkena bencana itu adalah ketetapan dari Allah.
Kita harus yakin bahwa segala kebaikan maupun keburukan yang kita rasakan adalah takdir Allah. Ketetapan dari Allah.
Kalau kita tidak meyakini itu, maka ketahuilah, kesengsaraan akan menghampiri kita!
Nabi ﷺ bersabda:
إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللهُ الْقَلَمُ، ثُمَّ قَالَ: اكْتُبْ فَجَرَى فِي تِلْكَ السَّاعَةِ بِمَا هُوَ كَائِنٌ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ
“Sesungguhnya makhluk yang pertama kali Allah ciptakan adalah pena, kemudian Allah berfirman kepadanya, ‘Tulislah!’, maka ditulislah apa yang terjadi sampai hari kiamat.”
Setelah menyampaikan hadis ini, ‘Ubadah berkata kepada putranya:
يَا بُنَيَّ إِنْ مِتَّ وَلَسْتَ عَلَى ذَلِكَ دَخَلْتَ النَّارَ
“Putraku, jika engkau mati sementara engkau tidak meyakini itu, berarti engkau akan masuk neraka!” (HR. Ahmad)
Ya, akan masuk neraka. Akan sengsara di neraka.
Nabi ﷺ bersabda:
فَمَنْ لَمْ يُؤْمِنْ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ أَحْرَقَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِالنَّارِ
“Karena itu, siapa yang tidak beriman kepada takdir-Nya yang baik maupun yang buruk, maka Allah pasti membakarnya dengan api neraka.” (Al-Qadr karya Ibnu Wahb)
Adakah kesengsaraan yang lebih besar daripada kesengsaraan karena dibakar di neraka?
Separah Apa pun Dirimu, Dia Tidak Menzalimimu
Segala kebaikan yang kita rasakan adalah takdir Allah. Ketetapan dari Allah.
Segala keburukan yang kita rasakan adalah takdir Allah. Ketetapan dari Allah.
Itu harus kita imani. Itu mesti kita yakini. Namun….
Ketika Allah menetapkan keburukan terhadap kita, bukan berarti Allah bersikap zalim kepada kita. Maha Suci Allah dari sifat kezaliman dan aniaya.
Ketika Allah menetapkan berbagai keburukan terjadi pada kita, itu pasti ada hikmahnya. Dan pasti ada sebabnya.
Apa hikmahnya? Dan apa sebabnya?
Allah berfirman:
وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ
“Dan musibah apa pun yang menimpa kalian adalah karena perbuatan tangan kalian sendiri.” (QS. Asy-Syuuraa: 30)
Ya, karena ulah kalian. Karena dosa dan kesalahan kalian!
Allah berfirman:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali.” (QS. Ar-Ruum: 41)
Ya, agar mereka kembali. Agar kita kembali. Kembali kepada Allah. Yaitu bertaubat kepada-Nya dari segala dosa dan kemaksiatan kepada-Nya.
Karena itu, ingatlah….
Allah memberimu penyakit agar engkau sadar dan bertobat.
Allah memberimu bencana agar engkau sadar dan bertobat.
Allah menyempitkan rezekimu dan hartamu agar engkau sadar dan bertobat.
Maka sadarlah. Bertobatlah. Dan terimalah ketetapan Tuhanmu dengan lapang dada!
Siberut, 28 Rabi’ul Tsani 1442
Abu Yahya Adiya






