Seputar Penguburan Jenazah (Bag. 2)

Seputar Penguburan Jenazah (Bag. 2)

 

  1. Bagaimana menempatkan mayat di dalam kubur?

Imam Ibnu Hazm berkata:

وَيُجْعَلُ الْمَيِّتُ فِي قَبْرِهِ عَلَى جَنْبِهِ الْيَمِينِ، وَوَجْهُهُ قُبَالَةَ الْقِبْلَةِ، وَرَأْسُهُ وَرِجْلَاهُ إلَى يَمِينِ الْقِبْلَةِ، وَيَسَارِهَا، عَلَى هَذَا جَرَى عَمَلُ أَهْلِ الْإِسْلَامِ مِنْ عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ إلَى يَوْمِنَا هَذَا، وَهَكَذَا كُلُّ مَقْبَرَةٍ عَلَى ظَهْرِ الْأَرْضِ

“Mayit diletakkan di kuburnya di atas bagian kanan tubuhnya, sedangkan wajahnya menghadap kiblat, sementara kepala dan kedua kakinya ada di kiri dan kanan kiblat. Inilah yang dipraktekkan umat Islam sejak zaman Rasulullah ﷺ sampai hari ini. Dan demikian pula seluruh kuburan yang ada di muka bumi.” (Al-Muhalla)

  1. Apa doa ketika meletakkan mayat di dalam kubur?

Nabi ﷺ jika meletakkan mayit di kubur, beliau mengucapkan:

بِسْمِ اللَّهِ وَعَلَى سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ

“Dengan nama Allah dan di atas sunnah Rasulullah ﷺ.” (HR. Abu Daud)

  1. Apakah ikatan kafan mayit dibuka ketika telah diletakkan di kubur?

‘Abdullah, putra Imam Ahmad bin Hanbal berkata:

مَاتَ أَخٌ لي صَغِير فَلَمَّا وَضعته فِي الْقَبْر وأَبي قَائِمٌ على شَفير الْبِئْر قَالَ لي يَا عبدَ اللهِ حل العقد فحللتها

“Saudara kecilku meninggal dunia. Tatkala kuletakkan ia di kubur, sementara ayahku berdiri di samping sumur, ayahku berkata kepadaku, “Wahai ‘Abdullah, bukalah ikatannya!”, maka aku pun membuka ikatannya.” (Masail Ahmad bin Hanbal)

  1. Bagi yang menghadiri penguburan jenazah dianjurkan menaburkan tanah 3 kali ke kubur.

Salamah bin Kultsum berkata:

حَدَّثَنَا الْأَوْزَاعِيُّ، عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ صَلَّى عَلَى جِنَازَةٍ، ثُمَّ أَتَى قَبْرَ الْمَيِّتِ، فَحَثَى عَلَيْهِ مِنْ قِبَلِ رَأْسِهِ ثَلَاثًا

“Al-Auza’i menceritakan kepada kami dari Yahya bin Abi Katsir dari Abu Salamah dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah ﷺ menyalatkan jenazah lalu mendatangi kubur mayit kemudian menabur tanah di arah kepala mayit sebanyak 3 kali.” (HR. Ibnu Majah)

  1. Kubur tidak ditinggikan melebihi sejengkal tangan.

Jabir bin ‘Abdillah mengabarkan:

وَرُفِعَ قَبْرُهُ مِنَ الْأَرْضِ نَحْوًا مِنْ شِبْرٍ

“Kubur Nabi ﷺ ditinggikan sekitar sejengkal dari permukaan tanah.” (HR. Ibnu Hibban)

Adapun kubur jika ditinggikan lebih dari itu, maka itu terlarang.

Nabi ﷺ bersabda kepada ‘Ali bin Abu Thalib:

أَنْ لَا تَدَعَ تِمْثَالًا إِلَّا طَمَسْتَهُ وَلَا قَبْرًا مُشْرِفًا إِلَّا سَوَّيْتَهُ

“Janganlah engkau meninggalkan patung kecuali engkau hancurkan dan jangan pula engkau meninggalkan kubur yang meninggi kecuali engkau ratakan. “(HR. Muslim)

  1. Tidak boleh membuat bangunan di atas kubur atau menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah.

Jabir bin ‘Abdillah berkata:

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ

“Rasulullah ﷺ melarang mengapuri kubur, duduk di atasnya, dan membuat bangunan di atasnya.” (HR. Muslim)

Imam Asy-Syafi’i berkata:

وَرَأَيْتُ الْأَئِمَّةَ بِمَكَّةَ يَأْمُرُونَ بِهَدْمِ مَا يُبْنَى

“Aku melihat para ulama di Mekah menyuruh menghancurkan apa yang dibangun di atas kubur.” (Al-Minhaaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj)

Nabi ﷺ bersabda:

لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى اليَهُودِ وَالنَّصَارَى، اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

“Laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani, mereka menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai tempat peribadatan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

  1. Disyariatkan ziarah kubur.

Nabi ﷺ bersabda:

فَزُورُوا الْقُبُورَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الْمَوْتَ

“Ziarahilah kubur, karena sesungguhnya itu akan mengingatkan tentang kematian.” (HR. Muslim)

Ziarah kubur diperbolehkan dan disyariatkan, tapi dengan syarat: “sesungguhnya itu akan mengingatkan tentang kematian.”

Ya, untuk mengambil pelajaran. Bukan untuk mencari berkah atau hoki di kuburan!

  1. Apakah wanita boleh berziarah kubur?

Aisyah bertanya kepada Nabi ﷺ tentang doa ketika menziarahi kubur:

كَيْفَ أَقُولُ لَهُمْ يَا رَسُولَ اللهِ؟

“Bagaimana ucapanku untuk mereka wahai Rasulullah?”

Beliau ﷺ menjawab:

قُولِي:

“Ucapkanlah:

السَّلَامُ عَلَى أَهْلِ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَيَرْحَمُ اللهُ الْمُسْتَقْدِمِينَ مِنَّا وَالْمُسْتَأْخِرِينَ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لَلَاحِقُونَ

“Semoga keselamatan tercurah pada penghuni kubur dari golongan mukminin dan muslimin. Semoga Allah memberikan rahmat kepada orang-orang yang telah mendahului kami dan orang-orang yang belakangan. Dan sesungguhnya kami-insya Allah-akan menyusul kalian.” (HR. Muslim)

Hadis ini menunjukkan bolehnya wanita berziarah kubur.

Sebab, tatkala ‘Aisyah berkata, “Bagaimana ucapanku untuk mereka?”, Nabi ﷺ mengajarkan kepada ‘Aisyah doa ziarah kubur.

Seandainya ziarah kubur terlarang bagi kaum wanita, tentu Nabi ﷺ tak akan mengajarkan kepada ‘Aisyah doa ziarah kubur.

Dalil jelas yang menunjukkan bolehnya ziarah kubur bagi kaum wanita yaitu….

‘Abdullah bin Abi Mulaikah bertanya kepada ‘Aisyah:

يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ، مِنْ أَيْنَ أَقْبَلْتِ؟

“Wahai Ummul Mukminin dari mana engkau datang?”

‘Aisyah menjawab:

مِنْ قَبْرِ أَخِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ

“Dari kubur saudaraku, ‘Abdurrahman bin Abi Bakr.”

‘Abdullah kembali bertanya:

أَلَيْسَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ نَهَى عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ؟

“Bukankah Rasulullah ﷺ telah melarang ziarah kubur?”

‘Aisyah menjawab:

نَعَمْ، كَانَ قَدْ نَهَى، ثُمَّ أُمِرَ بِزِيَارَتِهَا

“Ya. Dulu beliau melarang kemudian memerintahkan itu.” (HR. Al-Hakim)

  1. Orang yang berziarah kubur mendoakan penghuni kubur dengan menghadap kiblat.

Al-Bara bin ‘Azib berkata:

خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فِي جَنَازَةِ رَجُلٍ مِنَ الْأَنْصَارِ فَانْتَهَيْنَا إِلَى الْقَبْرِ، وَلَمْ يُلْحَدْ بَعْدُ فَجَلَسَ النَّبِيُّ ﷺ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ وَجَلَسْنَا مَعَهُ

“Kami keluar bersama Rasulullah ﷺ untuk mengantar jenazah seorang pria Anshar. Sampailah kami ke kuburnya dan belum dibuatkan lahad. Kemudian duduklah Nabi ﷺ menghadap kiblat dan kami pun duduk di sekitar beliau.” (HR. Abu Daud)

  1. Dilarang menginjak atau duduk di atas kubur.

Nabi ﷺ bersabda:

لَأَنْ يَجْلِسَ أَحَدُكُمْ عَلَى جَمْرَةٍ فَتُحْرِقَ ثِيَابَهُ، فَتَخْلُصَ إِلَى جِلْدِهِ، خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَجْلِسَ عَلَى قَبْرٍ

“Sungguh, salah seorang di antara kalian duduk di atas bara api hingga membakar pakaian dan kulitnya lebih baik daripada duduk di atas kubur.” (HR. Muslim)

Nabi ﷺ bersabda:

لَأَنْ أَمْشِيَ عَلَى جَمْرَةٍ، أَوْ سَيْفٍ، أَوْ أَخْصِفَ نَعْلِي بِرِجْلِي، أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَمْشِيَ عَلَى قَبْرِ مُسْلِمٍ

“Sungguh, aku berjalan di atas bara api, atau (tajamnya) sebilah pedang, atau kutambal sandalku dengan kakiku, itu lebih kusukai daripada aku berjalan di atas kubur seorang muslim.” (HR. Ibnu Majah)

  1. Disyariatkan untuk menyampaikan kabar gembira berupa neraka kepada penghuni kubur yang kafir.

Nabi ﷺ bersabda:

حَيْثُمَا مَرَرْتَ بِقَبْرِ مُشْرِكٍ فَبَشِّرْهُ بِالنَّارِ

“Kapan pun engkau melewati kubur seorang musyrik, maka berilah ia kabar gembira berupa neraka!” (HR. Ibnu Majah)

Syekh Al-Albani berkata:

وفي هذا الحديث فائدة هامة أغفلتها عامة كتب الفقه، ألا وهي مشروعية تبشير الكافر بالنار إذا مر بقبره

“Dalam hadis ini terdapat faidah penting yang dilalaikan oleh kebanyakan kitab fikih, yaitu disyariatkannya memberi kabar gembira berupa neraka kepada orang kafir jika melewati kuburnya.” (Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah)

Siberut, 3 Rabi’ul Awwal 1443

Abu Yahya Adiya

Sumber:

  1. Ad-Darari Al-Mudhiyyah Syarh Ad-Durar Al-Bahiyyah karya Imam Asy-Syaukani.
  2. Ahkam Al-Janaiz karya Syekh Muhammad Nashiruddin Al-Albani.
  3. Al-Adillah Ar-Radhiyyah Limatn Ad-Durar Al-Bahiyyah karya Muhammad Shubhi Hasan Hallaq.
  4. dan lain-lain.