Sikap Syiah terhadap ‘Aisyah

Sikap Syiah terhadap ‘Aisyah

“Ia adalah istrimu di dunia dan di akhirat.” (HR. Tirmidzi)

Itulah perkataan malaikat Jibril kepada nabi kita tentang istri beliau, ‘Aisyah.

Dan Nabi ﷺ juga pernah ditanya:

أَيُّ النَّاسِ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟

“Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling engkau cintai?”

Beliau ﷺ menjawab:

عَائِشَةُ

“Aisyah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Itulah kedudukan ‘Aisyah. Sosok yang mulia dan telah Allah muliakan.

Karena itu, ketika ada tuduhan keji yang diarahkan kepada dirinya, yaitu bahwa ia telah berzina dan selingkuh dengan Shafwan bin Mu’aththal, turunlah pembelaan terhadap dirinya dari langit ketujuh.

Allah membersihkan dan membebaskan namanya dari kehinaan dan kenistaan. Bahkan, Dia sampai menurunkan 16 ayat berturut-turut dalam surat An-Nur untuk membersihkan nama baiknya.

Allah menutup 16 ayat itu dengan firman-Nya:

أُولَئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ

“Mereka itu (yaitu ‘Aisyah dan Shafwan) bersih dari apa yang dituduhkan orang-orang. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia.” (QS. An-Nur: 26)

Ayat ini akan senantiasa ada dan dibaca hingga hari kiamat nanti.

Itulah kedudukan ‘Aisyah. Sosok yang mulia dan telah Allah muliakan. Lantas, bagaimana kedudukan ‘Aisyah di mata sekte Syiah?

Ketika membantah Ahlussunnah, tokoh Syiah, ‘Ali Al-Bayadhi Al-‘Amili berkata:

(قالوا- :برأها الله في قوله: (أولئك مبرؤون مما يقولون)، قلنا: ذلك تنزيه لنبيه عن الزنا، لا لها

“Mereka (Ahlussunnah) berpendapat bahwa Allah telah membersihkan ‘Aisyah dari tuduhan zina dalam firman-Nya: ‘Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan orang-orang.’ Adapun kami (Syiah) berpendapat bahwa ayat itu merupakan pembersihan untuk nabi-Nya dari tuduhan zina bukan untuk istrinya!” (Ash-Shirath Al-Mustaqim Ilaa Mustahiqqi At-Taqdim)

Artinya, nabi tidak mungkin berzina. Berbeda halnya dengan ‘Aisyah, istri beliau. Mungkin saja ia berzina! Padahal….

Imam Ibnu Katsir berkata:

وَقَدْ أَجْمَعَ الْعُلَمَاءُ، رَحِمَهُمُ اللَّهُ، قَاطِبَةً عَلَى أَنَّ مَنْ سَبَّها بَعْدَ هَذَا وَرَمَاهَا بِمَا رَمَاهَا بِهِ [بَعْدَ هذا الَّذِي ذُكِرَ] فِي هَذِهِ الْآيَةِ، فَإِنَّهُ كَافِرٌ؛ لِأَنَّهُ مُعَانِدٌ لِلْقُرْآنِ

“Para ulama telah sepakat bahwa siapa yang mencela ‘Aisyah setelah ini dan menuduhnya dengan tuduhan itu setelah turunnya ayat ini, maka ia telah kafir. Sebab, ia telah menentang Al-Quran.” (Tafsir Al-Quran Al-‘Azhim)

Tokoh Syiah lainnya yaitu Al-Majlisi, setelah menyebutkan surat Ibrahim ayat 24, ia berkata:

لا يخفى على الناقد البصير والفطن الخبير ما في تلك الآيات من التعريض بل التصريح بنفاق عائشة وحفصة وكفرهما

“Tidak samar lagi bagi orang yang kritis, cerdik, dan jeli sindiran yang ada dalam ayat-ayat tadi, bahkan pernyataan yang tegas tentang kemunafikan dan kekafiran ‘Aisyah dan Hafshah!” (Bihar Al-Anwar)

Pernyataan tokoh Syiah ini menunjukkan dengan jelas keyakinan mereka tentang ‘Aisyah yakni bahwa ia kafir. Bukan seorang muslim.

Bukan cuma itu, tokoh Syiah lainnya yaitu Muhammad bin Husain An-Najafi Al-Qummi berkata:

مما يدل على إمامة أئمتنا الاثني عشر، أن عائشة كافرة مستحقة للنار، وهو مستلزم لأحقية مذهبنا، وأحقية أئمتنا الاثني عشر.. وكل من قال بإمامة الاثني عشر قال باستحقاقها اللعن والعذاب.

“Di antara yang menunjukkan kepemimpinan imam-imam kita yang berjumlah dua belas orang yakni bahwa ‘Aisyah adalah kafir dan pantas masuk neraka. Dan itu berkonsekuensi sangat benarnya pendapat kita dan sangat benarnya imam-imam kita yang berjumlah dua belas orang…semua orang yang menyatakan kepemimpinan imam yang berjumlah dua belas orang, menyatakan pantasnya ‘Aisyah mendapat laknat dan siksa.” (Al-Arba’in Fii Imamah Al-Aimmah Ath-Thahirin)

Dan bukan sampai situ saja. Ulama mereka yaitu Ahmad Al-Ahsai menyebutkan bahwa Imam Mahdi yang mereka klaim akan keluar di akhir zaman, jika ia telah keluar, ia akan menghidupkan ‘Aisyah lalu seseorang akan mencambuknya! (lihat Ar-Raj’ah hal 116)

Inilah kedudukan ‘Aisyah di mata sekte Syiah terdahulu. Lantas, bagaimana kedudukan ‘Aisyah di mata sekte Syiah belakangan?

Khomeini, ulama Syiah abad ke-20 berkata:

فلو خرج سلطان على أمير المؤمنين عليه السلام لا بعنوان التدين بل للمعارضة في الملك أو غرض آخر كعائشة وزبير وطلحة ومعاوية وأشباههم أو نصب أحد عداوة له أو لاحد من الائمة عليهم السلام لا بعنوان التدين بل لعدواة قريش أو بني هاشم أو العرب أو لاجل كونه قاتل ولده أو أبيه أو غير ذلك لا يوجب ظاهرا شئ منها نجاسة ظاهرية. وإن كانوا أخبث من الكلاب والخنازير

“Kalau seorang pemimpin memberontak kepada Amirulmukminin (‘Ali bin Abi Thalib) bukan dengan simbol agama melainkan untuk melawannya dalam hal kepemimpinan atau tujuan lain seperti ‘Aisyah, Zubair, Thalhah, Mu’awiyah, dan semisal mereka atau jika ia menampakkan permusuhan terhadap Amirulmukminin atau salah satu imam bukan dengan simbol agama melainkan karena permusuhan terhadap Quraisy atau Bani Hasyim atau Arab atau karena ‘Ali memerangi anak atau ayahnya atau selain itu, maka itu tak  berkonsekuensi secara jelas bahwa mereka itu najis dalam penampilan luar, walaupun mereka lebih buruk daripada anjing dan babi.” (Kitab Ath-Thaharah)

Walaupun mereka lebih buruk daripada anjing dan babi perkataan ini menunjukkan bahwa kedudukan ‘Aisyah-menurut Syiah-lebih buruk dari pada anjing dan babi.

Mereka menganggap ‘Aisyah telah berzina, kafir, pantas disiksa di neraka dan lebih buruk daripada anjing dan babi!

Bandingkanlah itu dengan pujian Allah terhadap istri-istri Nabi ﷺ:

وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ

“Dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu kaum mukminin.” (QS. Al-Ahzab: 6)

Dan ‘Aisyah termasuk istri Nabi ﷺ. Berarti ia adalah ibu bagi kaum mukminin. Posisi yang sangat terhormat dan mulia.

Karena itu, tuduhan-tuduhan keji Syiah tadi tak akan membahayakan kedudukan ‘Aisyah. Allah tetap memuliakannya walaupun orang-orang kafir membencinya.

Suatu hari seseorang mencela ‘Aisyah. Lalu ada yang menegurnya:

أَلَيْسَتْ أُمَّكَ؟

“Bukankah ia ibumu?”

Orang itu berkata:

مَا هِيَ بِأُمٍّ

“Ia bukan ibuku!”

Ucapan itu sampai ke telinga ‘Aisyah, lalu ia pun berkata:

صَدَقَ إِنَّمَا أَنَا أُمُّ الْمُؤْمِنِينَ، وَأَمَّا الْكَافِرِينَ فَلَسْتُ لَهُمْ بِأُمٍّ.

“Orang itu betul. Aku ini hanyalah ibu bagi orang-orang yang beriman. Adapun bagi orang-orang kafir aku bukanlah ibu mereka!” (Al-Hujjah Fii Bayan Al-Mahajjah wa Syarh ‘Aqidah Ahlissunnah)

 

Siberut, 7 Syawwal 1444

Abu Yahya Adiya

 

Sumber: https://www.dorar.net/firq/1884/%D8%A7%D9%84%D9%85%D8%B7%D9%84%D8%A8-%D8%A7%D9%84%D8%A3%D9%88%D9%84:-%D8%AA%D9%83%D9%81%D9%8A%D8%B1%D9%87%D9%85-%D9%84%D8%B2%D9%88%D8%AC%D8%A7%D8%AA-%D8%A7%D9%84%D9%86%D8%A8%D9%8A-%D8%B5%D9%84%D9%89-%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87-%D8%B9%D9%84%D9%8A%D9%87-%D9%88%D8%B3%D9%84%D9%85: