Gemetar dan ketakutan. Itulah keadaan Nabi ﷺ ketika keluar dari gua Hiro.
Jibril mendekap beliau ﷺ di dalam gua Hiro hingga beliau merasa sesak. Dan itu bukan cuma sekali, dua kali, bahkan sampai tiga kali! Setelah itu Jibril menyampaikan surat Al-‘Alaq ayat 1 sampai 3.
Itulah wahyu pertama yang Allah turunkan kepada Nabi ﷺ dan dengan turun surat itu pula beliau resmi menjadi seorang nabi.
Setelah menerima wahyu yang pertama tadi, beliau pun pulang dengan penuh kekhawatiran menemui istri beliau, Khadijah binti Khuwailid.
Beliau ﷺ menceritakan apa yang beliau alami kepada Khadijah, maka Khadijah pun menghibur suaminya.
Kemudian Khadijah mengajak beliau pergi menemui sepupunya yang bernama Waroqoh bin Naufal. Ia seorang yang beragama Nashrani dan biasa menulis Injil dalam bahasa Ibrani. Dan ketika itu Waroqoh sudah tua dan buta matanya.
Waroqoh bertanya kepada Nabi ﷺ:
يَا ابْنَ أَخِي مَاذَا تَرَى
“Wahai putra saudaraku, apa yang kau alami?”
Lalu Nabi ﷺ menuturkan peristiwa yang beliau alami. Maka Waroqoh pun berkata:
هَذَا النَّامُوسُ الَّذِي نَزَّلَ اللَّهُ عَلَى مُوسَى يَا لَيْتَنِي فِيهَا جَذَعًا لَيْتَنِي أَكُونُ حَيًّا إِذْ يُخْرِجُكَ قَوْمُكَ
“Itu adalah Namus yang pernah Allah utus kepada Musa. Duhai, seandainya aku masih muda dan masih hidup saat kaummu mengusirmu.”
Nabi ﷺ bertanya:
أَوَمُخْرِجِيَّ هُمْ
“Apakah mereka akan mengusirku?!”
Waroqoh menjawab:
نَعَمْ لَمْ يَأْتِ رَجُلٌ قَطُّ بِمِثْلِ مَا جِئْتَ بِهِ إِلَّا عُودِيَ
“Iya. Tidak ada seorang pun yang datang dengan membawa seperti apa yang kau bawa ini kecuali akan dimusuhi.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Pertanyaannya…
Apa yang beliau ﷺ bawa sehingga akhirnya beliau dimusuhi?
Apa yang beliau ﷺ bawa sehingga akhirnya beliau diusir?
Setelah turun wahyu pertama tadi terjadilah kekosongan wahyu. Wahyu terputus dan tidak turun-turun. Sampai akhirnya Allah turunkan surat Al-Muddatsir.
Nabi ﷺ menceritakan tentang masa kekosongan wahyu:
بَيْنَا أَنَا أَمْشِي إِذْ سَمِعْتُ صَوْتًا مِنْ السَّمَاءِ فَرَفَعْتُ بَصَرِي فَإِذَا الْمَلَكُ الَّذِي جَاءَنِي بِحِرَاءٍ جَالِسٌ عَلَى كُرْسِيٍّ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ فَرُعِبْتُ مِنْهُ فَرَجَعْتُ فَقُلْتُ
“Ketika sedang berjalan, aku mendengar suara dari langit. Aku pun mengangkat pandanganku, ternyata malaikat yang pernah datang kepadaku di gua Hiro, duduk di atas kursi antara langit dan bumi. Aku pun merasa takut lalu pulang, kemudian berkata:
زَمِّلُونِي زَمِّلُونِي
“Selimuti aku. Selimuti aku.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Maka Allah Ta’ala menurunkan wahyu:
يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ قُمْ فَأَنْذِرْ وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ
“Wahai orang yang berselimut! Bangunlah, lalu berilah peringatan! Agungkanlah Tuhanmu. Bersihkanlah pakaianmu. Tinggalkanlah perbuatan dosa.” (QS. Al- Mudatstsir : 1-5)
Sejak saat itu wahyu terus turun kepada beliau secara berkesinambungan.
Dan sejak itu pula beliau ﷺ secara resmi menjadi seorang rasul.
“Wahai orang yang berselimut! Bangunlah, lalu berilah peringatan! Agungkanlah Tuhanmu. Bersihkanlah pakaianmu. Tinggalkanlah segala perbuatan dosa.”
Agungkanlah Tuhanmu maksudnya:
عَظِّمْ عَنْ إشْرَاك الْمُشْرِكِينَ
“Agungkanlah Dia dari penyekutuan yang dilakukan oleh orang-orang musyrik.” (Tafsir Jalalain)
Artinya, agungkanlah Allah dengan berserah diri dan beribadah kepada-Nya semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun dan dengan siapa pun.
Tinggalkanlah perbuatan dosa Imam Mujahid, Ikrimah, Qatadah, dan para ulama ahli tafsir lainnya menafsirkan perbuatan dosa dalam ayat tadi maksudnya adalah penyembahan terhadap berhala.
Artinya, jauhkan dirimu dari syirik. Jauhkan umatmu dari syirik dan juga dari orang-orang yang bergelimang syirik.
Dalam surat ini Allah menyuruh nabi-Nya agar mengajak umatnya supaya mengesakan Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun dan dengan siapa pun.
Allah menyuruh nabi-Nya agar memulai dakwahnya dengan tauhid (pengesaan terhadap Allah). Dan itulah inti dakwah nabi kita ﷺ. Bahkan, itulah inti dakwah seluruh para nabi dan rasul sebelum nabi kita ﷺ.
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada setiap umat (untuk menyerukan): “Beribadahlah kepada Allah (semata) dan jauhilah tagut!” (QS. An Nahl: 36).
Artinya, esakanlah Dia dan jangan menyekutukan-Nya. Tegakkanlah tauhid dan jauhilah syirik.
Itulah yang beliau ﷺ serukan dan dakwahkan selama sepuluh tahun lamanya di Mekah.
Karena sebab itulah, beliau ﷺ dimusuhi. Dan karena sebab itu juga, para sahabatnya disiksa dan disakiti.
Syekh Sulaiman Ar-Ruhaili berkata:
النبي ﷺ كان يستطيع أن يدعو الناس إلى كل شيء ويصدق إلا التوحيد؛ لأن الناس كانوا يحبونه؛ وكانوا يسمونه الصادق الأمين, فلو دعاهم إلى كل بر لأطاعوه؛ ولكن الذي نفرهم هو الدعوة إلى التوحيد
“Nabi ﷺ sanggup mengajak kaumnya untuk melakukan apa pun dan beliau akan dibenarkan kecuali dalam masalah tauhid. Sebab, kaumnya mencintainya. Mereka sampai menggelarinya sebagai orang yang jujur dan terpercaya. Kalau beliau mengajak mereka untuk melakukan segala perbuatan baik, niscaya mereka akan mematuhi beliau. Namun, yang membuat mereka lari adalah ajakan untuk mengesakan Allah.” (Syarh Kitab At-Tauhid)
Ya, ajakan untuk mengesakan Allah lah yang membuat mereka lari. Ajakan untuk menauhidkan Allah lah yang membuat mereka benci. Ajakan untuk meninggalkan penyekutuan terhadap Allah lah yang membuat mereka memusuhi.
Karena itu, siapa pun yang mengajak umat untuk mengesakan Allah, maka ia harus siap menghadapi berbagai penentangan, perlawanan dan permusuhan.
Ia harus siap menghadapi penentangan dari orang-orang yang suka klenik dan perdukunan.
Ia harus siap menghadapi perlawanan dari budak-budak setan.
Setelah Sepuluh Tahun Berdakwah
Setelah sepuluh tahun berdakwah di Mekah beliau diangkat naik ke atas langit dalam suatu peristiwa yang dinamakan Isra’ Mi’raj.
Ketika itulah Allah mensyariatkan salat lima waktu kepada beliau ﷺ dan umatnya.
Setelah beliau ﷺ melakukan salat selama tiga tahun di Makkah, beliau ﷺ pun diperintahkan untuk berhijrah ke Madinah.
Dan setelah Nabi Muhammad ﷺ menetap di Madinah, barulah disyariatkan kepada beliau zakat, puasa, haji, jihad, dan berbagai syariat Islam lainnya.
Pertanyannya:
Kenapa selama 10 tahun lamanya di Mekah Nabi ﷺ tidak diperintahkan untuk melaksanakan salat lima waktu, zakat, puasa, jihad dan syariat Islam lainnya?
Kenapa selama sepuluh tahun lamanya di Mekah Nabi ﷺ fokus mengajak kaumnya pada tauhid dan memperingatkan mereka dari syirik?
Sebab, tauhid adalah pilar Islam. Tauhid adalah pondasi keislaman seorang muslim.
Kalau sebuah bangunan pondasinya rapuh dan runtuh, apakah bangunan itu akan tetap tegak dan utuh?
Tentu saja tidak.
Dan yang akan meruntuhkan tauhid dan keislaman seseorang adalah syirik.
Allah berfirman:
لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Sungguh, jika engkau menyekutukan Allah, niscaya hapuslah amalmu dan tentulah engkau termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az-Zumar: 65)
Siberut, 10 Dzulqa’dah 1441
Abu Yahya Adiya






