Rasa bersalah berdebam-debam menohok dadanya. Baginya, sudah amat besarlah dosanya. Cukuplah 99 orang tak bersalah menjadi korbannya.
Sudah saatnya ia bertobat dan menghentikan kesalahannya.
Ia pun bertanya kepada orang-orang, siapa orang yang bisa jadi tempat bertanya?
Orang-orang pun mengarahkannya kepada seorang rahib. Seorang ahli ibadah.
Ia mendatangi rahib itu lalu menjelaskan kepadanya bahwa ia telah menghabisi 99 orang, masih terbukakah pintu taubat baginya?
Rahib itu menjawab:
لَا
“Tidak!”
Bagi si rahib, kesalahan orang itu sudah sangat parah, makanya ia tidak layak mendapat ampunan. Kalau pun bertobat, tobatnya tidak akan diterima.
Mendapat jawaban seperti itu, muncullah emosi orang itu lalu ia pun menghabisi rahib tadi. Genaplah 100 nyawa melayang lewat tangannya!
Hatinya kembali resah. Kesalahan sebelumnya sudah demikian parah, maka kenapa ditambah lagi dengan kesalahan yang lain?! Lagi-lagi ia menyesal.
Ia pun kembali bertanya kepada orang-orang, siapa orang yang bisa jadi tempat bertanya?
Orang-orang pun mengarahkannya kepada seorang alim. Seorang yang berilmu.
Ia mendatangi alim itu lalu menjelaskan kepadanya bahwa ia telah membunuh 100 orang, masih terbukakah pintu taubat baginya?
Orang alim itu menjawab:
نَعَمْ وَمَنْ يَحُولُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ التَّوْبَةِ انْطَلِقْ إِلَى أَرْضِ كَذَا وَكَذَا فَإِنَّ بِهَا أُنَاسًا يَعْبُدُونَ اللَّهَ فَاعْبُدْ اللَّهَ مَعَهُمْ وَلَا تَرْجِعْ إِلَى أَرْضِكَ فَإِنَّهَا أَرْضُ سَوْءٍ
“Ya. Siapa yang bisa menghalangimu dari taubat? Pergilah ke daerah ini dan itu, karena di sana ada orang-orang yang beribadah kepada Allah. Beribadahlah kepada Allah bersama mereka dan jangan engkau kembali ke tempatmu, karena tempatmu itu tempat yang buruk.”
Jawaban yang menenangkan.
Ia pun menuruti nasehat si alim itu. Ia segera berangkat ke daerah yang telah ditunjukkan tadi. Namun sayangnya…
Baru di tengah perjalanan, maut ternyata menjemputnya.
Nabi ﷺ bersabda:
فَاخْتَصَمَتْ فِيهِ مَلَائِكَةُ الرَّحْمَةِ وَمَلَائِكَةُ الْعَذَابِ
“Maka berselisihlah malaikat rahmat dan malaikat siksa.
فَقَالَتْ مَلَائِكَةُ الرَّحْمَةِ
Malaikat rahmat berkata:
جَاءَ تَائِبًا مُقْبِلًا بِقَلْبِهِ إِلَى اللَّهِ
“Orang ini pergi dalam keadaan telah bertaubat dan menghadap dengan hatinya kepada Allah.“
وَقَالَتْ مَلَائِكَةُ الْعَذَابِ
Malaikat siksa membantah:
إِنَّهُ لَمْ يَعْمَلْ خَيْرًا قَطُّ
“Sesungguhnya ia belum melakukan kebaikan sama sekali.”
فَأَتَاهُمْ مَلَكٌ فِي صُورَةِ آدَمِيٍّ فَجَعَلُوهُ بَيْنَهُمْ
Akhirnya datanglah kepada keduanya seorang malaikat berwujud manusia. Keduanya meminta keputusan kepada malaikat yang berwujud manusia itu.”
Lalu apa keputusan malaikat yang berwujud manusia itu? Dan bagaimana nasib akhir pembunuh 100 orang itu?
Perintah untuk Hijrah
Hijrah artinya berpindah dari lingkungan yang buruk ke lingkungan yang baik.
Berpindah dari lingkungan kafir ke lingkungan islami.
Berpindah dari lingkungan syirik ke lingkungan tauhid.
Berpindah dari lingkungan bidah ke lingkungan sunnah.
Berpindah dari lingkungan maksiat ke lingkungan taat.
Kalau seseorang tinggal di lingkungan yang buruk dan ia merasa tidak bisa mengubah lingkungannya menjadi baik, malah ia merasa dirinya akan terpengaruh oleh lingkungannya yang buruk, maka ia harus berhijrah dari lingkungannya yang buruk menuju lingkungan yang baik.
Ibnul ‘Arabi berkata:
فَإِنَّ الْمُنْكَرَ إِذَا لَمْ تَقْدِرْ أَنْ تُغَيِّرَهُ فَزُلْ عَنْهُ
“Sesungguhnya jika engkau tidak sanggup menghilangkan kemungkaran, maka menjauhlah darinya.” (Al-Jami’ Liahkam Al-Quran)
Dan itulah yang dinasehatkan oleh orang alim kepada si pembunuh tadi. Ia berkata:
“Pergilah ke daerah ini dan itu, karena di sana ada orang-orang yang beribadah kepada Allah. Beribadahlah kepada Allah bersama mereka dan jangan engkau kembali ke tempatmu, karena tempatmu itu tempat yang buruk.”
Mengapa si alim menasehatinya untuk hijrah dari tempat tinggalnya yang buruk?
Sebab, kalau seseorang sudah bertaubat dari maksiat lalu tidak menjauhi lingkungan yang buruk dan teman yang buruk, maka sangat besar kemungkinan ia akan kembali jatuh ke dalam maksiat.
‘Umar bin Al-Khaththab pernah berpesan:
وَلَا تَمْشِ مَعَ الْفَاجِرِ فَيُعَلِّمَك مِنْ فُجُورِهِ
“Jangan engkau berjalan bersama orang yang buruk, sehingga ia mengajarkan kepadamu keburukannya.” (Al-Adab Asy-Syar’iyyah wa Al-Minah Al-Mar’iyyah)
Buah dari Hijrah
Siapa yang meninggalkan tempat yang buruk karena Allah, berarti ia sudah berhijrah di jalan Allah. Allah pasti memberinya ganti berupa tempat yang jauh lebih baik darinya.
Siapa yang meninggalkan pekerjaan yang buruk karena Allah, berarti ia sudah berhijrah di jalan Allah. Allah pasti memberinya ganti berupa pekerjaan yang jauh lebih baik darinya.
Dan siapa yang meninggalkan teman yang buruk karena Allah, berarti ia sudah berhijrah di jalan Allah. Allah pasti memberinya ganti berupa teman yang jauh lebih baik darinya.
Nabi ﷺ bersabda:
إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئًا لِلَّهِ إِلَّا بَدَّلَكَ اللهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ
“Sesungguhnya tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, melainkan Allah akan menggantikan itu dengan yang lebih baik darinya.” (HR. Ahmad)
Allah berfirman:
وَمَنْ يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً وَمَنْ يَخْرُجْ مِنْ بَيْتِهِ مُهَاجِرًا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
“Siapa yang berhijrah di jalan Allah, niscaya ia mendapatkan di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Siapa yang keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa: 100)
Inilah keutamaan orang yang berhijrah di jalan Allah. Walaupun kematian mendatanginya sebelum ia sampai ke tujuannya, telah tetaplah pahalanya di sisi Tuhannya.
Tengoklah bagaimana nasib pembantai 100 nyawa tadi. Setelah bertaubat dan meninggalkan tempat tinggalnya yang buruk, ternyata maut telah menjemputnya sebelum ia sampai ke tempat yang dituju.
Ketika itulah malaikat rahmat dan malaikat siksa berselisih.
Malaikat rahmat ingin mengambil roh orang tersebut dengan alasan orang itu telah bertaubat kepada Allah.
Dan malaikat siksa juga ingin mengambil roh orang tersebut dengan alasan orang itu belum melakukan kebaikan sama sekali.
Akhirnya Allah mengutus seorang malaikat berwujud manusia untuk memutuskan perkara yang mereka perselisihkan.
Malaikat yang berwujud manusia itu berkata:
قِيسُوا مَا بَيْنَ الْأَرْضَيْنِ فَإِلَى أَيَّتِهِمَا كَانَ أَدْنَى فَهُوَ لَهُ
“Ukurlah jarak dari tempat ia berangkat sampai ke tempat yang ia tuju. Mana yang lebih dekat dengan jasadnya ketika mati, maka ia pun dimasukkan ke situ.”
Nabi ﷺ bersabda:
فَقَاسُوهُ فَوَجَدُوهُ أَدْنَى إِلَى الْأَرْضِ الَّتِي أَرَادَ فَقَبَضَتْهُ مَلَائِكَةُ الرَّحْمَةِ
“Mereka pun mengukurnya. Dan dari hasil pengukuran itu, ternyata mereka dapati jasad si pembunuh tadi letaknya lebih dekat ke tempat yang ia tuju. Maka malaikat rahmat pun mengambil roh orang itu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Siberut, 11 Dzulqa’dah 1441
Abu Yahya Adiya






