Karena Kehendak Allah dan Kehendakmu?

Karena Kehendak Allah dan Kehendakmu?

Mimpi yang unik dan ajaib. Thufail bin Sakhbarah bermimpi.

Dalam mimpinya ia mendatangi sekelompok kaum Yahud lalu bertanya:

مَنْ أَنْتُمْ؟

“Siapa kalian?”

Mereka menjawab:

نَحْنُ الْيَهُودُ

“Kami kaum Yahud.”

Thufail berkata:

إِنَّكُمْ أَنْتُمُ الْقَوْمُ، لَوْلَا أَنَّكُمْ تَزْعُمُونَ أَنَّ عُزَيْرًا ابْنُ اللهِ

“Sesungguhnya kalian adalah sebaik-baik kaum, kalau saja kalian tidak menganggap Uzair sebagai putra Allah.”

Mereka menjawab:

وَأَنْتُمُ الْقَوْمُ لَوْلَا أَنَّكُمْ تَقُولُونَ

“Dan kalian juga sebaik-baik kaum, kalau saja kalian tidak mengatakan:

مَا شَاءَ اللهُ، وَشَاءَ مُحَمَّدٌ

“Atas kehendak Allah dan kehendak Muhammad.”

Kemudian dalam mimpinya Thufail melewati sekelompok kaum Nashoro. Lalu ia bertanya:

مَنْ أَنْتُمْ؟

“Siapa kalian?”

Mereka menjawab:

نَحْنُ النَّصَارَى

“Kami kaum Nashoro.”

Thufail berkata:

إِنَّكُمْ أَنْتُمُ الْقَوْمُ، لَوْلَا أَنَّكُمْ تَقُولُونَ

“Sesungguhnya kalian adalah sebaik-baik kaum, kalau saja kalian tidak berkata:

الْمَسِيحُ ابْنُ اللهِ

“Al-Masih adalah putra Allah.”

Mereka menjawab:

وَأَنْتُمُ الْقَوْمُ لَوْلَا أَنَّكُمْ تَقُولُونَ

“Dan kalian juga sebaik-baik kaum, kalau saja kalian tidak mengatakan:

مَا شَاءَ اللهُ، وَمَا شَاءَ مُحَمَّدٌ

“Atas kehendak Allah dan kehendak Muhammad.”

Pada keesokan harinya Thufail memberitahukan mimpinya itu kepada orang-orang. Lalu ia mendatangi Nabi ﷺ, dan memberitahukan itu kepada beliau. Maka Nabi ﷺ bersabda:

هَلْ أَخْبَرْتَ بِهَا أَحَدًا؟

“Apakah engkau telah memberitahukan itu kepada seseorang?”

Thufail menjawab:

نَعَمْ

“Ya.”

Setelah orang-orang menyelesaikan salat, Nabi ﷺ berkhutbah di hadapan mereka. Beliau memuji Allah dan menyanjung-Nya lalu bersabda:

إِنَّ طُفَيْلًا رَأَى رُؤْيَا فَأَخْبَرَ بِهَا مَنْ أَخْبَرَ مِنْكُمْ، وَإِنَّكُمْ كُنْتُمْ تَقُولُونَ كَلِمَةً كَانَ يَمْنُعُنِي الْحَيَاءُ مِنْكُمْ، أَنْ أَنْهَاكُمْ عَنْهَا ” قَالَ: لَا تَقُولُوا:

“Sesungguhnya Thufail telah bermimpi tentang sesuatu, dan ia telah memberitahukan itu kepada sebagian orang dari kalian. Dan sesungguhnya kalian telah mengucapkan suatu kalimat yang rasa malu kepada kalian menghalangiku untuk melarang kalian. Jangan kalian mengatakan:

مَا شَاءَ اللهُ، وَمَا شَاءَ مُحَمَّدٌ

“Atas kehendak Allah dan kehendak Muhammad!” (HR. Ahmad)

Dalam riwayat lain:

وَلَكِنْ قُولُوا:

“Namun ucapkanlah:

مَا شَاءَ اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ

“Atas kehendak Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya.”

rasa malu kepada kalian menghalangiku untuk melarang kalian maksud malu di sini:

ليس الحياء من إنكار الباطل، ولكن من أن ينهى عنها، دون أن يأمره الله بذلك

“Bukan malu karena mengingkari kebatilan. Melainkan malu karena melarang dari sesuatu tanpa Allah perintahkan untuk melarangnya.” (Al-Mulakhash fi Syarh Kitab At-Tauhid)

Dalam hadis ini Nabi ﷺ melarang umatnya menggandengkan kehendak Allah dengan kehendak beliau menggunakan kata dan.

Nabi ﷺ melarang demikian, baik beliau mendengar kalimat itu dari orang lain atau beliau dengar langsung dengan telinga beliau sendiri.

Suatu hari seseorang berkata kepada Nabi ﷺ:

مَا شَاءَ اللهُ، وَشِئْتَ

“Atas kehendak Allah dan kehendakmu.”

Maka Nabi ﷺ pun bersabda:

أَجَعَلْتَنِي وَاللهَ عَدْلًا بَلْ مَا شَاءَ اللهُ وَحْدَهُ

“Apakah engkau ingin menjadikanku sebagai tandingan bagi Allah?! Bahkan, atas kehendak Allah semata!” (HR. Ahmad)

Lihatlah, beliau ﷺ mengingkari sahabatnya yang telah menggandengkan kehendak Allah dengan kehendak beliau menggunakan kata dan.

Mengapa demikian?

Sebab, kata dan mengandung makna penyetaraan antara dua kata yang digandengkan olehnya. Makanya, ketika seseorang berkata, “Atas kehendak Allah dan kehendak Muhammad”, berarti ia telah menyetarakan Nabi ﷺ dengan Allah. Karena itu Nabi ﷺ melarang demikian.

Syekh Saleh Al-Fauzan berkata:

أنكر -صلى الله عليه وسلم- على من عطف مشيئة الرسول على مشيئة الله بالواو؛ لما يقتضيه هذا العطف من التسوية بين الله وبين المخلوق واعتبر هذا من اتخاذ الشريك لله

“Beliau ﷺ mengingkari orang yang menggandengkan kehendak rasul dengan kehendak Allah dengan kata dan. Karena, penggandengan itu berkonsekuensi penyamaan antara Allah dengan makhluk. Dan Nabi ﷺ menganggap yang demikian termasuk membuat sekutu bagi Allah.” (Al-Mulakhash fi Syarh Kitab At-Tauhid)

Kalau memang dengan mengucapkan “atas kehendak Allah dan kehendakmu” dianggap membuat sekutu bagi Allah dan berbuat syirik, lantas apakah itu syirik besar atau kecil?

 

Antara Syirik Besar dan Kecil

Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:

أن قول: (ما شاء الله وشئت) من الشرك الأكبر، أو الأصغر; لأنه إن اعتقد أن المعطوف مساو لله; فهو شرك أكبر

“Perkataan seseorang ‘atas kehendak Allah dan kehendakmu’ termasuk syirik besar atau kecil. Sebab, jika ia meyakini bahwa yang digandengkan dengan Allah itu menyamai Allah, maka itu syirik besar.

وإن اعتقد أنه دونه لكن أشرك به في اللفظ; فهو أصغر

Dan jika meyakini bahwa yang digandengkan dengan Allah itu masih di bawah-Nya, akan tetapi ia menyekutukan-Nya dalam hal kalimat, maka itu syirik kecil.” (Al-Qaul Al-Mufiid ‘Alaa Kitab At-Tauhid)

Kalau begitu, orang yang mengucapkan “atas kehendak Allah dan kehendakmu” bisa terjatuh dalam syirik besar dan bisa juga terjatuh dalam syirik kecil.

Kalau ia meyakini bahwa orang yang digandengkan dengan Allah dalam hal kehendak itu menyamai Allah, maka ia telah terjatuh dalam syirik besar. Namun, kalau ia tidak meyakini itu, maka ia telah terjatuh dalam syirik kecil.

Kalau seorang terjatuh dalam syirik besar, maka ia keluar dari Islam. Namun, kalau ia terjatuh dalam syirik kecil, maka ia tidak keluar dari Islam, tapi….

Ia sudah melakukan dosa yang sangat besar dan amat besar yaitu syirik!

Maka, jauhilah perkataan “atas kehendak Allah dan kehendakmu” walaupun untuk memuliakan orang yang ada di hadapanmu!

Gantilah itu dengan perkataan yang lebih baik dan jauh dari kemurkaan Tuhanmu!

 

Pengganti “Atas Kehendak Allah dan Kehendakmu”

Seorang Yahud datang kepada Nabi ﷺ, lalu berkata:

إِنَّكُمْ تُنَدِّدُونَ، وَإِنَّكُمْ تُشْرِكُونَ تَقُولُونَ: مَا شَاءَ اللَّهُ وَشِئْتَ وَتَقُولُونَ: وَالْكَعْبَةِ

“Sesungguhnya kalian membuat tandingan dan juga melakukan syirik. Kalian mengucapkan, ‘Atas kehendak Allah dan kehendakmu’, dan kalian juga mengucapkan, ‘Demi Ka’bah.”

Maka Nabi ﷺ melarang para sahabatnya bersumpah dengan Ka’bah. Beliau menyuruh mereka bila hendak bersumpah untuk mengucapkan:

وَرَبِّ الْكَعْبَةِ

“Demi Tuhan Pemilik Ka’bah.”

Dan beliau ﷺ juga melarang mereka mengucapkan: “atas kehendak Allah dan kehendakmu”. Beliau menyuruh mereka mengucapkan:

مَا شَاءَ اللَّهُ، ثُمَّ شِئْتَ

“Atas kehendak Allah kemudian kehendakmu.” (HR. An-Nasai)

Lihatlah, Nabi ﷺ melarang para sahabatnya mengucapkan “atas kehendak Allah dan kehendakmu”, dan beliau memberikan gantinya yaitu: “atas kehendak Allah kemudian kehendakmu.”

Ucapan “atas kehendak Allah dan kehendakmu” mengandung makna penyetaraan antara kehendak Allah dan kehendak makhluk. Sedangkan “atas kehendak Allah kemudian kehendakmu” tidak mengandung makna penyetaraan, makanya Nabi ﷺ izinkan.

Karena itu, jangan ucapkan, “Atas kehendak Allah dan kehendakmu”!

Ucapkanlah, “Atas kehendak Allah kemudian kehendakmu”, atau yang lebih baik adalah:

مَا شَاءَ اللهُ وَحْدَهُ

“Atas kehendak Allah semata.” (HR. Ahmad)

 

Siberut, 15 Rabi’ul Awwal 1442

Abu Yahya Adiya