Apa bisa manusia melawan fitrahnya sendiri?
Suatu hari, Abu Ja’far Al-Hamdani menghadiri majelis Imam Al-Haramain Al-Juwaini. Ketika itu Imam Al-Haramain berkata dalam majelisnya:
كَانَ اللهُ وَلاَ عرش، وَهُوَ الآنَ عَلَى مَا كَانَ عَلَيْهِ.
“Allah sudah ada ketika Arsy belum ada. Dan Dia sekarang seperti dahulu kala.”
Imam Al-Haramain tidak mengatakan bahwa Allah di atas Arsy-Nya.
Abu Ja’far Al-Hamdani pun berkata:
أَخْبِرْنَا يَا أَسْتَاذ عَنْ هَذِهِ الضَّرُوْرَة الَّتِي نَجدُهَا، مَا قَالَ عَارِفٌ قَطُّ: يَا الله! إِلاَّ وَجَد مِنْ قَلْبِهِ ضَرُوْرَة تَطلب العلوَّ وَلاَ يَلتَفِتُ يَمنَةً وَلاَ يَسرَةً، فَكَيْفَ نَدفَعُ هَذِهِ الضَّرُوْرَة عَنْ أَنْفُسنَا؟
“Wahai ustaz, kabarkan kepada kami tentang kepastian yang kami dapati ini. Tidak ada seorang pun yang berdoa, ‘Ya Allah!’, kecuali ia mendapati hatinya mesti mengarah pada ketinggian, dan tidak menengok ke kiri dan ke kanan. Maka bagaimana cara kami menghilangkan itu dari diri kami?!”
Imam Al-Haramain menampar kepalanya sendiri lalu berkata:
حيَّرنِي الهَمَذَانِيّ
“Al-Hamdani telah membuatku bingung!” (Siyar A’lam An-Nubala)
Ya, bagaimana tidak bingung?
Fitrah manusia itu meyakini bahwa Tuhannya itu ada di atas. Makanya bagaimana bisa fitrahnya itu dihilangkan?!
Setelah menyebutkan hadis budak perempuan yang ditanya oleh Nabi ﷺ tentang di mana Allah, Imam Adz-Dzahabi berkata:
وَهَكَذَا رَأينَا كل من يسْأَل أَيْن الله يُبَادر بفطرته وَيَقُول فِي السَّمَاء
“Demikianlah kita melihat setiap orang yang ditanya, ‘Di mana Allah?’ dengan fitrahnya ia akan menjawab, ‘Di atas langit.” (Al-‘Uluw Li Al-‘Aliy Al-Ghaffar)
Siberut, 24 Jumada Ats-Tsaniyah 1443
Abu Yahya Adiya






