Hadis itu bisa dibagi menjadi dua: hadis mutawatir dan hadis ahad.
Hadis mutawatir adalah hadis yang diriwayatkan oleh banyak orang yang dengan jumlah tersebut mustahil mereka bersepakat untuk berdusta menurut kebiasaan.
Sedangkan hadis ahad adalah hadis yang bukan mutawatir, termasuk hadis yang di dalam salah satu tingkatan sanadnya hanya ada satu orang.
Menurut sekte Asy’ariyyah, hadis ahad hanya bisa dijadikan dalil dalam masalah hukum, dan tidak bisa dijadikan dalil dalam masalah akidah. Sebab, hadis ahad itu tidak membuat yakin, menurut mereka.
Tokoh sekte Asy’ariyyah, Al-Juwaini berkata:
وأما الأحاديث التي يتمسكون بها, فآحاد لا تفضي إلى العلم, ولو أضربنا عن جميعها كان سائغا
“Adapun hadis-hadis yang mereka pegang, maka itu adalah hadis-hadis ahad, tidak bisa mengantarkan pada ilmu. Kalau kita berpaling dari semua itu, maka itu boleh.” (Al-Irsyad)
Dan kebanyakan pengikut sekte Asy’ariyyah mengaku mengikuti mazhab Imam Asy-Syafi’i.
Lantas, bagaimana dengan pendapat Imam Asy-Syafi’i? Apakah sama dengan pendapat mereka?
Imam Asy-Syafi’i berkata:
فإن قال قائل: اذكر الحجة في تثبيت خبر الواحد بنصِّ خبر أو دلالةٍ فيه أو إجماعٍ. فقلت له
“Jika ada orang yang berkata, ‘Sebutkan dalil yang menetapkan hadis ahad berdasarkan teks hadis atau petunjuk yang ada di dalamnya atau ijmak?’, maka kukatakan kepadanya:
أخبرنا سفيان عن عبد الملك بن عمير عن عبد الرحمن بن عبد الله بن مسعود عن أبيه أن النبي قال:
“Sufyan mengabarkan kepada kami dari ‘Abdul Malik bin ‘Umair dari ‘Abdurrahman bin ‘Abdilllah bin Mas’ud dari ayahnya bahwa Nabi ﷺ bersabda:
“نضَّر الله عبداً سمع مقالتي فحفظها ووعاها وأداها….
“Semoga Allah mencerahkan wajah seseorang yang mendengar perkataanku, ia menghafalnya, memahaminya lalu menyampaikannya….” (Ar-Risalah)
Setelah menyebutkan hadis ini, Imam Asy-Syafi’i berkata:
فلما نَدَب رسول الله إلى استماع مقالته وحفظِها وأدائها امرأً يؤديها، والامْرُءُ واحدٌ: دلَّ على أنه لا يأمر أن يُؤدَّى عنه إلا ما تقوم به الحجة على من أدى إليه
“Tatkala Rasulullah ﷺ menganjurkan orang yang akan menyampaikan sabda beliau untuk mendengar sabda beliau, menghafalnya, dan menyampaikannya, sedangkan orang di sini adalah satu, itu menunjukkan bahwa beliau tidak menyuruh untuk menyampaikan dari beliau kecuali apa yang cukup sebagai hujah bagi orang yang disampaikan.” (Ar-Risalah)
Lalu beliau menyebutkan banyak hadis yang menetapkan diterimanya hadis ahad dalam masalah agama jika memang itu sahih, tanpa membedakan apakah hadis itu dalam masalah hukum atau akidah.
Syekh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab Al-‘Aqil berkata:
والمهم أن الشافعي رحمه الله لا يفرق في وجوب العمل بخبر الواحد بين مسائل العقيدة وغيرها من أمور الدين كما هو واضح في الأمثلة التي ذكرها
“Yang penting, Asy-Syafi’i-semoga Allah merahmatinya-dalam masalah wajibnya beramal dengan hadis ahad tidak membedakan antara masalah akidah dengan perkara agama lainnya, sebagaimana itu jelas dalam contoh-contoh yang beliau sebutkan.” (Minhaj Al-Imam Asy-Syafi’i Fii Itsbat Al-‘Aqidah)
Kalau begitu, pendapat sekte Asy’ariyyah tentang hadis ahad ternyata jauh berbeda dengan pendapat Imam Asy-Syafi’i.
Karena, pendapat beliau sesuai dengan pendapat Ahlussunnah wal Jama’ah yang meyakini bahwa hadis ahad bisa dijadikan dalil, baik dalam masalah hukum maupun akidah, kalau memang itu sahih.
Imam Ibnu Baththal berkata:
وانعقد الإجماع على القول بالعمل بأخبار الآحاد، وبطل قول من خرج عن ذلك من أهل البدع
“Dan telah tercapai kesepakatan para ulama akan bolehnya mengamalkan hadis-hadis ahad. Dan batallah pendapat orang yang menyelisihi itu dari kalangan ahli bidah.” (Syarh Shahih Al-Bukhari)
Siberut, 12 Rajab 1443
Abu Yahya Adiya






