Dalam masalah ketinggian Allah, keyakinan Syekh ‘Abdul Qadir Al-Jaelani berbeda dengan keyakinan sekte Asy‘ariyyah. Lantas bagaimana dengan masalah perkataan Allah dan Al-Quran?
Syekh ‘Abdul Qadir Al-Jaelani berkata:
وقال تعالى في حق موسى عليه السلام:
“Dan Allah berfirman terkait dengan Musa ﷺ:
{وَإِذْ نَادَى رَبُّكَ مُوسَى}
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu menyeru Musa.” (Asy-Syu‘ara: 10)
{وَنَادَيْنَاهُ مِنْ جَانِبِ الطُّورِ الْأَيْمَنِ وَقَرَّبْنَاهُ نَجِيًّا}
“Dan Kami telah memanggilnya dari sebelah kanan bukit Thur dan Kami dekatkan ia untuk bercakap-cakap.” (QS. Maryam: 52)
وقال تعالى لموسى عليه السلام:
Dan Dia berfirman kepada Musa ﷺ:
{إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي}
“Sesungguhnya Aku ini Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku.” (QS. Thahaa: 14)
وكل هذا لا يكون إلا صوتا.
Semua perkataan ini tidaklah terjadi kecuali dengan suara.” (Al-Ghunyah li Thaalib Thariq Al-Haq ‘Azza wa Jalla)
Ini menunjukkan bahwa Syekh ‘Abdul Qadir Al-Jaelani meyakini bahwa perkataan Allah itu dengan huruf dan suara, sebagaimana itu keyakinan Ahlussunnah wal Jama‘ah.
Dan Syekh menyebutkan beberapa hadis yang menguatkan keyakinan demikian. Di antaranya:
Nabi ﷺ bersabda:
يَحْشُرُ اللَّهُ العِبَادَ، فَيُنَادِيهِمْ بِصَوْتٍ يَسْمَعُهُ مَنْ بَعُدَ كَمَا يَسْمَعُهُ مَنْ قَرُبَ:
“Allah mengumpulkan hamba-hamba-Nya lalu memanggil mereka dengan suara yang bisa didengar oleh orang yang jauh sebagaimana bisa didengar oleh orang yang dekat:
أَنَا المَلِكُ، أَنَا الدَّيَّانُ
“Akulah Raja dan Akulah Maha Pembalas.” (HR. Bukhari)
Setelah menyebutkan ayat-ayat dan hadis-hadis yang menunjukkan bahwa perkataan Allah dengan huruf dan suara, Syekh ‘Abdul Qadir Al-Jaelani berkata:
وهذه الآيات والأخبار تدل على أن كلام الله عز وجل صوت لا كصوت الآدميين، كما أن علمه وقدرته وبقية صفاته لا تشبه صفات الآدميين، كذلك صوته.
“Ayat-ayat dan hadis-hadis ini menunjukkan bahwa perkataan Allah adalah suara tapi tidak seperti suara manusia. Sebagaimana ilmu-Nya, kekuasaan-Nya, dan sifat-sifat-Nya yang lain tidak menyerupai sifat manusia, maka begitu pula suara-Nya.
وقد نص الإمام أحمد رحمه الله تعالى على إثبات الصوت في رواية جماعة من الأصحاب رضوان الله عليهم أجمعين خلاف ما قالت الأشعرية من أن كلام الله تعالى معنى قائم بنفسه، والله حسيب كل مبتدع ضال مضل
Imam Ahmad telah menetapkan adanya suara bagi-Nya dalam riwayat beberapa sahabat. Berbeda halnya dengan pendapat Asy‘ariyyah yaitu bahwa perkataan Allah adalah makna yang ada pada diri-Nya. Dan Allah akan membuat perhitungan dengan setiap ahli bidah yang sesat dan menyesatkan.” (Al-Ghunyah li Thaalib Thariq Al-Haq ‘Azza wa Jalla)
Perkataan Syekh di sini menunjukkan dengan jelas bahwa keyakinan beliau tentang perkataan Allah bertentangan dengan keyakinan sekte Asy‘ariyyah yang hanya menetapkan perkataan batin (kalam nafsi) bagi Allah yaitu tanpa huruf dan suara.
Dan kalau sudah begitu keyakinan mereka tentang perkataan Allah, lantas bagaimana keyakinan mereka tentang Al-Quran?
Syekh ‘Abdur Razzaq Al-Badr berkata:
والأشاعرة والكلابية أيضاً يقولون بخلق القرآن، ولكن لا يصرحون بذلك، ويقولون: الكلام نوعان
“Asy’ariyyah dan Kullabiyyah juga berpendapat bahwa Al-Quran adalah makhluk. Namun, mereka tidak menyatakan itu dengan jelas. Mereka mengatakan bahwa perkataan itu ada dua macam:
كلام نفسي ليس بحرف ولا صوت وهذا يضيفونه إلى الله
Perkataan batin (kalam nafsi) tanpa huruf dan suara. Dan ini mereka sandarkan kepada Allah.
أما الكلام اللفظي الذي يشتمل على الحرف والصوت والذي هو القرآن فهو مخلوق، وهو عبارة أو حكاية عن كلام الله وليس كلام الله بل هو مخلوقٌ من جمل سائر المخلوقات، وبذلك يلتقون مع الجهمية.
Adapun perkataan lahir (kalam lafzhi) yang mengandung huruf dan suara-yang mana itu adalah Al-Quran-, maka itu adalah makhluk (ciptaan Allah). Dan itu adalah ungkapan atau hikayat tentang perkataan Allah, dan bukan perkataan Allah. Bahkan itu adalah salah satu ciptaan Allah. Dengan itu mereka sejalan dengan Jahmiyyah…” (At-Tuhfah As-Saniyyah Syarh Manzhumah Ibn Abi Daud Al-Haiyyah)
Dan keyakinan itulah yang diingkari oleh Syekh ‘Abdul Qadir Al-Jaelani.
Syekh ‘Abdul Qadir Al-Jaelani berkata:
ونعتقد أن القرآن كلام الله وكتابه وخطابه ووحيه الذي نزل به جبريل على رسول الله صلى الله عليه وسلم
“Kami meyakini bahwa Al-Quran adalah kalam Allah, kitab-Nya, dan pembicaraan-Nya dan wahyu-Nya yang dibawa turun oleh Jibril kepada Rasulullah ﷺ.” (Al-Ghunyah li Thaalib Thariq Al-Haq ‘Azza wa Jalla)
Itulah keyakinan Syekh ‘Abdul Qadir Al-Jaelani tentang Al-Quran, yakni bahwa Al-Quran adalah perkataan Allah, bukan ungkapan atau hikayat tentang perkataan Allah. Dan Itulah keyakinan Ahlussunnah wal Jama‘ah.
Karena itu, Syekh ‘Abdul Qadir Al-Jaelani mengingkari keyakinan yang bertentangan dengan itu. Beliau berkata:
فمن زعم أنه مخلوق أو عبارته أو التلاوة غير المتلو, أو قال: لفظي بالقرآن مخلوق فهو كافر بالله العظيم, ولا يخالط ولا يؤاكل ولا يناكح ولا يجاور, بل يهجر ويهان, ولا يصلى خلفه, ولا تقبل شهادته, ولا تصح ولايته في نكاح وليه, ولا يصلى عليه إذا مات, فإن ظفر به استتيب ثلاثا كالمرتد, فإن تاب وإلا قتل.
“Siapa yang menganggap bahwa Al-Quran adalah makhluk (ciptaan Allah) atau ungkapan tentang perkataan Allah atau tilawah Al-Quran tidak sama dengan yang dibaca, atau berkata, ‘Bacaan Al-Quranku adalah makhluk’, maka ia telah kafir kepada Allah Yang Maha Agung. Ia jangan diajak bergaul, diajak makan, diajak menikah, dan diajak bertetangga. Bahkan, ia harus diboikot dan direndahkan. Jangan bermakmum kepadanya dan jangan pula diterima kesaksiannya. Dan tidak sah perwaliannya dalam menikahkan orang yang di bawah perwaliannya. Dan jika ia mati, maka ia jangan disalatkan. Jika ia berhasil ditangkap, maka ia diberi kesempatan untuk bertobat selama 3 hari. Jika ia bertobat, maka itu diterima. Namun jika tidak, maka ia dihukum mati.” (Al-Ghunyah li Thaalib Thariq Al-Haq ‘Azza wa Jalla)
Siberut, 2 Rajab 1443
Abu Yahya Adiya






