Al-Harits Al-Muhasibi dan Ketinggian Allah

Al-Harits Al-Muhasibi dan Ketinggian Allah

Siapakah Al-Harits Al-Muhasibi?

Imam Adz-Dzahabi menyebutkan biografi Al-Harits Al-Muhasibi (wafat tahun 243 H):

الزَّاهِدُ، العَارِفُ، شَيْخُ الصُّوْفِيَّةِ، أَبُو عَبْدِ اللهِ الحَارِثُ بنُ أَسَدٍ البَغْدَادِيُّ، المُحَاسِبِيُّ

“Seorang yang zuhud, arif, syekh kaum Sufi, yaitu Abu ‘Abdillah Al-Harits bin Asad Al-Baghdadi Al-Muhasibi.” (Siyar A’lam An-Nubala)

Ia seorang tokoh Sufi, tapi keyakinannya tentang ketinggian Allah berbeda dengan keyakinan kebanyakan kaum Sufi di zaman ini.

Al-Harits Al-Muhasibi berkata:

وَأَمَّا قَوْلُهُ تَعَالَى:

“Adapun firman-Nya:

{الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى} [طه: 5]

“Yang Maha Pengasih, yang tinggi di atas Arsy.” (QS. Thaha: 5)

{وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ} [الأنعام: 18]

“Dan Dialah yang berkuasa di atas hamba-hamba-Nya.” (QS. Al-An’aam: 18)

{أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ} [الملك: 16]

“Sudah merasa amankah kalian, bahwa Dia yang di atas langit.” (QS. Al-Mulk: 16)

{إِذًا لَابْتَغَوْا إِلَى ذِي الْعَرْشِ سَبِيلًا} [الإسراء: 42]

“Niscaya tuhan-tuhan itu mencari jalan kepada Tuhan yang mempunyai Arsy.” (QS. Al-Isra: 42)

فَهَذِهِ وَغَيْرُهَا مِثْلُ قَوْلِهِ:

Ayat-ayat ini dan selainnya seperti firman-Nya:

{إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ} [فاطر: 10]

“Kepada-Nya lah akan naik perkataan-perkataan yang baik.” (QS. Fathir: 10)

وقَوْلِهِ:

Dan firman-Nya:

{ثُمَّ يَعْرُجُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ} [السجدة: 5]

“Kemudian urusan itu naik kepada-Nya dalam satu hari.” (QS. As-Sajdah: 5)

فهَذَا مقطع يُوجِبُ أَنَّهُ فَوْقَ الْعَرْشِ فَوْقَ الْأَشْيَاءِ مُتَنَزِّهٌ عَنِ الدُّخُولِ فِي خَلْقِهِ لَا يَخْفَى عَلَيْهِ مِنْهُمْ خَافِيَةٌ لِأَنَّهُ أَبَانَ فِي هَذِهِ الْآيَاتِ أَنَّ ذاته بِنَفْسِهِ فَوْقَ عِبَادِهِ ; لِأَنَّهُ قَالَ:

Potongan ayat ini berkonsekuensi bahwa Dia di atas Arsy di atas segala sesuatu dan Dia disucikan dari masuk ke dalam makhluk-makhluk-Nya, tetapi tidak luput bagi-nya sesuatu pun dari mereka. Sebab, Dia telah menjelaskan dalam ayat-ayat tadi bahwa zat-Nya sendiri di atas hamba-hamba-Nya. Karena, Dia berfirman:

{أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الْأَرْضَ} [الملك: 16]

“Sudah merasa amankah kalian, bahwa Dia yang di atas langit tidak akan membuat kalian ditelan bumi?” (QS. Al-Mulk: 16)

يَعْنِي فَوْقَ الْعَرْشِ وَالْعَرْشُ عَلَى السَّمَاءِ

Maksudnya yaitu di atas Arsy dan Arsy ada di atas langit.” (Fahmu Al-Quran)

Perkataan Al-Harits Al-Muhasibi ini sangat jelas menunjukkan bahwa ia meyakini ketinggian Allah, yakni bahwa Allah di atas langit, yaitu di atas Arsy-Nya.

Itu berbeda dengan keyakinan kaum Sufi di zaman ini.

Ketika mereka ditanya, “Di manakah Allah?”, apa jawaban mereka?

Sebagian mereka menjawab, “Di hati!”

Dan sebagian lain menjawab, “Di mana-mana!”

Dan yang lainnya lagi menjawab, “Dia tidak di atas dan tidak di bawah. Dia tidak di luar alam, dan tidak pula di dalam alam!”

Kalau memang mereka mengaku mengikuti dan memuliakan panutan mereka ini, yakni Al-Harits Al-Muhasibi, maka seharusnya mereka mengikuti keyakinannya dalam hal ketinggian Allah ini.

Ibnu Mas’ud-semoga Allah meridainya-berkata:

وَاللَّهُ فَوْقَ الْعَرْشِ لَا يَخْفَى عَلَيْهِ شَيْءٌ من أَعمالكُم

“Allah di atas Arsy, tetapi tidak ada sedikit pun amalan kalian yang samar bagi-Nya.” (Al-‘Uluww)

 

Siberut, 23 Jumada Al-Ulaa 1444

Abu Yahya Adiya