Siapakah Jahmiyyah?
Asy-Syahrastani berkata:
أصحاب جهم بن صفوان وهو من الجبرية الخالصة، ظهرت بدعته بترمذ، وقتله سلم بن أحوز المازني بمرو في آخر ملك بني أمية.
“Yaitu para pengikut Jahm bin Shafwan dan ia termasuk orang yang memiliki paham Jabriyyah murni. Bidahnya muncul di Tirmidz. Ia dihukum mati oleh Salm bin Ahwaz Al-Mazini di Maru di akhir pemerintahan Bani Umayyah.” (Al-Milal wa An-Nihal)
Kenapa Jahm dihukum mati?
Karena berbagai pemikiran aneh yang muncul darinya.
Seperti apa pemikiran Jahm dan pengikut-pengikutnya?
Pokok pemikiran Jahmiyyah
- Menolak nama dan sifat-Nya
Dr. Ghalib ‘Iwaji berkata:
مذهبهم في التوحيد؛ هو إنكار جميع الأسماء والصفات لله عز وجل ويجعلون أسماء الله من باب المجاز
“Pendapat mereka tentang tauhid yaitu mengingkari semua nama dan sifat Allah serta menjadikan nama-nama Allah itu majasi (tidak sebenarnya).” (Firaq Mu’ashirah Tantasibu Ilaa Al-Islam)
Tentu saja itu pendapat yang bertentangan dengan keyakinan salaf, Ahlussunnah wal Jama’ah.
Syekhul Islam berkata:
وَكَانُوا إذَا رَأَوْا الرَّجُلَ قَدْ أَغْرَقَ فِي نَفْيِ التَّشْبِيهِ مِنْ غَيْرِ إثْبَاتِ الصِّفَاتِ قَالُوا:
“Mereka (salaf) jika melihat seseorang asyik dalam meniadakan keserupaan-Nya dengan makhluk-Nya tanpa menetapkan sifat-Nya, maka mereka berkata:
هَذَا جهمي مُعَطِّلٌ؛
“Ini adalah penganut Jahmiyyah penolak sifat!”
وَهَذَا كَثِيرٌ جِدًّا فِي كَلَامِهِمْ
Ini banyak sekali dalam perkataan mereka.
فَإِنَّ الْجَهْمِيَّة وَالْمُعْتَزِلَةَ إلَى الْيَوْمِ يُسَمُّونَ مَنْ أَثْبَتَ شَيْئًا مِنْ الصِّفَاتِ مُشَبِّهًا – كَذِبًا مِنْهُمْ وَافْتِرَاءً –
Sesungguhnya Jahmiyyah dan Muktazilah sampai hari ini menyebut orang yang menetapkan sifat Allah sebagai musyabbih (orang yang menyerupakan-Nya dengan makhluk-Nya), sebagai bentuk kedustaan dan kebohongan mereka.” (Majmu’ Al-Fatawa)
- Jabriyyah (paham bahwa manusia itu terpaksa)
Ibnu Abil ‘Izz Al-Hanafi berkata:
والجبرية أصل قولهم من جهم بن صفوان
“Asal pendapat Jabriyyah itu dari Jahm bin Shafwan.” (Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah)
Jabriyyah adalah paham bahwa semua perbuatan manusia sudah ditakdirkan dan diciptakan oleh Allah, dan manusia tidak mempunyai kehendak dan pilihan sama sekali dalam hal itu.
Tentu saja itu pendapat yang bertentangan dengan keyakinan salaf, Ahlussunnah wal Jama’ah.
Syekh Ahmad Al-Ghamidi berkata:
فسلكوا مسلك الوحي: {لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ} ، كما أنهم لم يُفْرطوا في إثبات القدر إلى حد القول بالجبر، كما فعلت الجبرية
“Salaf itu menempuh jalan wahyu: ‘Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.’ Sebagaimana mereka juga tidak berlebihan dalam menetapkan takdir sehingga berpendapat bahwa manusia itu terpaksa, seperti yang diyakini oleh orang-orang berpaham Jabriyyah.” (Muqaddimah Al-Iqtishad Fii Al-I’tiqad)
- Iman itu cuma pengetahuan, tanpa ucapan dan perbuatan.
Asy-Syahrastani berkata:
ومنها قوله: من أتى بالمعرفة ثم جحد بلسانه لم يكفر بجحده، لأن العلم والمعرفة لا يزولان بالجحد، فهو مؤمن.
“Di antara pendapat Jahm yaitu pendapatnya bahwa siapa yang mengenal (Islam) lalu menentangnya dengan lisannya, maka ia tidak kafir karena penentangannya. Sebab, ilmu dan pengetahuan tidak akan hilang dengan penentangan. Ia tetap mukmin.
قال: والإيمان لا يتبعض أي لا ينقسم إلى: عقد، وقول، وعمل.
Dan ia juga berpendapat bahwa iman itu tidak terbagi menjadi keyakinan, perkataan, dan perbuatan.” (Al-Milal wa An-Nihal)
Tentu saja itu pendapat yang bertentangan dengan keyakinan salaf, Ahlussunnah wal Jama’ah.
Makanya setelah menyampaikan perkataan tadi, Asy-Syahrastani berkata:
وكان السلف كلهم من أشد الرادين عليه، ونسبته إلى التعطيل المحض.
“Dan seluruh ulama salaf termasuk orang yang sangat keras membantah Jahm dan menggolongkannya sebagai penolak sifat Allah sesungguhnya.” (Al-Milal wa An-Nihal)
- Menolak bahwa Allah ada di atas arsy-Nya.
Imam Ibnu Khuzaimah berkata:
لَا نُبَدِّلُ كَلَامَ اللَّهِ، وَلَا نَقُولُ قَوْلًا غَيْرَ الَّذِي قِيلَ لَنَا، كَمَا قَالَتِ الْمُعَطِّلَةُ الْجَهْمِيَّةُ:
“Kita tidak akan mengganti perkataan Allah dan tidak akan mengucapkan perkataan yang tidak dikatakan kepada kita, sebagaimana yang telah dikatakan oleh para penolak sifat yaitu Jahmiyyah:
إِنَّهُ اسْتَوْلَى عَلَى عَرْشِهِ، لَا اسْتَوَى
“Sesungguhnya Allah menguasai Arsy, bukan di atas Arsy!” (At-Tauhid)
Tentu saja itu pendapat yang bertentangan dengan keyakinan salaf, Ahlussunnah wal Jama’ah.
Imam Ibnu ‘Abdil Barr menyebutkan faidah dari hadis tentang turunnya Allah:
وَفِيهِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ فِي السَّمَاءِ عَلَى الْعَرْشِ مِنْ فوق سبع سموات كَمَا قَالَتِ الْجَمَاعَةُ وَهُوَ مِنْ حُجَّتِهِمْ عَلَى الْمُعْتَزِلَةِ وَالْجَهْمِيَّةِ فِي قَوْلِهِمْ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ فِي كُلِّ مَكَانٍ وَلَيْسَ عَلَى الْعَرْشِ
“Dalam hadis ini terdapat dalil bahwa Allah berada di atas langit, di atas Arsy, di atas langit yang tujuh, sebagaimana dikatakan oleh para ulama. Dan hadis ini termasuk argumen mereka untuk membantah kelompok Muktazilah dan Jahmiyyah yang berpendapat bahwa Allah ada di mana-mana, bukan di atas Arsy.” (At-Tamhid)
- Meyakini bahwa Allah tidak mungkin berkata dan Al-Quran bukanlah perkataan-Nya, serta Dia tidak mungkin dilihat di surga.
Syekhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:
و”الْجَهْمِيَّة ” نفاة الصِّفَاتِ؛ الَّذِينَ يَقُولُونَ: الْقُرْآنُ مَخْلُوقٌ وَإِنَّ اللَّهَ لَا يُرَى فِي الْآخِرَةِ وَإِنَّ مُحَمَّدًا لَمْ يُعْرَجْ بِهِ إلَى اللَّهِ
“Jahmiyyah yaitu para penolak sifat-Nya yakni orang-orang yang berpendapat bahwa Al-Quran adalah makhluk (ciptaan-Nya), Allah tidak bisa dilihat di akhirat, dan bahwa Muhammad tidak diangkat kepada Allah (mikraj).” (Majmu’ Al-Fatawa)
Tentu saja itu pendapat yang bertentangan dengan keyakinan salaf, Ahlussunnah wal Jama’ah.
Imam An-Nawawi berkata:
وروي أن الإمام أحمد بن حنبل سئل عن رجل قال: إن الله لا يتكلم بصوت ولم يكلم موسى بصوت. فقال:
“Dan diriwayatkan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal ditanya tentang seseorang yang berkata bahwa Allah tidak berbicara dengan suara dan tidak mengajak Musa berbicara dengan suara. Maka Imam Ahmad pun berkata:
هذا جهمي كافر عدو الله وعدو الإسلام أما سمع ما قال ابن مسعود: إذا تكلم الله بالوحي سمع صوته أهل السماء. وهذا لا يقوله ابن مسعود بالاجتهاد من تلقاء نفسه.
“Ini seorang Jahmiyyah, kafir, musuh Allah dan musuh Islam! Apakah ia tidak mendengar apa yang dikatakan Ibnu Mas’ud: ‘Jika Allah mengucapkan wahyu, maka suara-Nya terdengar oleh penduduk langit’? Yang seperti ini dikatakan oleh Ibnu Mas’ud bukan dari hasil ijtihadnya sendiri!” (Juzu Fiihi Dzikru I’tiqad As-Salaf fi Al-Huruuf wa Al-Ashwaath)
Imam Abu ‘Utsman Ash-Shabuni berkata:
ويشهد أهل السنة أن المؤمنين يرون ربهم تبارك وتعالى بأبصارهم وينظرون إليه على ما ورد به الخبر الصحيح عن رسول الله صلى الله عليه وسلم في قوله:
“Ahlussunnah bersaksi bahwa kaum mukminin akan melihat Tuhan mereka (pada hari kiamat) dan memandang-Nya dengan mata kepala mereka, sebagaimana disebutkan dalam hadis sahih dari Rasulullah ﷺ:
إنكم ترون ربكم كما ترون القمر ليلة البدر
“Sesungguhnya kalian akan melihat Tuhan kalian sebagaimana kalian melihat bulan purnama.” (‘Aqidah As-Salaf wa Ashhab Al-Hadits)
- Berpendapat fananya surga dan neraka.
Ibnu Abil ‘Izz Al-Hanafi berkata:
وَقَالَ بِفَنَاءِ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ الْجَهْمُ بْنُ صَفْوَانَ إِمَامُ الْمُعَطِّلَةِ،
“Jahm bin Shafwan, yakni pemimpin para penolak sifat Allah, berpendapat fananya surga dan neraka.” (Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah)
Tentu saja itu pendapat yang bertentangan dengan keyakinan salaf, Ahlussunnah wal Jama’ah.
Makanya setelah menyebutkan perkataan tadi, Ibnu Abil ‘Izz Al-Hanafi berkata:
وَلَيْسَ لَهُ سَلَفٌ قَطُّ، لَا مِنَ الصَّحَابَةِ وَلَا مِنَ التَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ، وَلَا مِنْ أَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ، وَلَا مِنْ أَهْلِ السُّنَّةِ. وَأَنْكَرَهُ عَلَيْهِ عَامَّةُ أَهْلِ السُّنَّةِ، وَكَفَّرُوهُ بِهِ
“Tidak ada pendahulu bagi Jahm seorang pun, baik dari kalangan para sahabat Nabi, maupun orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Baik dari kalangan imam kaum muslimin, maupun dari kalangan Ahlussunnah. Dan seluruh Ahlussunnah mengingkarinya dan mengafirkannya karena itu.” (Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah)
Siberut, 27 Rabi’ul Tsani 1443
Abu Yahya Adiya






