Di antara ciri khas kelompok Deobandi yaitu fanatik kepada mazhab Hanafi.
Seorang pembesar kelompok Deobandi, yaitu Al-‘Allamah Khalil Ahmad As-Saharanfuri menyebutkan dalam kitabnya Al-Muhannad ‘Alaa Al-Mufannad:
إنا بحمد الله ومشايخنا وجميع طوائفنا مقلدون للإمام أبي حنيفة في الفروع
“Sesungguhnya kami-segala puji bagi Allah-dan guru-guru kami serta semua anggota kelompok kami bertaklid kepada Imam Abu Hanifah dalam masalah cabang agama.”
Al-‘Allamah Khalil Ahmad As-Saharanfuri juga berkata:
ولأجل ذلك نحن ومشائخنا مقلدون في الأصول والفروع لإمام المسلمين أبي حنيفة رضي الله تعالى عنه
“Karena itulah kami dan guru-guru kami bertaklid kepada imam muslimin, yakni Abu Hanifah, baik dalam masalah pokok maupun cabang agama.”
Dan kelompok Deobandi memiliki madrasah besar yang dinamakan Darul ‘Ulum. Tujuan utama mereka mendirikan itu adalah untuk mendukung mazhab Hanafi dan menyebarkannya serta ‘menggiring’ As-Sunnah pada fikih mazhab Hanafi.
Itu kenyataan yang tidak berlebihan. Karena, beberapa pembesar Deobandi mengakui demikian.
Suatu hari pembesar Deobandi, Syekh Muhammad Syafii’ menemui gurunya Syekh Muhammad Anwar Al-Kasymiri di kamarnya sebelum salat Subuh. Lalu ia mendengar gurunya itu mengulang-ulang perkataan:
يا للأسف قد ضيّعت حياتي كلها
“Aduhai, aku telah menyia-nyiakan seluruh hidupku!”
Syekh Muhammad Syafii’ bertanya:
يا شيخنا! لقد قضيت حياتك كلها في تدريس القرآن والحديث، فإذا كانت هذه المهنة تضييعاً للحياة فما رأيك في أولئك الذين انشغلوا بهذه المهنة؟
“Wahai syekh kami! Sungguh, engkau telah menghabiskan seluruh hidupmu untuk mengajar Al-Quran dan hadis. Jika pekerjaan tersebut menyia-nyiakan hidup, maka bagaimana pula pendapatmu tentang mereka yang sibuk dengan pekerjaan tersebut?”
Syekh Muhammad Anwar menjawab:
إن الإسلام مهجوم عليه في جميع أنحاء العالم، ونحن مشغولون بتأييد الإمام أبي حنيفة وتوثيقه، وردِّ العلماء المخالفين له ونقدهم، بدلاً من أن نواجه الهجمات الحقيقية ضد الإسلام، فما هذا إن لمن يكن تضييعاً للحياة؟”
“Sesungguhnya Islam diserang dari segala penjuru dunia, sedangkan kita sibuk mendukung dan memperkuat Imam Abu Hanifah serta membantah dan mengkritik para ulama yang menyalahi beliau, dan bukannya menghadapi serangan yang sebenarnya melawan Islam. Maka apakah itu kalau bukan perbuatan yang menyia-nyiakan hidup?”
Seorang pembesar Deobandi, Syekh Abdus Syakur Al-Hanafi berkata dalam suatu makalah:
ولكن الحقيقة أن مدرسة ديوبند هي المدرسة الوحيدة التي تحمل راية خدمة الإسلام الصحيح وتأييد المذهب الحنفي الخالص
“Namun, kenyataannya madrasah Deobandi adalah satu-satunya madrasah yang mengusung panji pemuliaan terhadap Islam yang benar dan mendukung mazhab Hanafi yang murni.” (Barakaat Deobandi)
Syekh Mahmud Al-Hasan Ad-Deobandi mewajibkan pengikut Deobandi untuk bertaklid kepada Imam Abu Hanifah, walaupun pendapat beliau bertentangan dengan pendapat yang jelas-jelas benar. Beliau berkata:
فالحاصل: أن مسألة الخيار من مهمات المسائل، وخالف أبو حنيفة فيه الجمهور وكثيراً من الناس المتقدمين والمتأخرين، وصنفوا رسائل في ترديد مذهبه في هذه المسألة، ورجّح مولانا الشاه ولي الله المحدث الدهلوي قدس سره في رسالته مذهب الشافعي من جهة الأحاديث والنصوص، وكذلك قال شيخنا مدّ ظله بترجيح مذهبه، وقال:
“Walhasil, masalah khiyar termasuk masalah yang penting. Dalam hal ini, Abu Hanifah menyalahi mayoritas ulama dan juga banyak orang dari kalangan terdahulu maupun belakangan. Dan mereka telah menulis berbagai tulisan dalam rangka menyebutkan pendapat Abu Hanifah dalam masalah ini. Penghulu kami Syekh Waliyullah Al-Muhadits Ad-Dahlawi-semoga Allah menyucikan rohnya-dalam tulisannya menguatkan pendapat Asy-Syafi’i dari sisi hadis dan nas. Demikian pula syekh kami-semoga Allah memanjangkan pengaruhnya-menguatkan pendapat Asy-Syafi’i dan beliau berkata:
الحق والإنصاف أن الترجيح للشافعي في هذه المسألة. ونحن مقلدون يجب علينا تقليد إمامنا أبي حنيفة
“Yang benar dan bijak bahwa yang kuat adalah pendapat Asy-Syafi’i dalam masalah ini. Namun, kita bertaklid dan wajib taklid kepada imam kita yaitu Abu Hanifah.”
Artinya, walaupun dalam masalah khiyar ia mengakui bahwa pendapat Asy-Syafi’i adalah pendapat yang benar, tapi pengikut Deobandi tetap harus mengikuti pendapat Imam Abu Hanifah dan jangan mengikuti pendapat imam Asy-Syafi’i. Karena, mengikuti pendapat Imam Abu Hanifah adalah kewajiban bagi pengikut Deobandi.
Bukankah itu yang namanya fanatik mazhab?
Bukankah itu sebenarnya diingkari juga oleh Imam Abu Hanifah?
Imam Abu Hanifah berkata:
إذا قلتُ قولاً يخالف كتاب الله تعالى، وخبر الرسول ﷺ؛ فاتركوا قولي
“Jika aku menyatakan pendapat yang bertentangan dengan kitab Allah dan kabar Rasul ﷺ (hadis), maka tinggalkanlah ucapanku!” (Iiqazh Himam Uli Al-Abshar Li Al-Iqtida Bisayyid Al-Muhajirin wa Al-Anshar)






