Fikih Puasa 23

Fikih Puasa 23

‘Abdullah bin ‘Umar berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِذَا أَفْطَرَ قَالَ

“Rasulullah ﷺ jika berbuka mengucapkan:

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتْ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

“Telah hilang dahaga, telah basah kerongkongan, dan telah tetap pahala, insya Allah.” (HR. Abu Daud)

Telah hilang dahaga, maksudnya…

العطش الذي كان موجوداً من قبل بسبب الصيام، وهو يذهب بشرب الماء.

“Yaitu hilang rasa haus yang sebelumnya ada karena puasa. Ia hilang karena meminum air.” (Syarh Sunan Abu Daud)

Telah basah kerongkongan, maksudnya…

وابتلت العروق يعني: التي كانت قد يبست بسبب الإمساك والامتناع عن الأكل والشرب.

“Telah basah kerongkongan yang sebelumnya kering dikarenakan menahan diri dari makan dan minum.” (Syarh Sunan Abu Daud)

Dan telah tetap pahala, maksudnya…

وَثَبَتَ الْأَجْرُ أَيْ زَالَ التَّعَبُ وَحَصَلَ الثَّوَابُ

“Maksudnya yaitu hilanglah keletihan dan telah ada pahala.” (Mirqatul Mafatih Syarh Misykatul Mashabih)

Insya Allah, maksudnya…

يعني: حتى لا يكون الإنسان جازماً بالشيء،

“Maksudnya supaya seseorang tidak memastikan sesuatu.” (Syarh Sunan Abu Daud)

Artinya seseorang tidak bisa memastikan apakah ibadah yang ia lakukan diterima Allah atau tidak. Tidak bisa memastikan apakah ia mendapat pahala atau tidak. Sebab, kepastian itu bukan di tangan hamba, melainkan di tangan Tuhannya seluruh hamba.

Faidah yang bisa kita petik dari hadis di atas:

1. Anjuran untuk membaca doa tadi ketika berbuka puasa.

2. Anjuran untuk semangat dalam beribadah. Sebab, kenikmatan yang akan kita rasakan darinya lebih banyak dan lebih besar daripada keletihan yang telah kita rasakan darinya.
Mullah ‘Ali Qari berkata:

وَهَذَا حَثٌّ عَلَى الْعِبَادَاتِ، فَإِنَّ التَّعَبَ يَسِيرٌ لِذَهَابِهِ وَزَوَالِهِ، وَالْأَجْرُ كَثِيرٌ لِثَبَاتِهِ وَبَقَائِهِ،

“Ini adalah anjuran untuk melakukan berbagai ibadah. Sebab, keletihan itu ringan dikarenakan ia akan hilang dan akan lenyap. Sedangkan pahala itu banyak dikarenakan ia akan tetap dan langgeng.” (Mirqatul Mafatih Syarh Misykatul Mashabih)

3. Pahala yang didapat setelah melakukan suatu ibadah adalah nikmat yang perlu disyukuri.

Ath-Thibi berkata:

ذِكْرُ ثُبُوتِ الْأَجْرِ بَعْدَ زَوَالِ التَّعَبِ اسْتِلْذَاذٌ أَيَّ اسْتِلْذَاذٍ

“Penyebutan tetapnya pahala setelah hilangnya keletihan adalah kenikmatan yang tak terkira.” (Mirqatul Mafatih Syarh Misykatul Mashabih)

Mana yang terasa lebih manis dan nikmat: mendapat makanan dengan cuma-cuma atau mendapat makanan melalui peras keringat dan bekerja?

Makanya, tatkala orang-orang mukmin dan saleh menginjakkan kaki mereka di surga, yang mereka ucapkan adalah:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَذْهَبَ عَنَّا الْحَزَنَ إِنَّ رَبَّنَا لَغَفُورٌ شَكُورٌ

“Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kesedihan dari kami. Sesungguhnya Tuhan kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS. Fathir: 34)

Ya, mereka merasakan kenikmatan setelah sebelumnya dirundung penderitaan. Itulah kenikmatan yang sempurna.

4. Bantahan terhadap kelompok Muktazilah.
Menurut kelompok Muktazilah, pahala yang diterima oleh seorang hamba adalah murni kompensasi atas amalannya. Tidak ada karunia dan kebaikan Allah dalam hal itu.

Seorang bisa selamat dari neraka dan masuk surga adalah murni karena amalnya selama di dunia, bukan karena Allah mencurahkan kasih sayang kepadanya.

Itu keyakinan Muktazilah. Dan itu adalah keyakinan yang batil. Sebab…

Apakah sebanding amalan kita dengan surga?!

Sehebat apa pun amalan kita tidak sebanding dengan kenikmatan surga yang luasnya seluas langit dan bumi!

Nabi ﷺ bersabda:

واعْلَمُوا أَنَّه لَنْ ينْجُو أحدٌ منْكُمْ بعملهِ”

“Ketahuilah, bahwasanya tidak seorang pun yang bisa selamat semata-mata karena amalannya.”

Para sahabat bertanya:

وَلا أنْت يَا رسُولَ اللَّه؟

“Termasuk engkau juga wahai Rasulullah.”

Beliau ﷺ menjawab:

وَلاَ أَنَا إلاَّ أنْ يتَغَمَّدني اللَّه برَحْمةٍ منْه وَفضْلٍ

“Termasuk aku juga. Tidak bisa. Hanya saja Allah  meliputi diriku dengan rahmat dan karunia dari-Nya.” (HR. Muslim)

Amal bisa menyebabkan seseorang masuk surga. Namun, seseorang bisa masuk surga bukan karena amal semata.
Amal bisa menyebabkan seseorang terhindar dari neraka. Namun, seseorang bisa terhindar dari neraka bukan karena amal semata.
Amal memang sangat membantu, tapi ia bukanlah penentu.
Amal memang banyak manfaatnya, tapi ia bukanlah segala-galanya.
Kalau bukan karena rahmat Allah, kita semua tidak akan masuk surga!

Karena itu, sehebat apa pun amalmu, jangan sombong dan jangan angkuh!

Surga dan neraka ada di tangan Tuhanmu, dan bukan di tanganmu!

Syekh ‘Abdul Muhsin berkata:

إن هذا فيه إشارة إلى أن الأمر كله إلى الله عز وجل، وأنه كله بيد الله سبحانه وتعالى

“Dalam hadis tadi terdapat isyarat yang menunjukkan bahwa seluruh perkara itu kembali kepada Allah, dan semuanya berada di tangan Allah.” (Syarh Sunan Abu Daud)

Siberut, 17 Ramadhan 1441
Abu Yahya Adiya

Sumber:

1. ‘Aun Al-Ma’bud Syarh Sunan Abu Daud karya Al-‘Azhim Abadi

2. Mirqatul Mafatih Syarh Misykatul Mashabih karya Mullah ‘Ali Al-Qari

3. Syarh Riyadhus Shalihin karya Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin

4. Syarh Sunan Abu Daud karya Syekh ‘Abdul Muhsin Al-‘Abbad