17. Memanjangkan duduk di antara dua sujud
Anas bin Malik berkata:
إِنِّي لاَ آلُو أَنْ أُصَلِّيَ بِكُمْ، كَمَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ ﷺ يُصَلِّي بِنَا
“Aku tidak akan segan-segan untuk mencontohkan kepada kalian cara salat, sebagaimana aku melihat Nabi ﷺ mengimami salat kami.”
Tsabit Al-Bunani berkata:
كَانَ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ يَصْنَعُ شَيْئًا لَمْ أَرَكُمْ تَصْنَعُونَهُ – ” كَانَ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ قَامَ حَتَّى يَقُولَ القَائِلُ: قَدْ نَسِيَ وَبَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ حَتَّى يَقُولَ القَائِلُ: قَدْ نَسِيَ
“Anas bin Malik mengerjakan sesuatu yang belum pernah kulihat kalian mengerjakannya. Jika mengangkat kepalanya dari rukuk, ia berdiri (lama) hingga ada orang yang berkata, ‘Ia lupa’. Dan jika duduk di antara dua sujud, ia berdiam lama hingga ada orang yang berkata, ‘Ia lupa.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:
والآفةُ التي جاءت المسلمين في هذا الرُّكن: القيام بعد الرُّكوعِ، وفي الرُّكن الذي بين السجدتين كما يقول شيخ الإِسلام: إنَّ هذا من بعض أمراء بني أميَّة
“Musibah yang menimpa kaum muslimin terkait rukun ini yaitu iktidal dan duduk di antara dua sujud, sebagaimana perkataan Syekhul Islam bahwa itu berasal dari sebagian pemimpin Bani Umayyah.
فإنهم كانوا لا يطيلون هذين الرُّكنين، والنَّاسُ على دين ملوكهم
Karena, mereka tidak memanjangkan dua rukun ini. Sedangkan orang-orang mengikuti agama pemimpin mereka.
فتلقّى النَّاسُ عنهم التَّخفيفَ في هذين الرُّكنين فظنَّ كثيرٌ من النَّاسِ أنَّ ذلك هو السُّنَّة، فماتت السُّنَّةُ حتى صار إظهارُها من المنكر، أو يكاد يكون منكراً، حتى إن الإِنسان إذا أطال فيهما ظَنَّ الظَّانُّ أنه قد نسيَ أو وَهِمَ.
Orang-orang mengambil dari mereka kebiasaan meringankan dua rukun ini, sehingga banyak orang yang mengira bahwa itu adalah sunnah. Maka, matilah sunnah memanjangkan keduanya hingga akhirnya menampakkan sunnah itu termasuk perkara yang diingkari atau hampir saja diingkari. Sampai-sampai seseorang jika memanjangkan keduanya, akan disangka bahwa ia lupa atau salah.” (Asy-Syarh Al-Mumti’ ‘Alaa Zaad Al-Mustaqni’)
18. Duduk istirahat yaitu duduk ketika bangkit dari sujud menuju rakaat berikutnya.
Abu Qilabah berkata:
جَاءَنَا مَالِكُ بْنُ الحُوَيْرِثِ، فَصَلَّى بِنَا فِي مَسْجِدِنَا هَذَا، فَقَالَ:
“Malik bin Al-Huwairits mendatangi kami, lalu mengimami salat kami di masjid kami ini. Lalu ia berkata:
إِنِّي لَأُصَلِّي بِكُمْ وَمَا أُرِيدُ الصَّلاَةَ، وَلَكِنْ أُرِيدُ أَنْ أُرِيَكُمْ كَيْفَ رَأَيْتُ النَّبِيَّ ﷺ يُصَلِّي
“Sesungguhnya aku akan melaksanakan salat di hadapan kalian dan aku tidak ingin salat. Aku melaksanakan salat sebagaimana kulihat Nabi ﷺ melaksanakan salat.
Ayyub As-Sikhtiyani bertanya kepada Abu Qilabah:
وَكَيْفَ كَانَتْ صَلاَتُهُ؟
“Bagaimana salatnya?”
Abu Qilabah berkata:
مِثْلَ صَلاَةِ شَيْخِنَا هَذَا
“Seperti salatnya syekh kita ini.”
Syekh itu adalah ‘Amru bin Salimah.
Ayyub As-Sikhtiyani berkata:
وَكَانَ ذَلِكَ الشَّيْخُ يُتِمُّ التَّكْبِيرَ، وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ عَنِ السَّجْدَةِ الثَّانِيَةِ جَلَسَ وَاعْتَمَدَ عَلَى الأَرْضِ، ثُمَّ قَامَ
“Syekh itu selalu menyempurnakan takbir. Dan jika mengangkat kepalanya dari sujud yang kedua, ia duduk dan bertumpu di atas tanah, kemudian baru berdiri.” (HR. Bukhari)
Ibnu Baththal berkata:
وبهذا الحديث أخذ الشافعى فى أن كل من سجد السجدة الآخرة من الركعة الأولى أو الثانية، أنه لا يقوم حتى يستوى جالسًا
“Imam Asy-Syafi’i berpegang dengan hadis ini untuk menyatakan bahwa siapa yang sujud kedua dalam rakaat pertama atau kedua, maka hendaknya ia tidak bangkit sampai duduk dengan sempurna.” (Syarh Shahih Al-Bukhari)
19. Bertumpu pada tangan ketika bangkit dari sujud menuju rakaat berikutnya
Berdasarkan hadis Abu Qilabah tadi.
20. Duduk ifitrasy ketika tasyahud awal
Abu Humaid As-Sa’idi menceritakan tata cara salat Nabi ﷺ:
فَإِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ جَلَسَ عَلَى رِجْلِهِ اليُسْرَى، وَنَصَبَ اليُمْنَى
“Apabila duduk pada rakaat kedua, beliau duduk di atas kakinya yang kiri dan menegakkan kakinya yang kanan.” (HR. Bukhari)
21. Membaca salawat setelah tasyahud awal.
‘Aisyah menyebutkan cara salat witir yang dipraktekkan Nabi ﷺ:
ثُمَّ يُصَلِّي تِسْعَ رَكَعَاتٍ لَا يَجْلِسُ فِيهِنَّ إِلَّا عِنْدَ الثَّامِنَةِ، فَيَدْعُو رَبَّهُ وَيُصَلِّي عَلَى نَبِيِّهِ، ثُمَّ يَنْهَضُ وَلَا يُسَلِّمُ، ثُمَّ يُصَلِّي التَّاسِعَةَ فَيَقْعُدُ، ثُمَّ يَحْمَدُ رَبَّهُ وَيُصَلِّي عَلَى نَبِيِّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيَدْعُو، ثُمَّ يُسَلِّمُ تَسْلِيمًا يُسْمِعُنَا
“Beliau melaksanakan salat sembilan rakaat tanpa duduk kecuali di rakaat kedelapan. Beliau kemudian berdoa kepada Tuhannya, dan mengucapkan salawat kepada nabi-Nya. Lalu beliau bangkit tanpa mengucapkan salam, lalu melaksanakan salat di rakaat kesembilan, lalu duduk tasyahud. Kemudian beliau memuji Tuhannya, dan mengucapkan salawat kepada nabi-Nya dan berdoa. Lalu beliau mengucapkan salam yang terdengar oleh kami.“ (HR. Abu ‘Awanah)
22. Berdoa setelah tasyahud awal.
Nabi ﷺ bersabda:
إِذَا قَعَدْتُمْ فِي كُلِّ رَكْعَتَيْنِ، فَقُولُوا:
“Jika kalian duduk pada setiap dua rakaat, maka ucapkanlah:
التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ، وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ…
“Penghormatan, rahmat dan kebaikan hanya milik Allah…(bacaan tasyahud)”
ثُمَّ لِيَتَخَيَّرْ أَحَدُكُمْ مِنَ الدُّعَاءِ أَعْجَبَهُ إِلَيْهِ، فَلْيَدْعُ بِهِ رَبَّهُ عَزَّ وَجَلَّ
Lalu hendaknya salah seorang dari kalian memilih doa yang ia sukai, lalu berdoalah kepada Tuhannya dengan doa itu.“ (HR. Ahmad)
23. Bertakbir dan mengangkat tangan ketika bangkit dari duduk tasyahud awal menuju rakaat ketiga.
Ibnu ‘Umar berkata:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِذَا قَامَ مِنَ الرَّكْعَتَيْنِ كَبَّرَ وَرَفَعَ يَدَيْهِ
“Rasulullah ﷺ jika bangkit dari dua rakaat, beliau bertakbir dan mengangkat kedua tangannya.“ (HR. Abu Daud)
24. Duduk tawaruk ketika tasyahud akhir
Abu Humaid As-Sa’idi menceritakan salat Nabi ﷺ:
وَإِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَةِ الآخِرَةِ قَدَّمَ رِجْلَهُ اليُسْرَى، وَنَصَبَ الأُخْرَى وَقَعَدَ عَلَى مَقْعَدَتِهِ
“Dan jika duduk di rakaat terakhir, beliau menjulurkan kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya dan beliau duduk di atas pantatnya.” (HR. Bukhari)
25. Membaca salawat ketika tasyahud akhir
Berdasarkan hadis ‘Aisyah yang menyebutkan salah satu tata cara salat witir yang dipraktekkan oleh Nabi ﷺ. (lihat nomor 21)
26. Berdoa setelah tasyahud akhir
Berdasarkan hadis riwayat Ahmad yang disebutkan pada nomor 22 di atas.
27. Mengucapkan salam kedua
‘Aisyah pernah mengabarkan bahwa Nabi ﷺ pernah mengucapkan salam hanya sekali dalam salat (HR. Tirmidzi no. 296)
Mengucapkan salam kedua adalah sunnah, bukanlah wajib. Sebab, seandainya mengucapkan salam kedua adalah wajib, tentu Nabi ﷺ tidak akan meninggalkannya walaupun cuma sekali.
Siberut, 3 Jumada Ats-Tsaniyah 1442
Abu Yahya Adiya
Sumber:
- Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Muyassarah Fii Fiqh Al-Kitab wa As-Sunnah Al-Muthahharah karya Husain bin ‘Audah Al-‘Awayisyah.
- Shahih Fiqh As-Sunnah karya Abu Malik Kamal bin As-Sayyid.
- ‘Umdah Al-Qari Syarh Shahih Al-Bukhari karya Imam Al-‘Aini.
- http://www.islamqa.com






