Jawaban Untuk Orang Awam

Jawaban Untuk Orang Awam

Tidak nyambung dengan dalil. Itulah keadaan sebagian orang awam.

Berbagai ayat dan hadis sampai kepada mereka, tapi karena parahnya keawaman mereka, bisa jadi itu tidak connect dengan akal mereka, sehingga akhirnya mereka menolak itu.

Tentu saja itu perkara yang sangat berbahaya. Karenanya, ketika menghadapi penentangan dari orang awam, tidak mesti seorang dai menjawabnya dengan puluhan ayat Al-Quran dan hadis.

Adakalanya kesalahan orang awam bisa diluruskan dengan dalil akli yakni penjelasan yang sesuai dengan akal dan logikanya, tanpa menyebutkan satu pun ayat atau hadis kepadanya.

Seperti apa contohnya?

 

Suka Mencela

Orang awam: “Anda ini suka mencela!”

Dai: “Kenapa begitu? Apa maksudnya?”

Orang awam: “Sebentar-sebentar Anda berkata, ini salah, itu salah! Sebentar-sebentar, ini syirik itu bidah!”

Dai: “Itu bukan mencela. Itu namanya mengingatkan.”

Orang awam: “Alah, sama saja!”

Dai: “Oke, saya mau bertanya kepada Anda, dua ditambah dua sama dengan berapa?”

Orang awam: “Tentu saja empat!”

Dai: “Kalau saya katakan dua ditambah dua sama dengan lima, maka bagaimana?”

Orang awam: “Ya salahlah!”

Dai: “Anda mencela saya?!”

Orang awam: “……”

 

Merasa Benar

Orang awam: “Jangan merasa paling benar!”

Dai: “Anda merasa sikap saya salah?”

Orang awam: “Ya.”

Dai: “Dan Anda merasa penilaian Anda tentang saya adalah benar?”

Orang awam: “Ya.”

Dai: “Kalau begitu, Anda juga jangan merasa paling benar!”

Orang awam: “…….”

 

Sudah Tradisi

Orang awam: “Bagaimana bisa Anda menyalahkan ibadah yang saya lakukan, padahal itu sudah merupakan tradisi di kampung saya?!”

Dai: “Saya mau bertanya, manakah yang lebih baik, kampung Anda atau kampung Nabi?”

Orang awam: “Ya kampung Nabi lah.”

Dai: “Kalau ibadah yang Anda lakukan ada di kampung Anda, tapi tidak ada di kampung Nabi, maka bisakah perbuatan Anda dibenarkan?”

Orang awam: “…….”

 

Doktor vs Non Doktor

Orang awam: “Saya tidak percaya kepada ucapan Anda, karena Anda bukan seorang doktor, sedangkan guru saya itu seorang doktor!”

Dai: “Kalau yang mengutarakan suatu pendapat adalah seorang doktor, maka Anda akan menerima pendapatnya?”

Orang awam: “Ya.”

Dai: “Pendapat guru Anda telah dibantah juga oleh seorang doktor. Bukan cuma satu doktor, melainkan ratusan doktor!”

Orang awam: “…….”

 

Mayoritas vs Minoritas

Orang awam: “Yang Anda lakukan itu cuma dilakukan oleh segelintir orang, sedangkan yang saya lakukan ini adalah praktek mayoritas orang! Apakah mayoritas orang salah, lalu Anda yang benar?!”

Dai: “Kalau mayoritas orang meyakini suatu keyakinan, berarti keyakinan itu pasti baik dan benar?”

Orang awam: “Ya, tentu saja!”

Dai: “Kalau mayoritas orang melakukan suatu perbuatan, berarti perbuatan itu pasti baik dan benar?”

Orang awam: “Ya, tentu saja!”

Dai: “Saya mau bertanya, apakah umat Islam adalah pemeluk agama terbesar dan terbanyak di dunia?”

Orang awam: “Tidak.”

Dai: “Kalau begitu, Islam bukan agama yang paling benar?”

Orang awam: “……”

Dai: “Atau saya tanya lagi, di dalam umat Islam, manakah yang lebih banyak, orang-orang yang sering ‘muncul’ di masjid atau orang-orang yang jarang ‘muncul’ di masjid?”

Orang awam: “Yang jarang ‘muncul’ di masjid lebih banyak.”

Dai: “Manakah yang lebih banyak, orang-orang yang memiliki perhatian terhadap ilmu agama atau orang-orang yang tidak memiliki perhatian terhadap ilmu agama?”

Orang awam: “Yang tidak memiliki perhatian terhadap ilmu agama lebih banyak.”

Dai: “Manakah yang lebih banyak, orang-orang yang menaati aturan syariat atau orang-orang yang melanggar aturan syariat?”

Orang awam: “Yang melanggar aturan syariat lebih banyak.”

Dai: “Kalau memang apa pun yang dilakukan oleh mayoritas itu pasti baik dan benar, berarti sering ‘muncul’ di masjid, memiliki perhatian terhadap ilmu agama, dan menaati aturan syariat adalah  perbuatan yang buruk dan salah?”

Orang awam: “……”

 

Siberut, 25 Rabi’ul Tsani 1444

Abu Yahya Adiya