Seorang Yahudi menolak hadis Nabi?
Itu wajar.
Seorang Komunis memalsukan hadis?
Itu wajar.
Namun, kalau seseorang mengaku muslim lalu menolak hadis atau memalsukan hadis? Itu sangat tidak wajar!
Imam Al-Humaidi berkata:
وَاللهِ لأَنْ أَغْزُوَ هَؤُلاَءِ الَّذِيْنَ يَرُدُّوْنَ حَدِيْثَ رَسُوْلِ اللهِ ﷺ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَغزُوَ عِدَّتَهُم مِنَ الأَترَاكِ
“Demi Allah, seandainya aku menyerang mereka yang menolak hadis Rasulullah ﷺ, tentu itu lebih kusukai daripada menyerang pasukan Turki.” (Siyar A’lam An-Nubala)
Dan Turki ketika itu masih kafir.
Artinya, orang yang mengaku muslim tapi menolak hadis Rasulullah ﷺ, itu lebih berbahaya daripada orang yang jelas-jelas kafir. Karena, “musuh dalam selimut lebih berbahaya daripada musuh di luar selimut”!
Imam Abul Fadhl Al-Hamdani berkata:
مبتدعة الاسلام والواضعون للأحاديث أشد من الملحدين
“Para pembuat bidah dalam Islam dan pemalsu hadis-hadis mereka itu lebih parah daripada kelompok ateis.”
Kenapa beliau sampai mengatakan demikian?
Kata beliau:
لأن الملحدين قصدوا إفساد الدين من خارج، وهؤلاء قصدوا إفساده من داخل، فهم كأهل بلد سعوا في إفساد أحواله، والملحدون كالمحاصرين من خارج، فالدخلاء يفتحون الحصن، فهو شر على الإسلام من غير الملابسين له
“Karena, kelompok ateis ingin merusak agama dari luar, sedangkan mereka ingin merusak agama dari dalam. Mereka seperti penduduk suatu negeri yang berusaha merusak keadaan negeri tersebut, sedangkan kelompok ateis seperti orang-orang yang mengepung dari luar. Lalu para penyusup itu membukakan benteng. Makanya, mereka itu lebih buruk bagi Islam daripada orang yang tidak memeluk agama Islam.” (Al-Maudhu’aat)
Ketika seorang muslim membantah mereka yang menolak hadis Nabi atau memalsukan hadis Nabi, sebenarnya ia sedang berusaha menjaga syariat-Nya dan itu juga sebagai bentuk cintanya kepada nabi-Nya.
Karena itu, jangan sampai kita justru menyalahkannya dengan alasan perbuatannya akan merusak persatuan umat!
Siberut, 8 Rabi’ul Tsani 1443
Abu Yahya Adiya






