Ketinggian Allah, Abu Hanifah, dan Maturidiyyah

Ketinggian Allah, Abu Hanifah, dan Maturidiyyah

Imam Abu Hanifah An-Nu’man bin Tsabit. Seorang imam mazhab yang sangat terkenal. Banyak kaum muslimin yang mengakui keutamaannya.

Di antara mereka yang mengakui keutamaan beliau yaitu sekte Maturidiyyah. Bukan cuma mengakui keutamaan beliau, banyak dari penganut sekte Maturidiyyah yang mengaku mengikuti mazhab beliau. Lantas, sebenarnya, samakah akidah mereka dengan akidah beliau?

Imam Abu Hanifah berkata:

من قَالَ لَا اعرف رَبِّي فِي السَّمَاء اَوْ فِي الأَرْض فقد كفر وَكَذَا من قَالَ إِنَّه على الْعَرْش وَلَا ادري الْعَرْش أَفِي السَّمَاء اَوْ فِي الأَرْض وَالله تَعَالَى يدعى من أَعلى لَا من أَسْفَل

“Siapa yang mengatakan, ‘Aku tidak tahu Tuhanku di atas langit atau di bumi’, maka sungguh, ia telah kafir. Begitu juga siapa yang mengatakan, ‘Dia di atas Arsy, tapi aku tidak tahu, apakah Arsy di atas langit atau di bumi.’ Allah Yang Maha Tinggi diseru dari atas bukan dari bawah.” (Al-Fiqh Al-Akbar)

Setelah itu Imam Abu Hanifah menyebutkan hadis budak wanita yang ditanya oleh Nabi ﷺ tentang di mana Allah lalu ia menunjuk ke atas langit.

Imam Abu Hanifah juga berkata:

من أنكر أَن الله عزوجل فِي السَّمَاء فقد كفر

“Siapa yang mengingkari bahwa Allah di atas langit, maka sungguh, ia telah kafir.” (Al-‘Uluw Li Al-‘Aliyy Al-Ghaffar)

Ternyata Imam Abu Hanifah menetapkan keberadaan Allah di atas langit, yaitu di atas Arsy-Nya.

Bukan cuma Imam Abu Hanifah saja yang menetapkan keberadaan Allah di atas Arsy-Nya, bahkan murid beliau pun menetapkan itu.

Di antara murid Imam Abu Hanifah yang terkenal yaitu Imam Muhammad bin Al-Hasan.

Apa pendapat Imam Muhammad bin Al-Hasan tentang di mana Allah?

‘Amru bin Wahb berkata:

سَمِعْتُ شَدَّادَ بْنَ حَكِيمٍ يَذْكُرُ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْحَسَنِ، فِي الْأَحَادِيثِ الَّتِي جَاءَتْ: «إِنَّ اللَّهَ يَهْبِطُ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا» وَنَحْوَ هَذَا مِنَ الْأَحَادِيثِ:

“Aku mendengar Syaddad bin Hakam menyebutkan dari Muhammad bin Al-Hasan tentang hadis-hadis yang menyebutkan bahwa Allah turun ke langit dunia dan hadis yang semacamnya, ia berkata:

إِنَّ هَذِهِ الْأَحَادِيثَ قَدْ رَوَتْهَا الثِّقَاتُ، فَنَحْنُ نَرْوِيهَا وَنُؤْمِنُ بِهَا وَلَا نُفَسِّرُهَا

“Sesungguhnya hadis-hadis ini telah diriwayatkan oleh orang-orang terpercaya. Kita meriwayatkan itu, meyakininya dan tidak menafsirkannya.” (Syarh As-Sunnah)

Kalau Imam Muhammad bin Al-Hasan menerima dan menetapkan hadis tentang Allah turun ke langit dunia, maka itu menunjukkan bahwa beliau menetapkan keberadaan Allah di atas langit, yaitu di atas Arsy-Nya.

Imam Ibnu ‘Abdil Barr menyebutkan faidah dari hadis tentang turunnya Allah:

وَفِيهِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ فِي السَّمَاءِ عَلَى الْعَرْشِ مِنْ فوق سبع سموات كَمَا قَالَتِ الْجَمَاعَةُ وَهُوَ مِنْ حُجَّتِهِمْ عَلَى الْمُعْتَزِلَةِ وَالْجَهْمِيَّةِ فِي قَوْلِهِمْ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ فِي كُلِّ مَكَانٍ وَلَيْسَ عَلَى الْعَرْشِ

“Dalam hadis ini terdapat dalil bahwa Allah berada di atas langit, di atas Arsy, yaitu di atas langit yang ketujuh, sebagaimana itu dikatakan oleh para ulama. Dan hadis ini termasuk argumen mereka untuk membantah kelompok Muktazilah dan Jahmiyyah yang berpendapat bahwa Allah ada di mana-mana, bukan di atas Arsy.” (At-Tamhid)

Bukan cuma Imam Muhammad bin Al-Hasan saja. Murid Imam Abu Hanifah lainnya pun menetapkan keberadaan Allah di atas langit.

Di antara murid Imam Abu Hanifah yang terkenal, selain Imam Muhammad bin Al-Hasan, yaitu Al-Qadhi Abu Yusuf.

Apa pendapat Al-Qadhi Abu Yusuf tentang di mana Allah?

Bisyr bin Al-Walid Al-Kindi mendatangi Al-Qadhi Abu Yusuf lalu berkata kepadanya:

تنهاني عَن الْكَلَام وَبشر المريسي وَعلي الْأَحول وَفُلَان يَتَكَلَّمُونَ

“Engkau melarangku dari membahas ilmu kalam, sedangkan Bisyr Al-Marisi, ‘Ali Al-Ahwal, dan fulan membahas ilmu kalam!”

Al-Qadhi Abu Yusuf berkata:

وَمَا يَقُولُونَ

“Apa yang mereka katakan?”

Bisyr bin Al-Walid Al-Kindi berkata:

يَقُولُونَ الله فِي كل مَكَان

“Mereka berpendapat bahwa Allah di mana-mana.”

Al-Qadhi Abu Yusuf berkata:

عَليّ بهم

“Bawa mereka kepadaku!”

Lalu datanglah ‘Ali Al-Ahwal, dan satu orang tua. Kemudian Al-Qadhi Abu Yusuf berkata sambil memandang kepada orang tua itu:

لَو أَن فِيك مَوضِع أدب لأوقعتك

“Seandainya pada dirimu ada tempat untuk menerima pelajaran, tentu aku akan memberikan pelajaran kepadamu!”

Basyar bin Musa berkata:

فَأمر بِهِ إِلَى الْحَبْس وَضرب الْأَحول وطوف بِهِ

“Lalu Al-Qadhi Abu Yusuf memerintahkan agar orang itu dipenjara, sedangkan ‘Ali Al-Ahwal dipukul dan diarak.” (Al-‘Uluw Li Al-‘Aliyy Al-Ghaffar)

Pengingkaran Al-Qadhi Abu Yusuf terhadap tokoh-tokoh Muktazilah tadi yang berpendapat bahwa Allah ada di mana-mana, itu menunjukkan bahwa beliau menetapkan keberadaan Allah di atas langit, yaitu di atas Arsy-Nya.

Maka, jelaslah bahwa keyakinan Imam Abu Hanifah dan murid-muridnya berbeda dengan keyakinan sekte Maturidiyyah.

Karena, sekte Maturidiyyah berpendapat bahwa Allah tidak di atas, dan tidak di bawah, Dia tidak di luar alam, dan tidak pula di dalam alam!

Sebagaimana itu pernyataan tokoh dan pencetus sekte Maturidiyyah, yaitu Abu Manshur Al-Maturidi:

وَلَا يُوصف الله سُبْحَانَهُ بالإتصال بالأشياء وَلَا الإنفصال وَلَا بالحلول فِيهَا وَلَا بِالْخرُوجِ مِنْهَا

“Allah tidak disifati dengan bersambung dengan sesuatu dan tidak pula berpisah dengannya, tidak disifati dengan masuk ke dalamnya dan tidak pula keluar darinya.” (At-Tauhid)

Dan keyakinan ini tentu saja jauh berbeda dengan pendapat Imam Abu Hanifah, dan murid-muridnya serta para ulama Ahlussunnah wal Jama’ah lainnya sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Ibnu ‘Abdil Barr tadi.

 

Siberut, 14 Rajab 1443

Abu Yahya Adiya