Khurafat “Dai Umat”

Khurafat “Dai Umat”

Apa perasaan kita tatkala menyaksikan orang awam memercayai takhayul dan khurafat?

Tentu saja itu menyedihkan dan menyesakkan dada.

Nah, kalau orang awam yang memercayai itu saja sudah menyedihkan dan menyesakkan dada kita, maka bagaimana pula kalau yang memercayainya adalah orang yang dianggap dai dan bergerak di bidang dakwah?

Seorang juru dakwah dan juga tokoh pergerakan Islam di Suriah berkata:

وقد حدثني مرة نصراني عن حادثة وقعت له شخصيا, وهي حادثة مشهورة معلومة, جمعني الله بصاحبها بعد أن بلغتني الحادثة من غيره

“Suatu kali seorang Nashrani menceritakan kepadaku tentang kejadian yang ia alami sendiri, yaitu kejadian masyhur dan terkenal yang setelah kejadian tersebut sampai kepadaku dari orang lain, Allah mengumpulkanku dengan pelakunya.

وحدثني كيف أنه حضر حلقة ذكر فضربه أحد الذاكرين بالشيش في ظهره حتي خرج الشيش وحتى قبض عليه ثم سحب الشيش منه, ولم يكن لذلك أثر ولا ضرر, إن هذا الشيء الذي يجري في طبقات أبناء الطريقة الرفاعية هو من أعظم فضل الله على هذه الأمة…!!

Ia menceritakan kepadaku bagaimana ia hadir di sebuah perkumpulan zikir lalu salah satu peserta zikir tersebut menusuk punggungnya dengan sejenis pedang hingga tembuslah pedang tersebut dan ia bisa memegang pedang tersebut lalu dicabutlah pedang tersebut darinya dalam keadaan tidak meninggalkan bekas dan luka. Sesungguhnya yang terjadi pada para pengikut kelompok tarekat Ar-Rifai ini adalah termasuk karunia Allah yang sangat besar kepada umat ini…!!” (Tarbiyatuna Ar-Ruhiyyah)

Lihatlah, bagaimana perbuatan sihir seperti itu membuat kagum orang yang notabene juru dakwah atau dianggap sebagai dai umat!

Itu menunjukkan bahwa menyebarkan dakwah tauhid di zaman ini merupakan perkara yang sangat penting dan paling penting. Sebab, bagaimana bisa penyakit khurafat menjangkiti orang dianggap sebagai dai umat?

Setelah membawakan perkataan juru dakwah tadi, Syekh ‘Abdul Malik Ar-Ramadhani berkata:

فلينظر أهل التوحيد إلى هذا الصنف من الخرافيين؛ إنهم ليسوا من العامة, ولكنهم بوءوا منازل العلماء والدعاة المرموقين

“Hendaknya orang yang mengerti tauhid memerhatikan golongan orang yang percaya kepada khurafat ini. Sesungguhnya mereka bukan termasuk orang awam. Bahkan, mereka diposisikan pada kedudukan para ulama dan dai terpandang!” (Khurafah Al-Haraki)

Maka, jangan lelah menyebarkan dakwah tauhid. Karena, itulah yang sangat dibutuhkan umat.

Teruslah menyebarkan dakwah tauhid, walaupun konsekuensinya akan dianggap sesat atau memecah belah umat!

Dr. ‘Ali bin Nashir Al-Faqiihiy berkata:

إن بعض الدعاة المعاصرين يقولون: إن الجهمية وفرقا أخرى كالمعتزلة وغيرها قد انقرضت, فلا حاجة إلى البحث فيها, فنشر مثل هذه الكتب لا حاجة إليه؛ لأنها تبحث في أمور لا يوجد من يعتنقها ويؤمن بها

“Sebagian dai kontemporer berkata,  ‘Sesungguhnya Jahmiyyah dan sekte lainnya seperti Muktazilah dan selain itu sudah punah, makanya itu tidak perlu dibahas lagi. Menyebarkan buku-buku yang membahas semacam itu tidak dibutuhkan. Sebab, yang demikian membahas perkara yang tidak ada yang menganutnya dan meyakininya!’

ثم يقولون مع ذلك: إن بحثها فيه تفريق لكمة الأمة

Lalu bersamaan dengan itu mereka berkata, ‘Membahas itu akan memecah belah persatuan umat!’

وهذا القول في حد ذاتها دليل على أنه يوجد من يعتقد هذه الآراء, بل يدعو إليها,

Perkataan mereka itu sendiri merupakan bukti yang menunjukkan masih adanya orang yang meyakini pemikiran sekte itu, bahkan mengajak kepadanya.

ونحن نستعيذ بالله من الدعوة إلى تفريق كلمة الأمة, والله يعلم أننا لا نريد إلا جمع كلمتها

Kita berlindung kepada Allah dari dakwah memecah-belah persatuan umat. Dan Allah Maha Mengetahui bahwa kita hanyalah menginginkan persatuan umat.

ولكننا نعلم أن رسول الهدى مكث في مكة ثلاث عشر عاما يبني عقيدة المسلم وينقيها من كل شائبة؛ إذ إنها الركيزة الأولى التي يقوم عليها البناء

Namun, kita semua tahu, bahwa Rasulullah ﷺ menetap di kota Mekkah selama tiga belas tahun. Selama itu beliau membangun akidah muslim dan membersihkannya dari segala kotoran. Sebab, akidah adalah pondasi utama yang di atasnya tegak sebuah bangunan.

فلم تبن عقائد أولئك على الخرافات التي يؤمن بها ويدعو إليها الدعاة المعاصرون, من أن الذي يعطي البيعة للشيخ الرفاعي, بل أحيانا بدون بيعة, وإنما إذا انتسب لهذه الطريقة لا تؤثر فيه النار ولا الرصاص ولا السيوف!!

Karena itu, akidah mereka tidak dibangun di atas berbagai khurafat yang diyakini dan diserukan oleh para dai di zaman sekarang, seperti keyakinan bahwa siapa yang bersumpah setia kepada syekh tarekat Ar-Rifa’i, bahkan, kadang  tanpa sumpah setia, akan tetapi cukup dengan menyandarkan dirinya kepada tarekat ini, maka api, peluru dan pedang tidak akan berpengaruh pada dirinya!! “(Mukadimah Ar-Radd ‘Alaa Al-Jahmiyyah)

 

Siberut, 16 Syawwal 1443

Abu Yahya Adiya