Seseorang mengalami sakit parah. Berapa banyak rumah sakit yang sudah ia datangi. Berapa banyak dokter yang sudah ia kunjungi. Namun, tetap saja penyakitnya tidak juga sembuh.
Tatkala ia mengunjungi seseorang, cukup diusap oleh orang tersebut sambil komat-kamit, ternyata ia sudah tidak sakit. Ia sembuh dari penyakitnya. Siapakah ia?
Seseorang kehilangan perhiasan. Berapa banyak tempat yang sudah ia datangi. Berapa banyak orang yang sudah ia mintai bantuan. Namun, tetap saja perhiasannya tidak juga bisa ditemukan. Ketika ia mengunjungi seseorang, cukup ia menyediakan air lalu komat-kamit, ternyata perhiasan itu bisa diketahui letaknya. Siapakah ia?
Akibat Mendatangi Ahli Sihir
Nabi ﷺ bersabda:
مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ، لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً
“Siapa yang mendatangi ‘Arraf lalu bertanya kepadanya tentang sesuatu, tidak akan diterima salatnya selama 40 hari.” (HR. Muslim)
Apa itu ‘Arraf?
Imam An-Nawawi menjelaskan:
وَالْعَرَّافُ يَتَعَاطَى مَعْرِفَةَ الشَّيْءِ الْمَسْرُوقِ وَمَكَانَ الضَّالَّةِ وَنَحْوِهِمَا
“‘Arraf itu mengaku tahu barang yang dicuri, barang yang hilang dan semacamnya.” (Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj)
Nah, kalau orang yang bertanya saja salatnya selama 40 hari tidak diterima, lantas bagaimana pula dengan salatnya orang yang ditanya?
Nah, kalau sekadar iseng bertanya saja salat selama 40 hari tidak diterima, lantas bagaimana kalau sampai menganggap benar ucapannya?
Nabi ﷺ bersabda:
مَنْ أَتَى كَاهِنًا، أَوْ عَرَّافًا، فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ، فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم
“Siapa yang mendatangi Kahin atau ‘Arraf lalu menganggap benar apa yang ia ucapkan, maka sungguh, telah kafirlah ia terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad ﷺ.” (HR. Ahmad)
Ibnu Mas’ud berkata:
مَنْ أَتَى عَرَّافًا أَوْ كَاهِنًا يُؤْمِنُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ ﷺ
“Siapa yang mendatangi ‘Arraf atau Kahin lalu mempercayai ucapannya, maka sungguh, telah kafirlah ia terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad ﷺ.” (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir)
Imam Al-Baghawi berkata:
هُوَ الَّذِي يُخْبِرُ عَنِ الْكَوَائِنِ فِي مُسْتَقْبَلِ الزَّمَانِ، وَيَدَّعِي مَعْرِفَةَ الأَسْرَارِ، وَمُطَالَعَةَ عِلْمَ الْغَيْبِ
“Kahin yaitu orang yang memberitahukan tentang kejadian yang terjadi di masa depan, dan mengaku tahu perkara-perkara yang tersembunyi, serta mengaku tahu hal-hal gaib.” (Syarh As-Sunnah)
Kalau begitu, siapa yang mempercayai ucapan orang yang mengaku tahu kejadian di masa depan, maka kafirlah ia terhadap Al-Quran.
Siapa yang yang mempercayai ucapan orang yang mengaku tahu barang hilang, berarti kafirlah ia terhadap Al-Quran.
Siapa pun yang mempercayai ucapan orang yang mengaku tahu perkara gaib, berarti kafirlah ia terhadap Al-Quran.
Dan siapa yang kafir kepada Al-Quran, maka ia kafir kepada Allah.
Sedangkan siapa yang kafir kepada Allah, maka ia bukan termasuk umat Muhammad ﷺ. Bukan termasuk umat Islam.
Nabi ﷺ bersabda:
لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَطَيَّرَ أَوْ تُطُيِّرَ لَهُ، أَوْ تَكَهَّنَ أَوْ تُكُهِّنَ لَهُ، أَوْ سَحَرَ أَوْ سُحِرَ لَهُ
“Tidak termasuk golongan kami orang yang meminta dan melakukan tathoyyur, meramal atau minta diramal, menyihir atau minta disihirkan.
وَمَنْ أَتَى كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ ﷺ
Dan siapa yang mendatangi kahin lalu membenarkan apa yang ia ucapkan, maka sungguh, ia telah kafir terhadap apa yang telah diturunkan kepada Muhammad ﷺ.” (HR. Al Bazzar)
Nah, kalau orang yang membenarkan saja kafir, lantas bagaimana pula dengan orang yang dibenarkan?
Karena itu, jangan tertipu oleh para dukun dan “orang pintar” yang kadang memberitakan kabar yang benar.
Dan jangan tertipu oleh banyak orang yang mengaku tahu agama, tapi datang kepada mereka dan meminta bantuan mereka.
Imam Al-Qurthubi berkata:
ولا يغتر بصدقهم في بعض الأمور ولا بكثرة من يجيء إليهم ممن ينتسب إلى العلم
“Jangan tertipu oleh benarnya mereka dalam beberapa perkara dan banyaknya orang yang mengaku berilmu tapi datang kepada mereka.
فإنهم غير راسخين في العلم، بل من الجهال بما في إتيانهم من المحذور
Sebab, mereka itu bukan orang yang memiliki ilmu yang kokoh. Bahkan, mereka termasuk orang jahil, karena sudah mendatangi perkara yang terlarang.” (Fathul Majiid Syarh Kitab At-Tauhid)
Walaupun untuk Berobat
Sihir dan perdukunan itu adalah kekafiran. Siapa yang menggelutinya, maka ia kafir.
Karena itu, tidak boleh kita berhubungan dengan siapa pun yang memiliki hubungan dengan sihir dan perdukunan, walaupun dalam rangka berobat.
Jabir bin ‘Abdillah berkata:
سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عَنِ النُّشْرَةِ فَقَالَ: هُوَ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ
“Rasulullah ﷺ ditanya tentang nusyrah, maka beliau menjawab, ‘Itu termasuk perbuatan setan.” (HR. Ahmad dan Abu Daud)
Nusyrah adalah:
حَلُّ السِّحْرِ عَنْ الْمَسْحُورِ
“Menghilangkan pengaruh sihir dari orang yang terkena sihir.” (I’laam Al-Muwaqqi’in ‘An Rabb Al-‘Alamin)
Maksud Nabi ﷺ dalam hadis tadi yaitu menghilangkan pengaruh sihir menggunakan sihir pula. Itulah yang dikatakan beliau ﷺ sebagai perbuatan setan. Artinya? Itu diharamkan!
Kesembuhan itu ada di tangan-Nya. Karena itu, mintalah kesembuhan kepada-Nya. Carilah kesembuhan dengan menaati-Nya dan tidak melanggar larangan-Nya.
Nabi ﷺ bersabda:
فَإِنَّ اللهَ لَا يُنَالُ مَا عِنْدَهُ إِلَّا بِطَاعَتِهِ
“Sesungguhnya apa yang ada di sisi Allah tidak bisa diraih kecuali dengan menaati-Nya.” (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir)
Siberut, 5 Shafar 1442
Abu Yahya Adiya






