Kalau kita ingin mengetahui apakah fikrah seseorang bermasalah atau tidak, lihatlah caranya dalam berhujah.
Kalau ia berhujah dalam suatu masalah dengan menggunakan dalil-dalil yang jelas, jelas kesahihan sanadnya dan jelas maksudnya, berarti fikrahnya tidak bermasalah.
Tapi, kalau ia berhujah dalam suatu masalah dengan menggunakan dalil-dalil yang samar, samar kesahihan sanadnya atau samar maksudnya, berarti fikrahnya bermasalah.
Allah berfirman:
هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ
“Dialah yang menurunkan Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antaranya ada ayat-ayat yang muhkam, itulah pokok-pokok kitab (Al-Qur’an) dan yang lain mutasyaabih. Adapun orang-orang yang dalam hati mereka ada kecondongan pada kesesatan, maka mereka mengikuti yang mutasyaabih darinya untuk mencari-cari fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang ilmunya mendalam berkata, ‘Kami beriman kepada Al Qur’an, semuanya dari sisi Tuhan kami.’ Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal.” (QS. Ali Imran: 7)
Apa itu ayat muhkam dan apa itu ayat mutasyabih?
Imam Ibnu Katsir menjelaskan ayat tadi:
يُخْبِرُ تَعَالَى أَنَّ فِي الْقُرْآنِ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ، أَيْ: بَيِّنَاتٌ وَاضِحَاتُ الدَّلَالَةِ، لَا الْتِبَاسَ فِيهَا عَلَى أَحَدٍ مِنَ النَّاسِ
“Allah mengabarkan bahwa di dalam Al-Qur’an ada ayat-ayat yang muhkam, itulah pokok-pokok Al-Quran, yakni terang dan jelas pengertiannya, serta tidak samar maksudnya bagi seorang pun.
وَمِنْهُ آيَاتٌ أُخَرُ فِيهَا اشْتِبَاهٌ فِي الدَّلَالَةِ عَلَى كَثِيرٍ مِنَ النَّاسِ أَوْ بَعْضِهِمْ
Dan dalam Al-Quran juga ada ayat-ayat lain yang samar maksudnya (mutasyabih) bagi banyak orang atau sebagian dari mereka.
فَمَنْ رَدَّ مَا اشْتَبَهَ عَلَيْهِ إِلَى الْوَاضِحِ مِنْهُ، وَحَكَّمَ مُحْكَمَهُ عَلَى مُتَشَابِهِهِ عِنْدَهُ، فَقَدِ اهْتَدَى. وَمَنْ عَكَسَ انْعَكَسَ
Siapa yang mengembalikan ayat yang samar baginya kepada ayat yang jelas maksudnya, dan menerapkan ayat yang jelas maksudnya pada ayat yang samar baginya, maka sesungguhnya ia telah mendapat petunjuk. Dan siapa yang melakukan sebaliknya, yakni menerapkan ayat yang samar baginya pada ayat yang jelas maksudnya, maka terjungkirlah ia.” (Tafsir Al-Quran Al-‘Azhim)
Kalau ada orang yang suka mencari ayat atau hadis yang samar maksudnya, dan berpaling dari ayat dan hadis yang jelas maksudnya, maka itulah orang yang terjungkir. Terjungkir pemikirannya. Terjungkir pemahamannya.
Hati-hati. Itulah orang yang perlu kita waspadai!
Suatu hari Nabi ﷺ membaca ayat tadi, lalu bersabda:
فَإِذَا رَأَيْتِ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ فَأُولَئِكِ الَّذِينَ سَمَّى اللَّهُ فَاحْذَرُوهُمْ
“Kalau engkau melihat orang-orang yang mengikuti ayat yang samar maksudnya, maka mereka itulah orang-orang yang disebutkan oleh Allah, karenanya waspadalah terhadap mereka!” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ya, waspadalah terhadap mereka.
Kenapa?
Karena mereka itu sesat! Mereka itu pengikut hawa nafsu! Dan mereka itulah ahli bidah!
Argumen Ahlussunnah Versus Argumen Ahli Bidah
Ahlussunnah berhujah dengan dalil yang jelas kesahihan sanadnya dan jelas maksudnya.
Sedangkan ahli bidah berhujah dengan dalil yang samar kesahihan sanadnya atau samar maksudnya.
Dan itu bisa kita lihat contohnya dalam banyak permasalahan yang menjadi perseteruan antara Ahlussunnah dengan Ahli Bidah.
Sebagai contoh, satu permasalahan saja, yaitu permasalahan sikap terhadap pemimpin yang zalim.
Prinsip Ahlussunnah wal Jamaah sangat jelas, yaitu kita harus menaatinya dalam perkara yang baik dan tidak boleh memberontak kepadanya selama ia masih muslim.
Ayat-ayat dan hadis-hadis sahih yang menjelaskan itu sangatlah banyak. Seperti hadis yang sering kita dengar:
تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلْأَمِيرِ، وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ، وَأُخِذَ مَالُكَ، فَاسْمَعْ وَأَطِعْ
“Engkau tetap mendengar dan taat kepada pemimpin. Walaupun dipukul punggungmu dan diambil hartamu, maka tetaplah dengar dan taat.” (HR. Muslim)
Namun, dengan banyaknya dalil yang menunjukkan itu, apa sikap ahli bidah?
Mereka berpaling dari semua itu, lalu mereka memilih dalil-dalil yang samar kesahihan sanadnya atau samar maksudnya.
Sebagian ahli bidah membolehkan pemberontakan terhadap pemerintah muslim yang zalim dengan alasan perbuatan sebagian salaf yang memberontak kepada Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi.
Padahal, perbuatan sebagian salaf itu masih samar. Samar maksudnya.
Perbuatan mereka tidak menunjukkan dengan jelas bahwa mereka membolehkan pemberontakan terhadap pemerintah yang zalim. Sedangkan hadis-hadis Nabi menunjukkan dengan jelas haramnya perbuatan demikian.
Mereka lebih memilih perbuatan orang setelah Nabi yang samar maksudnya dibandingkan hadis Nabi yang sangat jelas dan terang maksudnya.
Adapun dalil yang mereka sebutkan sudah dibantah oleh para ulama, di antaranya oleh Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim.
Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa pemberontakan sebagian salaf terhadap Al-Hajjaj bukan semata-mata karena kefasikannya, melainkan karena ia dianggap sudah kafir. Sedangkan Al-Qadhi ‘Iyadh berpendapat bahwa memang ada perbedaan pendapat di antara Ahlussunnah ketika itu, tetapi setelah itu mereka bersepakat akan haramnya melakukan pemberontakan terhadap pemerintah muslim yang zalim.
Jika Ahli Bidah Menyampaikan Dalil
Kalau ada seorang ahli bidah yang ingin menyebarkan penyimpangannya lalu menyebutkan dalil-dalil untuk mendukung penyimpangannya, maka…
Kalau dalil-dalil itu kesalahannya kita ketahui dengan jelas, maka bantahlah itu secara terperinci, satu persatu.
Tapi, kalau dalil-dalil itu samar kesahihan sanadnya atau samar maksudnya, dan kita belum pernah mendengarnya, maka jangan heran. Itulah kebiasaannya.
Jangan bingung dan jangan panik, katakanlah kepadanya:
لا أعرف معناه، ولكن أقطع أن كلام الله لا يتناقض، وأن كلام النبي – صلى الله عليه وسلم – لا يخالف كلام الله.
“Aku tidak mengetahui makna dalil yang engkau sebutkan. Namun, kupastikan bahwa perkataan Allah tidak mungkin saling bertabrakan dan bahwasanya perkataan Nabi ﷺ tidak mungkin menyalahi perkataan Allah.” (Kasyf Asy-Syubhat)
Syekh Muhammad At-Tamimi berkata:
وهذا جواب جيد سديد، ولكن لا يفهمه إلا من وفقه الله فلا تستهن به
“Itu jawaban yang bagus dan benar. Namun, yang memahaminya hanya orang yang mendapat taufik dari Allah. Maka, jangan anggap remeh itu.” (Kasyf Asy-Syubhat)
Ya, jangan anggap remeh itu. Sebab, itu jawaban yang cukup menohoknya.
Dan lebih menohok lagi kalau disebutkan kepadanya sabda Nabi ﷺ, “Kalau engkau melihat orang-orang yang mengikuti ayat yang samar maksudnya, maka mereka itulah orang-orang yang disebutkan oleh Allah, karenanya waspadalah terhadap mereka!”
Cobalah!
Siberut, 5 Rabi’ul Awwal 1442
Abu Yahya Adiya






