Gereja Ethiopia
Ketika orang saleh meninggal dunia, tentu saja kita merasa kehilangannya. Kita mendoakannya, dan memohon kepada Allah agar mengasihi dan mengampuninya. Namun, perlukah kita memperbagus makamnya?
Ketika orang saleh meninggal dunia, tentu saja kita merasa kehilangannya. Kita mendoakannya, dan memohon kepada Allah agar mengasihi dan mengampuninya. Namun, perlukah kita memperbagus makamnya?
Setelah Nabi Adam ﷺ meninggal, umat manusia masih hidup sesuai dengan fitrah mereka yaitu mengesakan Allah. Ketika itu tidak ada yang namanya syirik. Tidak ada
Nabi ﷺ bersabda: لاَ تُطْرُونِي، كَمَا أَطْرَتْ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ، فَقُولُوا عَبْدُ اللَّهِ، وَرَسُولُهُ “Janganlah kalian berlebihan dalam memujiku, sebagaimana orang-orang Nasrani
Gurat kematian mulai tampak di wajahnya. Tanda-tanda perpisahan mulai menghampirinya. Ketika kondisinya makin kritis, di saat maut hampir menjemput, berjalanlah Rasulullah ﷺ mendekatinya. Dan