Para Pelintas Sirat

Para Pelintas Sirat

Suatu hari Al-Hasan Al-Bashri melewati seorang pemuda yang sedang tertawa terbahak-bahak. Maka Hasan pun bertanya kepada pemuda itu:

يَا بُنَيَّ هَلْ جُزْتَ عَلَى الصِّرَاطِ؟

“Hai Nak, apakah engkau pernah melewati sirat?”

Pemuda itu menjawab:

لَا

“Tidak.”

Al-Hasan kembali bertanya:

هَلْ تَبَيَّنَ لَكَ، إِلَى الْجَنَّةِ تَصِيرُ أَمْ إِلَى النَّارِ؟

“Apakah sudah jelas bagimu di mana posisimu nanti, di surga atau neraka?”

Pemuda itu menjawab:

لَا

“Tidak.”

Al-Hasan pun berkata:

فَفِيمَ هَذَا الضَّحِكُ؟

“Lantas, kenapa engkau tertawa seperti ini?”

Maka, setelah ditegur seperti itu, pemuda itu tidak pernah terlihat tertawa sama sekali. (Tanbihul Ghafilin bi Ahadits Sayid Al-Anbiya Walmursalin)

Siapa yang bisa melewati sirat, maka ia akan selamat. Sebaliknya, siapa yang tidak bisa melewatinya, maka ia akan celaka.

Lantas apa yang dimaksud dengan sirat?

 

Pengertian Sirat

Syekh Saleh Al-Fauzan berkata:

(والصراط) وهو: الجسر المنصوب على متن جهنم، أحدُّ من السيف، وأدَقُّ من الشعر، وأحرُّ من الجمر، يمر الناس عليه على قدر أعمالهم

“Sirat adalah titian yang terbentang di atas permukaan neraka. Ia lebih tajam daripada pedang, dan lebih tipis daripada rambut dan lebih panas daripada bara api. Orang-orang akan melewatinya sesuai dengan amalan mereka.” (At-Ta’liqat Al-Mukhtasharah ‘Alaa Matn Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah)

Ya, sesuai dengan amalan mereka.

Makin baik amalan mereka, maka makin mudah mereka melintasinya.

Sebaliknya, makin buruk amalan mereka, maka makin susah mereka melintasinya.

 

Tingkatan Pelintas Sirat

Nabi ﷺ menjelaskan tingkatan orang yang melewati sirat:

فيمر أَوَّلُكُمْ كَالْبَرْقِ…

“Maka orang yang pertama di antara kalian melewatinya secepat kilat…

ثُمَّ كَمَرِّ الريحِ

Kemudian yang berikutnya melewatinya secepat hembusan angin.

ثُمَّ كَمرِّ الطَّيْرِ

Kemudian yang berikutnya melewatinya secepat burung.

وَشَدِّ الرِّجَالِ

Kemudian yang berlari kencang.

تَجْرِي بهمْ أَعْمَالُهُمْ، ونَبيُّكُمْ قَائِمٌ عَلَى الصرِّاطِ يَقُولُ: رَبِّ سَلِّمْ سَلِّمْ، حَتَّى تَعْجِزَ أَعْمَالُ الْعَبَادِ، حَتَّى يَجئَ الرَّجُلُ لا يَسْتَطِيعُ السَّيْرَ إلاَّ زَحْفاً

Semua itu sesuai dengan kadar amalan mereka. Sedangkan  nabi kalian berdiri di atas sirat sambil mengucapkan: ‘Ya Tuhanku, selamatkanlah, selamatkanlah’, hingga giliran hamba-hamba yang lemah amalan mereka. Sampai-sampai ada seseorang yang datang dan tidak dapat berjalan melainkan dengan merangkak.”

وفِي حافَتَي الصرِّاطِ كَلالِيبُ مُعَلَّقَةٌ مَأْمُورَةٌ بأَخْذِ مَنْ أُمِرَتْ بِهِ، فَمَخْدُوشٌ نَاجٍ وَمُكَرْدَسٌ في النَّارِ

Dan pada kedua tepi sirat itu ada beberapa kait yang digantungkan dan diperintahkan untuk menyambar orang yang ia diperintah untuk menyambarnya. Maka, orang yang cuma tergores tubuhnya akan selamat, sedangkan yang terpelanting terjatuh ke neraka.” (HR. Muslim)

Tidak ada seorang pun yang bisa memastikan bahwa dirinya akan melewati sirat dengan selamat, sedangkan setiap manusia-siapapun ia-pasti akan melewatinya di akhirat.

Allah berfirman:

وَإِنْ مِنْكُمْ إِلا وَارِدُهَا كَانَ عَلَى رَبِّكَ حَتْمًا مَقْضِيًّا

“Dan tidak ada seorang pun di antara kalian, melainkan pasti mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhan kalian adalah suatu ketentuan yang sudah ditetapkan.” (QS. Maryam: 71)

Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:

فسرها عبد الله بن مسعود، وقتادة، وزيد بن أسلم بالمرور على الصراط.

“Abdullah bin Mas’ud, Qatadah, Zaid bin Aslam menafsirkan ayat ini dengan melewati sirat.” (Majmu’ Al-Fatawa)

Al-Hasan Al-Bashri berkata:

لا يدخل الجنة أحد حتى يجتاز النار.

“Tidak ada seorang pun yang memasuki surga melainkan akan melewati neraka.” (Jami’ Al-Bayan Fii Ta’wiil Al-Quran)

Ya, siapa pun orangnya pasti akan berjalan di titian yang terbentang menuju surga dan di bawahnya ada neraka.

Hanya saja ada dua golongan ketika itu: golongan yang bahagia dan golongan yang sengsara.

Golongan yang bahagia adalah golongan yang berhasil melewati sirat dan melalui neraka yang ada di bawahnya. Sedangkan golongan yang sengsara adalah golongan yang tidak berhasil melewati sirat lalu jatuhlah ke dalam api yang membara!

Kita berlindung kepada Allah dari api neraka yang membara…

 

Siberut, 11 Rajab 1442

Abu Yahya Adiya