Taklid artinya mengikuti seseorang tanpa mengetahui dalil atau alasannya.
Apa sikap Imam Asy-Syafi’i dan para ulama mazhab Syafi’i terkait dengan taklid?
Imam Asy-Syafi’i berkata:
كُلَّمَا قُلْتُ: وَكَانَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ خِلَافَ قَوْلِي مِمَّا يَصِحُّ فَحَدِيثُ النَّبِيِّ ﷺ أَوْلَى وَلَا تُقَلِّدُونِي
“Setiap kali aku mengucapkan perkataan, sedangkan ada hadis yang sahih dari Nabi ﷺ yang menyelisihi ucapanku, maka hadis Nabi ﷺ lebih berhak untuk diikuti dan jangan kalian taklid kepadaku!” (Hilyah Al-Aulia wa Thabaqat Al-Ashfiya)
Imam Asy-Syafi’i juga berkata:
وبالتقليد أغفلَ من أغفلَ منهم، والله يغفر لنا ولهم.
“Karena taklid lalailah orang yang lalai di antara mereka. Dan semoga Allah mengampuni kita dan mereka.” (Ar-Risalah)
Dan beliau juga berkata:
ثُمَّ تَفَرَّقَ أَهْلُ الْكَلامِ فِي تَثْبِيتِ الْخَبَرِ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ تَفَرُّقًا أَمَّا بَعْضُهُمْ فَقَدْ أَكْثَرَ مِنَ التَّقْلِيدِ وَالتَّخْفِيفِ مِنَ النَّظَرِ وَالْغَفْلَةِ وَالاسْتِعْجَالِ بِالرِّيَاسَةِ.
“Lalu benar-benar berpecah-belahlah ahli kalam dalam hal penetapan kabar dari Rasulullah ﷺ. Adapun sebagian dari mereka, maka sungguh banyak taklid, jarang berpikir, dan lalai serta tergesa-gesa ingin mendapatkan kepemimpinan.” (Jima’ Al-‘Ilm)
Perkataan Imam Asy-Syafi’i ini menunjukkan dengan jelas bahwa beliau mencela dan melarang taklid. Namun, apakah itu berlaku bagi semua orang?
Apakah itu hanya berlaku bagi seorang yang mampu berijtihad? Atau berlaku juga bagi orang awam yang tidak mengerti bagaimana menyimpulkan suatu hukum dari dalil yang ada?
Banyak para ulama Syafi’iyyah (di antaranya Imam Al-Mawardi) menjelaskan bahwa ucapan Imam Asy-Syafii ini hanya berlaku bagi orang yang mampu berijtihad.
Orang yang mampu berijtihad tidak boleh taklid kepada ulama mana pun.
Lantas bagaimana dengan orang awam? Apa hukum taklid bagi orang awam?
Hukum Taklid Bagi Orang Awam Menurut Ulama Mazhab Syafi’i
Apakah orang-orang awam wajib taklid kepada ulama tertentu atau mazhab tertentu?
Atau itu dibolehkan dan tidak diwajibkan?
Kalau taklid dikatakan “wajib”, berarti mereka harus taklid. Kalau tidak taklid, mereka berdosa.
Namun, kalau taklid dikatakan “boleh”, berarti mereka boleh taklid dan boleh juga tidak. Kalaupun mereka tidak taklid, mereka tidak berdosa.
Imam An-Nawawi berkata:
وَلَيْسَ لَهُ التَّمَذْهُبُ بِمُجَرَّدِ التَّشَهِّي، وَلَا بِمَا وَجَدَ عَلَيْهِ أَبَاهُ، هَذَا كَلَامُ الْأَصْحَابِ. وَالَّذِي يَقْتَضِيهِ الدَّلِيلُ أَنَّهُ لَا يَلْزَمُهُ التَّمَذْهُبُ بِمَذْهَبٍ، بَلْ يَسْتَفْتِي مَنْ شَاءَ، أَوْ مَنِ اتَّفَقَ، لَكِنْ مِنْ غَيْرِ تَلَقُّطٍ لِلرُّخَصِ.
“Ia (orang awam) tidak boleh bermazhab karena semata-mata selera, dan tidak pula karena apa yang ia dapati dari ayahnya. Ini adalah perkataan sahabat-sahabat (mazhab Syafi’i). Dan yang ditunjukkan dalil yaitu ia tidak wajib bermazhab dengan mazhab tertentu. Bahkan, hendaknya ia meminta fatwa kepada siapa saja yang ia kehendaki atau ia setujui, tapi tanpa mencari-cari keringanan.” (Raudhah Ath-Thalibin)
Ibnu Hajar Al-Haitami berkata:
حاصل المعتمد من ذلك أنه يجوز تقليد كل من الأئمة الأربعة، وكذا من عداهم ممن حفظ مذهبه في تلك المسألة ودون
“Kesimpulan yang bisa dipegang dalam hal ini yaitu bolehnya taklid kepada 4 imam (Abu Hanifah, Malik, Asy-Syafi’i, dan Ahmad bin Hanbal), demikian pula boleh taklid kepada orang selain mereka yang pendapatnya terjaga dan terbukukan dalam masalah tersebut.” (Tuhfah Al-Muhtaj Fii Syarh Al-Minhaj)
Syekh Zakariya Al-Anshari berkata:
يَجُوزُ لِغَيْرِ الْمُجْتَهِدِ تَقْلِيدُ مَنْ شَاءَ مِنْ الْمُجْتَهِدِينَ إنْ دُوِّنَتْ الْمَذَاهِبُ كَالْيَوْمِ فَلَهُ أَنْ يُقَلِّدَ كُلًّا فِي مَسَائِل
“Boleh bagi selain mujtahid untuk taklid kepada mujtahid mana saja yang ia inginkan, jika memang mazhab-mazhab tersebut telah dibukukan seperti hari ini. Ia boleh taklid kepada mereka dalam berbagai masalah.” (Asna Al-Mathalib Syarh Raudh Ath-Thalib)
Ketiga ulama ini adalah ulama besar dalam mazhab Syafi’i. Mereka menyatakan bahwa taklid itu dibolehkan bagi orang awam dan tidak diwajibkan.
Kalau memang taklid itu boleh dan tidak wajib bagi orang-orang awam, maka pantaskah kita mewajibkan mereka untuk taklid?
Pantaskah kita memaksa mereka, apalagi mengancam mereka dengan vonis sesat karena tidak mau taklid?
Siberut, 6 Dzulqa’dah 1443
Abu Yahya Adiya
Sumber:
- Minhaj Al-Imam Asy-Syafii Fii Itsbaat Al-Aqidah karya Syekh Dr. Muhammad bin Abdul Wahhab Al-‘Aqil.






