Salaf Lebih Selamat, tapi Tidak Bijak dan Tidak Tahu?

Salaf Lebih Selamat, tapi Tidak Bijak dan Tidak Tahu?

Pendapat salaf itu lebih selamat, sedangkan pendapat khalaf itu lebih bijak dan lebih tahu.

Itulah perkataan yang diungkapkan oleh sebagian orang.

Menurut mereka, pendapat salaf dalam hal nama dan sifat Allah memang lebih selamat, tetapi khalaf memiliki pendapat yang lebih bijak dan lebih tahu dalam hal nama dan sifat Allah.

Benarkah pernyataan demikian?

Sebelum menjawab itu, perlu kita ketahui bahwa pengertian salaf adalah kebalikan dari pengertian khalaf.

Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:

السلف معناه المتقدمون، فكل متقدم على غيره فهو سلف له، ولكن إذا أطلق لفظ السلف فالمراد به القرون الثلاثة المفضلة: الصحابة، والتابعون، وتابعوهم، هؤلاء هم السلف الصالح،

“Salaf artinya orang-orang terdahulu. Setiap orang yang lebih dulu dibandingkan yang lain, dinamakan salaf baginya. Namun, jika kata salaf ini disebutkan secara mutlak, maka maksudnya yaitu tiga generasi yang memiliki keutamaan, yaitu para sahabat Nabi, tabiin, dan tabi’it tabiin. Merekalah salaf yang saleh.” (Fatawa Nur ‘Ala Ad-Darb)

Kalau salaf secara bahasa artinya orang-orang terdahulu, berarti khalaf adalah orang-orang belakangan.

Kalau salaf secara istilah artinya para sahabat Nabi, tabiin, dan tabi’it tabiin, berarti khalaf adalah orang-orang selain tiga generasi itu.

Lantas, benarkah pendapat para sahabat Nabi, tabiin, dan tabi’it tabiin lebih selamat dalam masalah nama dan sifat Allah, tapi pendapat selain mereka lebih bijak dan lebih tahu dalam masalah nama dan sifat Allah?

 

Jawaban

  1. Kalau dikatakan bahwa jalannya salaf itu lebih selamat, maka konsekuensinya dikatakan juga bahwa mereka lebih bijak dan lebih tahu daripada selain mereka. Karena, tidak ada keselamatan kecuali dengan kebijaksanaan dan pengetahuan.

 

  1. Salaf adalah generasi terbaik dan pewaris Nabi ﷺ.

Nabi ﷺ bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Sebaik-baik orang adalah generasiku, kemudian orang-orang setelah mereka, lalu orang-orang setelah mereka.” (HR. Bukhari Muslim)

Apakah sebaik-baik orang yang telah menimba ilmu dari Nabi ﷺ tidak bijak dan tidak tahu tentang nama dan sifat Allah?!

Tentu saja tidak. Adapun khalaf….

Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:

أما أولئك الخلف، فقد تلَقوا ما عندهم من المجوس، والمشركين، وضلال اليهود واليونان

“Adapun para khalaf, maka mereka menerima keyakinan mereka dari kaum Majusi, musyrikin, orang-orang sesat dari kalangan Yahudi, dan Yunani.

فكيف يكون ورثة المجوس، والمشركين، واليهود، واليونان، وأفراخهم، أعلم، وأحكم في أسماء الله وصفاته من ورثة الأنبياء والمرسلين!؟

Maka bagaimana bisa pewaris Majusi, musyrikin, Yahudi, Yunani dan para pengikut mereka lebih tahu dan lebih bijak tentang nama dan sifat Allah daripada pewaris para nabi dan rasul?!” (Fathu Rabb Al-Bariyyah Bitalkhish Al-Hamawiyyah)

Maka, jelaslah bahwa pernyataan “pendapat salaf itu lebih selamat, sedangkan pendapat khalaf itu lebih bijak dan lebih tahu” adalah pernyataan yang batil.

Darimanakah munculnya pernyataan tersebut?

Syekh Bakr Abu Zaid berkata:

هذه من أقوال المتأخرين الذين لم ينعموا بمذهب السلف في الاعتقاد، ولم يقدر لهم قدرهم، والسلفي يقول:

“Ini termasuk perkataan orang-orang belakangan yang tidak menikmati pendapat salaf dalam masalah akidah dan tidak menghargai kedudukan mereka. Adapun orang yang mengikuti salaf berkata:

مذهب السلف: أسلم وأحكم وأعلم.

“Pendapat salaf itu lebih selamat, lebih bijak, dan lebih tahu.” (Mu’jam Al-Manaahii Al-Lafzhiyyah)

 

Siberut, 21 Sya’ban 1444

Abu Yahya Adiya