Sekutu, Anak, dan Wali Allah

Sekutu, Anak, dan Wali Allah

Penyembah kubur: Jangan samakan saya dengan musyrikin Quraisy! Mereka jadi kafir bukan karena istigasah, meminta tolong, dan berdoa kepada para malaikat dan para nabi. Mereka kafir karena meyakini bahwa para malaikat adalah putri-putri Allah.

Adapun saya, sampai detik ini, tidak pernah terlintas di pikiran saya bahwa nabi adalah anak Allah. Dan tidak pernah pula saya menyatakan bahwa para wali adalah anak Allah. Bagaimana bisa Anda menyamakan saya dengan mereka?!

 

Penyembah Allah: Menyekutukan Allah dalam hal peribadatan adalah kekafiran. Dan menyatakan bahwa Allah memiliki anak pun adalah kekafiran.

Allah berfirman:

مَا اتَّخَذَ اللَّهُ مِنْ وَلَدٍ وَمَا كَانَ مَعَهُ مِنْ إِلَهٍ

“Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada tuhan (yang lain) beserta-Nya.” (QS. Al-Mu’minuun: 91)

Lihatlah, Allah membedakan antara dua perkara ini. Allah menjadikan masing-masingnya kekafiran tersendiri.

Siapa yang beribadah kepada selain Allah maka ia kafir, walaupun tidak meyakini bahwa Allah mempunyai anak.

Dan siapa yang meyakini bahwa Allah memiliki anak, maka ia kafir, walaupun ia tidak beribadah kepada selain Allah.

Selain itu, tengoklah musyrikin Quraisy dahulu. Adakah di antara mereka yang meyakini bahwa Laata adalah anak Allah dikarenakan kesalehannya?

 

Penyembah kubur: Tidak ada.

 

Penyembah Allah: Walaupun begitu, bukankah mereka kafir karena telah berdoa  dan beribadah kepada Latta?

 

Penyembah kubur: Ya.

 

Penyembah Allah: Selain itu juga, bukankah di antara mereka dahulu ada yang beribadah kepada jin?

 

Penyembah kubur: Ya.

 

Penyembah kubur: Bukankah karena itu juga mereka jadi kafir, walaupun tidak meyakini bahwa jin yang mereka sembah adalah anak Allah?

 

Mengakui Keutamaan Bukan Menuhankan

 

Penyembah kubur: Ingatlah, Allah telah berfirman:

أَلا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Yunus: 62-63)

Apakah Anda tidak mengakui keutamaan para wali?

Penyembah Allah: Tentu saja saya mengakuinya.

 

Penyembah kubur: Kalau begitu, kenapa Anda mengingkari perbuatan saya?

 

Penyembah Allah: Cara menghormati para wali adalah dengan mengikuti jejak dan kesalehan mereka. Bukan dengan istigasah, meminta tolong dan berdoa kepada mereka.

Saya tidak mengingkari keutamaan mereka dan kedudukan mereka yang mulia. Yang saya ingkari adalah peribadatan kepada mereka.

Kita hanya boleh beribadah kepada-Nya, dan bukan kepada selain-Nya, semulia apa pun ia. Setinggi apa pun kedudukannya.

 

Siberut, 19 Rabi’ul Awwal 1442

Abu Yahya Adiya

 

Sumber: Kasyf Asy-Syubhat karya Syekh Muhammad At-Tamimi.