- Apakah boleh menyalatkan jenazah pelaku dosa besar?
Zaid bin Khalid Al-Juhani bercerita bahwa ada seorang muslim yang meninggal di Khaibar. Lalu itu dikabarkan kepada Nabi ﷺ, maka beliau pun bersabda:
صَلُّوا عَلَى صَاحِبِكُمْ
“Salatkan teman kalian ini!”
Lalu berubahlah wajah para sahabat ketika itu. Melihat perubahan di wajah mereka, Nabi ﷺ pun bersabda:
إِنَّ صَاحِبَكُمْ غَلَّ فِي سَبِيلِ اللهِ
“Sesungguhnya teman kalian ini telah mencuri harta rampasan perang!”
Zaid bin Khalid Al-Juhani berkata:
فَفَتَّشْنَا مَتَاعَهُ، فَوَجَدْنَا فِيهِ خَرَزًا مِنْ خَرَزِ الْيَهُودِ مَا يُسَاوِي دِرْهَمَيْنِ
“Kemudian kami memeriksa barangnya, maka kami mendapati di dalamnya ada manik-manik orang Yahudi yang seharga 2 Dirham.” (HR. Ahmad)
Jabir bin Samurah berkata:
أُتِيَ النَّبِيُّ ﷺ بِرَجُلٍ قَتَلَ نَفْسَهُ بِمَشَاقِصَ، فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْهِ
“Pernah dihadapkan kepada Nabi ﷺ jenazah orang yang mati bunuh diri dengan menggunakan panah, tetapi beliau tidak menyalatkannya.” (HR. Muslim)
Imam Asy-Syaukani mengomentari hadis pertama:
فِيهِ جَوَازُ الصَّلَاةِ عَلَى الْعُصَاةِ. وَأَمَّا تَرْكُ النَّبِيِّ ﷺ لِلصَّلَاةِ عَلَيْهِ فَلَعَلَّهُ لِلزَّجْرِ عَنْ الْغُلُولِ كَمَا امْتَنَعَ مِنْ الصَّلَاةِ عَلَى الْمَدْيُونِ وَأَمَرَهُمْ بِالصَّلَاةِ عَلَيْهِ.
“Dalam hadis ini terdapat keterangan bolehnya menyalatkan jenazah pelaku maksiat. Adapun perbuatan Nabi ﷺ tidak menyalatkannya, maka bisa jadi untuk memperingatkan tentang mencuri rampasan perang. Sebagaimana halnya beliau tidak mau menyalatkan jenazah orang yang mempunyai hutang dan menyuruh para sahabatnya untuk menyalatkannya.” (Nail Al-Authar)
Imam An-Nawawi mengomentari hadis kedua:
وَقَالَ الْحَسَنُ وَالنَّخَعِيُّ وَقَتَادَةُ وَمَالِكٌ وَأَبُو حَنِيفَةَ وَالشَّافِعِيُّ وَجَمَاهِيرُ الْعُلَمَاءِ يُصَلَّى عَلَيْهِ وَأَجَابُوا عَنْ هَذَا الْحَدِيثِ بِأَنَّ النَّبِيَّ ﷺ لَمْ يُصَلِّ عَلَيْهِ بِنَفْسِهِ زَجْرًا لِلنَّاسِ عَنْ مِثْلِ فِعْلِهِ وَصَلَّتْ عَلَيْهِ الصَّحَابَةُ
“Al-Hasan, An-Nakha’i, Qatadah, Malik, Abu Hanifah, Asy-Syafi’i, dan mayoritas ulama berpendapat bahwa orang seperti itu disalatkan. Mereka menjawab hadis ini bahwa Nabi ﷺ tidak menyalatkan jenazahnya sebagai bentuk peringatan agar orang-orang tidak melakukan perbuatan tersebut, sedangkan para sahabat tetap menyalatkannya.
وَهَذَا كَمَا تَرَكَ النَّبِيُّ ﷺ الصَّلَاةَ فِي أَوَّلِ الْأَمْرِ عَلَى مَنْ عَلَيْهِ دَيْنٌ زَجْرًا لَهُمْ عَنِ التَّسَاهُلِ فِي الِاسْتِدَانَةِ وَعَنْ إِهْمَالِ وَفَائِهِ وَأَمَرَ أَصْحَابَهُ بِالصَّلَاةِ عَلَيْهِ فَقَالَ ﷺ
Ini sebagaimana Nabi ﷺ awalnya tidak mau menyalatkan jenazah orang yang memiliki tanggungan hutan sebagai bentuk peringatan agar orang-orang tidak bermudah-mudahan dalam berhutang dan lalai dalam melunasinya, namun beliau menyuruh para sahabatnya untuk menyalatkannya. Beliau ﷺ bersabda:
صَلُّوا عَلَى صَاحِبِكُمْ
“Salatkan teman kalian ini!”
قَالَ الْقَاضِي
Al-Qadhi berkata:
مَذْهَبُ الْعُلَمَاءِ كَافَّةً الصَّلَاةُ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَمَحْدُودٍ وَمَرْجُومٍ وَقَاتِلِ نَفْسِهِ وولد الزنى
“Pendapat seluruh ulama yaitu tetap menyalatkan jenazah muslim, dan yang terkena hukum had, rajam, bunuh diri, dan anak zina.” (Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj)
- Apakah boleh menyalatkan jenazah orang kafir?
Tatkala Nabi ﷺ menyalatkan jenazah gembong munafikin, ‘Abdullah bin Ubay, turunlah firman-Nya:
وَلَا تُصَلِّ عَلَى أَحَدٍ مِنْهُمْ مَاتَ أَبَدًا وَلَا تَقُمْ عَلَى قَبْرِهِ إِنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ
“Dan janganlah engkau melaksanakan salat untuk seseorang yang mati di antara mereka selama-lamanya dan janganlah engkau berdiri (mendoakan) di atas kuburnya. Sesungguhnya mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya.” (QS. At-Taubah: 84)
Apa maksud salat untuk seseorang yang mati di antara mereka?
Al- ‘Allamah Shiddiq Hasan Khan berkata:
يعني صلاة الجنازة
“Yakni salat jenazah.” (Fath Al-Bayan Fii Maqashid Al-Quran)
- Apakah boleh menyalatkan jenazah orang mati syahid?
Jabir bin ‘Abdillah menceritakan tentang syuhada Uhud:
وَأَمَرَ بِدَفْنِهِمْ بِدِمَائِهِمْ، وَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْهِمْ، وَلَمْ يُغَسِّلْهُمْ
“Nabi ﷺ memerintahkan agar mereka dikubur dengan darah mereka, beliau tidak menyalatkan mereka, dan tidak pula memandikan mereka.” (HR. Bukhari)
Ibnu ‘Abbas bercerita tentang perang Uhud:
لَمَّا وَقَفَ رَسُولُ اللهِ ﷺ عَلَى حَمْزَةَ فَنَظَرَ إِلَى مَا بِهِ….ثُمَّ أَمَرَ بِهِ فَهُيِّءَ إِلَى الْقِبْلَةِ ثُمَّ كَبَّرَ عَلَيْهِ تِسْعًا
“Tatkala Rasulullah ﷺ menemukan Hamzah, beliau memandang keadaannya..,.lalu beliau memerintahkan untuk dibawa jenazahnya kemudian diletakkan di arah kiblat lalu beliau pun bertakbir sebanyak 9 kali.” (HR. Ath-Thabrani)
2 hadis ini seakan-akan bertentangan, padahal tidaklah demikian.
Mengapa begitu?
Imam Ibnu Hazm berkata:
لِأَنَّ اسْتِعْمَالَهُمَا مَعًا مُمْكِنٌ فِي أَحْوَالٍ مُخْتَلِفَةٍ
“Sebab, menggunakan kedua-duanya mungkin saja dalam berbagai keadaan yang berbeda.” (Al-Muhallaa)
Artinya, itu tergantung pada keadaan. Kalau memang mungkin untuk menyalatkan seorang syahid, maka hendaknya ia disalatkan. Kalau tidak mungkin, maka tidak perlu disalatkan.
Makanya, Imam Ibnu Hazm berkata:
وَإِنْ صُلِّيَ عَلَيْهِ: فَحَسَنٌ، وَإِنْ لَمْ يُصَلَّ عَلَيْهِ: فَحَسَنٌ
“Kalau ia disalatkan, maka itu bagus. Dan kalau ia tidak disalatkan, maka itu pun bagus.” (Al-Muhalla)
- Apakah boleh menyalatkan jenazah di kubur?
Abu Hurairah bercerita bahwa dulu ada seorang wanita hitam yang biasanya membersihkan masjid lalu ia meninggal dunia.
Nabi ﷺ merasa kehilangan wanita itu, kemudian para sahabat pun mengabarkan bahwa ia telah meninggal. Maka beliau ﷺ pun bersabda:
فَهَلَّا آذَنْتُمُونِي
“Mengapa kalian tidak memberitahukan hal itu kepadaku?!”
Abu Hurairah berkata:
فَأَتَى قَبْرَهَا فَصَلَّى عَلَيْهَا
“Kemudian beliau ﷺ mendatangi kuburnya lalu menyalatkannya.” (HR. Ibnu Khuzaimah, asalnya dalam Ash-Shahihain)
Al-Hafizh Ibnu Hajar menyebutkan salah satu faidah dari hadis ini:
وَنَدْبُ الصَّلَاةِ عَلَى الْمَيِّتِ الْحَاضِرِ عِنْدَ قَبْرِهِ لمن لم يصل عَلَيْهِ
“Dianjurkan menyalatkan mayit yang ada di kuburnya bagi yang belum sempat menyalatkannya.” (Fath Al-Bari Syarh Shahih Al-Bukhari)
Dan itulah pendapat mayoritas ulama.
- Apa hukum salat gaib?
Abu Hurairah berkata:
نَعَى لَنَا رَسُولُ اللهِ ﷺ النَّجَاشِيَ صَاحِبَ الْحَبَشَةِ، فِي الْيَوْمِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ، فَقَالَ:
“Rasulullah ﷺ mengabarkan kepada kami kematian Najasyi, raja Habasyah pada hari kematiannya. Lalu beliau bersabda:
اسْتَغْفِرُوا لِأَخِيكُمْ
“Mohonkan ampun untuk saudara kalian ini!”
Ibnu Syihab berkata:
وَحَدَّثَنِي سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيِّبِ، أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ حَدَّثَهُ، «أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ صَفَّ بِهِمْ بِالْمُصَلَّى، فَصَلَّى فَكَبَّرَ عَلَيْهِ أَرْبَعَ تَكْبِيرَاتٍ»
“Dan Sa’id bin Al-Musayyib menyampaikan kepadaku bahwa Abu Hurairah menyampaikan kepadanya bahwa Rasulullah ﷺ mengatur saf para sahabatnya di tempat salat lalu beliau bertakbir empat kali untuknya.” (HR. Muslim)
Syekhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:
الصَّوَابُ أَنَّ الْغَائِبَ إِنْ مَاتَ بِبَلَدٍ لَمْ يُصَلَّ عَلَيْهِ فِيهِ، صُلِّيَ عَلَيْهِ صَلَاةَ الْغَائِبِ، كَمَا صَلَّى النَّبِيُّ ﷺ عَلَى النَّجَاشِيِّ، لِأَنَّهُ مَاتَ بَيْنَ الْكُفَّارِ وَلَمْ يُصَلَّ عَلَيْهِ
“Yang benar bahwa seorang yang tidak ada di hadapan, jika ia mati di suatu tempat dan tidak disalatkan, maka hendaknya dilaksanakan salat gaib untuknya. Sebagaimana Nabi ﷺ menyalatkan Najasy. Sebab, ia mati di antara orang-orang kafir dan tidak disalatkan.
وَإِنْ صُلِّيَ عَلَيْهِ حَيْثُ مَاتَ، لَمْ يُصَلَّ عَلَيْهِ صَلَاةَ الْغَائِبِ؛ لِأَنَّ الْفَرْضَ قَدْ سَقَطَ بِصَلَاةِ الْمُسْلِمِينَ عَلَيْهِ
Jika seseorang sudah disalatkan ketika meninggal dunia, maka tidak perlu lagi dilaksanakan salat gaib untuknya. Sebab, kewajiban menyalatkannya telah gugur karena kaum muslimin telah menyalatkannya.” (Zaad Al-Ma’ad)
Siberut, 11 Shafar 1443
Abu Yahya Adiya
Sumber:
- Ahkam Al-Janaiz karya Syekh Muhammad Nashiruddin Al-Albani.
- Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj karya Imam An-Nawawi.
- Fath Al-Bari Syarh Shahih Al-Bukhari karya Al-Hafizh Ibnu Hajar
- Shahih Fiqh As-Sunnah karya Syekh Abu Malik Kamal bin As-Sayyid.
- dan lain-lain






