Siapa Yang Menciptakan Perbuatan Manusia?

Siapa Yang Menciptakan Perbuatan Manusia?

Seseorang sedang di atap rumah, tiba-tiba ia terpeleset sehingga jatuh ke tanah lalu meninggal dunia.

Apakah itu takdir Allah?

Tentu saja itu takdir Allah. Tidak ada yang mengingkari itu kecuali orang yang sangat kafir dari kalangan Ateis dan semacam mereka.

Kasus lain….

Seseorang sedang di atap rumah, lalu ia meloncat ke bawah sehingga jatuh ke tanah lalu meninggal dunia.

Apakah itu takdir Allah?

 

Pendapat Ahlussunnah wal Jamaah

Adapun golongan yang selamat, Ahlussunnah wal Jama’ah, mereka berkeyakinan bahwa:

  1. Perbuatan manusia adalah takdir dan ciptaan Allah. Namun….
  2. Manusia juga mempunyai kehendak dan pilihan untuk melakukannya atau tidak.
  3. Dan perbuatannya itu disandarkan kepada dirinya.

 

Apa dalil bahwa perbuatan manusia adalah takdir dan ciptaan Allah?

Allah berfirman:

وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ

“Dia menciptakan segala sesuatu.” (QS. Al-Furqan: 2)

Ya, segala sesuatu, termasuk di antaranya perbuatan manusia.

 

Apa dalil bahwa manusia mempunyai kehendak dan pilihan untuk melakukan suatu perbuatan atau tidak?

1) Allah berfirman:

لِمَنْ شَاءَ مِنْكُمْ أَنْ يَسْتَقِيمَ

“(yaitu) bagi siapa di antara kalian yang menghendaki menempuh jalan yang lurus.” (QS. At-Takwir: 28)

Ini menunjukkan bahwa manusia mempunyai kehendak untuk melakukan suatu perbuatan.

2) Allah juga telah berfirman:

إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا

“Sesungguhnya Kami telah menunjukkan kepadanya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur.” (QS. Al-Insan: 3)

Ini menunjukkan bahwa manusia mempunyai pilihan untuk melakukan suatu perbuatan atau tidak.

 

Apa dalil bahwa perbuatan manusia disandarkan kepadanya?

Allah berfirman:

وَتِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Dan itulah surga yang diwariskan kepada kalian karena perbuatan yang telah kalian kerjakan.” (QS. Az-Zukhruf: 72)

Lihatlah, perbuatan yang telah kalian kerjakan.

Ini menunjukkan bahwa ketika seseorang melakukan suatu perbuatan, maka sebenarnya perbuatannya itu telah diciptakan dan ditakdirkan Allah, tetapi perbuatannya itu disandarkan kepada dirinya, sebagai pelakunya.

Syekh ‘Abdul ‘Aziz Ar-Rajhi berkata:

هذا معتقد أهل السنة والجماعة.

“Ini adalah keyakinan Ahlussunnah wal Jama’ah.

يقولون: إن أفعال العباد، أفعالك، أيها العبد خلقها الله، ولكن أنت الذي باشرتها وكسبتها، فهي تنسب إليك؛ لأنك أنت المباشر، وأنت الكاسب، وأنت الذي فعلتها باختيارك، فتصير بها مطيعا، وتصير بها عاصيا تنسب إليك، وإن كان الله خلقها

Mereka berkata bahwa perbuatan hamba, yaitu perbuatanmu wahai hamba, itu telah diciptakan oleh Allah. Namun, engkaulah yang mengerjakannya secara langsung dan mengusahakannya. Karena itu, perbuatan itu disandarkan pada dirimu. Sebab, engkaulah yang mengerjakannya secara langsung, engkaulah yang mengusahakannya, dan engkau juga yang melakukannya berdasarkan pilihanmu, sehingga dengan itu engkau dianggap taat dan dengan itu engkau dianggap maksiat. Itu semua disandarkan pada dirimu, walaupun Allah yang menciptakannya.

فهي من الله خلقا وإيجادا وتقديرا، ومن العبد تسببا وفعلا وكسبا ومباشرة، هذا معتقد أهل السنة والجماعة.

Perbuatan itu dari Allah sebagai pencipta, pengada, dan penentunya. Dan dari hamba sebagai penyebab, pelaku, pelaksananya secara langsung. Ini adalah keyakinan Ahlussunnah wal Jama’ah.” (Syarh Ath-Thahawiyyah)

 

Pendapat Sekte Jabriyyah

Sekte Jabriyyah berpendapat bahwa perbuatan manusia adalah takdir dan ciptaan Allah. Dan manusia tidak mempunyai kehendak dan pilihan sama sekali dalam hal itu.

Menurut mereka, manusia layaknya robot, hanya disetir dan tidak mempunyai kehendak dan pilihan sama sekali untuk melakukan suatu perbuatan atau tidak!

Perbuatan manusia itu-menurut mereka-pada hakikatnya adalah perbuatan Allah!

Apa alasan mereka?

Mereka beralasan dengan firman-Nya:

وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ

“Dan Allah menciptakan kalian dan apa yang kalian perbuat itu.” (QS. Ash-Shaffaat: 96)

Ayat ini menunjukkan bahwa perbuatan manusia adalah ciptaan Allah. Perbuatannya pada hakikatnya adalah perbuatan Allah!

Karena itu, ia tidak mempunyai kehendak dan pilihan sama sekali untuk melakukan suatu perbuatan!

 

Bantahan

1) Surat At-Takwir ayat 28 dan surat Al-Insan ayat 3 tadi menunjukkan dengan jelas bahwa manusia mempunyai kehendak dan pilihan untuk melakukan suatu perbuatan atau tidak dan ia tidak terpaksa.

2) Adapun alasan mereka dengan surat Ash-Shaaffaat ayat 96, maka itu dijawab oleh Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin:

فهو حجة عليهم; لأنه أضاف العمل إليهم

“Ayat ini justru membantah mereka. Sebab, Dia menyandarkan perbuatan itu kepada mereka.” (Al-Qaul Al-Mufid ‘Alaa Kitab At-Tauhid)

Ya, Allah menyandarkan perbuatan itu kepada mereka.

Allah tidak mengatakan, “Allah menciptakan kalian dan apa yang Dia perbuat itu.”

Allah justru mengatakan, “Allah menciptakan kalian dan apa yang kalian perbuat itu.”

Itu menunjukkan bahwa perbuatan manusia disandarkan padanya. Sebab, dialah pelaku dan pelaksananya.

Mungkin timbul pertanyaan, “Kalau memang perbuatan manusia disandarkan pada dirinya, lantas kenapa Allah menyebutkan bahwa Dia menciptakan itu juga?”

Syekh Muhammad bin Saleh Al-Utsaimin berkata:

وأما كون الله تعالى خالقه; فلأن عمل العبد حاصل بإرادته الجازمة وقدرته التامة، والإرادة والقدرة مخلوقان لله عز وجل فكان الحاصل بهما مخلوقا لله.

“Adapun Allah adalah penciptanya, karena amalan hamba terjadi karena kehendaknya yang pasti dan kemampuannya yang sempurna. Sedangkan kehendak dan kemampuan itu adalah ciptaan Allah. Makanya amalan yang terjadi karena keduanya adalah ciptaan Allah.” (Al-Qaul Al-Mufid ‘Alaa Kitab At-Tauhid)

 

Pendapat Sekte Qadariyyah

Sekte Qadariyyah berpendapat bahwa perbuatan manusia diciptakan oleh manusia itu sendiri dan karena kehendaknya, bukan karena kehendak Allah dan takdir-Nya.

Apa alasan mereka?

Allah berfirman:

لِمَنْ شَاءَ مِنْكُمْ أَنْ يَسْتَقِيمَ

“(yaitu) bagi siapa di antara kalian yang menghendaki menempuh jalan yang lurus.” (QS. At-Takwir: 28)

Ini menunjukkan bahwa manusia mempunyai kehendak untuk melakukan suatu perbuatan.  Dan perbuatannya itu adalah ciptaannya dan terjadi karena kehendaknya, tanpa kehendak Allah dan takdir-Nya.

 

Bantahan

1) Surat Al-Furqan ayat 2 dan surat Ash-Shaaffaat ayat 96 tadi menunjukkan dengan jelas bahwa perbuatan manusia adalah takdir dan ciptaan Allah.

2) Adapun alasan mereka dengan surat At-Takwir ayat 28, maka itu terbantahkan oleh ayat setelahnya:

وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

“Dan kalian tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. At-Takwir: 29)

Ayat ini  menunjukkan bahwa kehendak manusia itu di bawah kehendak Allah dan mengikuti kehendak-Nya.

Syekh ‘Abdul Muhsin Al-‘Abbad berkata:

أن مشيئة العبد ليست مقترنة بمشيئة الله، وإنما هي تابعة لمشيئة الله؛…

“Sesungguhnya kehendak hamba tidak beriring dengan kehendak Allah, melainkan mengikuti kehendak Allah…

ومشيئة الله عز وجل نافذة، ومشيئة العبد تابعة لمشيئة الله

Kehendak Allah pasti terlaksana, sedangkan kehendak hamba mengikuti kehendak Allah.” (Syarh Sunan Abu Daud)

 

Siberut, 21  Shafar 1443

Abu Yahya Adiya