“Sungguh demi Allah, aku akan mintakan ampunan untukmu selama aku tidak dilarang.”
Itulah yang diucapkan Nabi ﷺ setelah mengetahui bahwa paman beliau, Abu Thalib mati dalam keadaan kafir.
Beliau ﷺ membujuk dan terus membujuk pamannya agar mengucapkan لا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ. Namun sayangnya, hingga akhir hayatnya ia tidak mau mengucapkan itu dan tetap mempertahankan kemusyrikannya.
Nabi ﷺ berduka dan benar-benar berduka sehingga terlontarlah perkataan tadi.
Maka Allah عز وجل pun menurunkan firman-Nya:
مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ
“Tidak sepatutnya bagi nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (mereka), sesudah jelas bagi mereka, bahwa orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam.” (QS. At-Taubah: 113)
Dan mengenai Abu Thalib, Allah عز وجل menurunkan firman-Nya dalam surat Al-Qashshash ayat 56:
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ
“Sesungguhnya engkau (wahai Rasul) tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kau kasihi, tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Pada kesempatan lain….
Ketika mengetahui para sahabatnya banyak yang meninggal dalam perang Uhud, Nabi ﷺ berdoa:
اللَّهُمَّ العَنْ أَبَا سُفْيَانَ، اللَّهُمَّ العَنِ الحَارِثَ بْنَ هِشَامٍ، اللَّهُمَّ العَنْ صَفْوَانَ بْنَ أُمَيَّةَ
“Ya Allah, laknatilah Abu Sufyan. Ya Allah laknatilah Al-Harits bin Hisyam. Ya Allah laknatilah Shafwan bin Umayyah.”
Ketiga orang ini adalah orang yang sangat keras dalam memusuhi Islam dan sangat pantas untuk bertanggung jawab atas terbunuhnya banyak kaum muslimin dalam perang Uhud.
Dalam keadaan geram bercampur sedih beliau ﷺ memanjatkan doa tadi. Lalu apa yang terjadi?
Allah menurunkan firman-Nya:
لَيْسَ لَكَ مِنَ الأَمْرِ شَيْءٌ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ أَوْ يُعَذِّبَهُمْ
“Bukan menjadi urusanmu sedikit pun, apakah Dia menerima taubat mereka atau menyiksa mereka.” (QS. Ali-‘Imran: 128)
Ibnu ‘Umar berkata:
فَتَابَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ فَأَسْلَمُوا فَحَسُنَ إِسْلَامُهُمْ
“Ternyata Allah menerima taubat mereka. Mereka masuk Islam lalu baik keislaman mereka.” (HR. Tirmidzi)
Nabi ﷺ menganggap hidayah jauh dari 3 orang tadi, karenanya beliau berharap agar laknat-Nya segera menimpa mereka. Namun, Allah menyalahkan sikap beliau ﷺ.
Sebab, siapa sangka di kemudian hari mereka semua masuk Islam, bahkan baiklah keislaman mereka!
Keadaan mereka berbalik 180 derajat dibandingkan keadaan Abu Thalib!
Orang yang diharapkan mendapat hidayah justru tidak mendapat hidayah, sedangkan yang tidak diharapkan mendapat hidayah malah mendapat hidayah!
Allah berfirman:
وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَكِنْ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ
“Kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kalian satu umat (saja), tetapi Dia menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.” (QS. An-Nahl: 93)
Imam Al-Baghawi menjelaskan ayat ini:
وَلَوْ شاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً واحِدَةً، عَلَى مِلَّةٍ وَاحِدَةٍ وَهِيَ الْإِسْلَامُ، وَلكِنْ يُضِلُّ مَنْ يَشاءُ، بِخِذْلَانِهِ إِيَّاهُمْ عَدْلًا مِنْهُ، وَيَهْدِي مَنْ يَشاءُ، بِتَوْفِيقِهِ إِيَّاهُمْ فَضْلًا منه
“Kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kalian satu umat (saja) di atas satu agama, yaitu Islam. Namun, Dia menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dengan mengabaikan mereka sebagai bentuk keadilan dari-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki dengan memberikan taufik kepada mereka, sebagai karunia dari-Nya.” (Ma’alim At-Tanziil Fii Tafsiir Al-Quran)
Ya, Allah menyesatkan siapa saja yang Dia kehendaki, sebagai bentuk keadilan dari-Nya. Dan Dia memberi petunjuk kepada siapa saja yang Dia kehendaki, sebagai bentuk karunia dari-Nya.
Tatkala Allah menyesatkan seseorang, yakinilah bahwa orang tersebut memang layak menjadi sesat. Sebab….
“Tuhanmu sama sekali tidak menzalimi hamba-hamba-Nya.” (QS. Fushshilat: 46)
Begitu pula, tatkala Allah memberi petunjuk kepada seseorang, yakinilah bahwa orang tersebut memang pantas mendapat petunjuk. Sebab….
“Dia yang paling mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Najm: 30)
Ya, Allah lah yang paling tahu siapa orang yang layak mendapat petunjuk.
Dan ketika seorang mendapat petunjuk, sebenarnya itu bukan semata-mata karena kehebatan amalannya, melainkan karena karunia dan belas kasih dari-Nya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
واعْلَمُوا أَنَّه لَنْ ينْجُو أحدٌ منْكُمْ بعملهِ
“Ketahuilah, bahwasanya tidak seorang pun di antara kalian yang bisa selamat semata-mata karena amalannya.”
Para sahabat bertanya:
وَلا أنْت يَا رسُولَ اللَّه؟
“Termasuk engkau juga wahai Rasulullah?”
Rasulullah ﷺ menjawab:
وَلاَ أَنَا إلاَّ أنْ يتَغَمَّدني اللَّه برَحْمةٍ منْه وَفضْلٍ
“Termasuk aku juga, tidak bisa. Hanya saja Allah meliputi diriku dengan rahmat dan karunia dari-Nya.” (HR. Muslim)
Siberut, 19 Shafar 1443
Abu Yahya Adiya






