Tersesat dalam Sebab dan Hikmah

Tersesat dalam Sebab dan Hikmah

Seseorang bekerja keras dan cerdas. Di kemudian hari ia menjadi kaya raya.

Apakah ia kaya berdasarkan takdir Allah?

Tentu saja. Namun, apakah itu ada sebabnya? Atau tanpa ada sebab?

Kasus lain….

Seseorang tidak mau belajar dan bermalas-malasan. Di kemudian hari ia menjadi miskin.

Apakah ia miskin berdasarkan takdir Allah?

Tentu saja. Namun, apakah itu ada hikmahnya? Atau tanpa ada hikmah?

 

Keyakinan Yang Benar Tentang Sebab dan Hikmah

Allah berfirman:

{وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ}

“Dan musibah apa pun yang menimpa kalian adalah karena perbuatan tangan kalian sendiri.” (QS. Asy-Syuuraa: 30)

Ya, karena ulah kalian. Karena dosa dan kesalahan kalian! Dia menimpakan musibah kepada kalian karena sebab dosa dan kesalahan kalian!

Lalu apa hikmah dan tujuannya?

Allah berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali.” (QS. Ar-Ruum: 41)

Ya, agar mereka kembali. Kembali kepada Allah. Yaitu bertaubat kepada-Nya dari segala dosa dan kemaksiatan kepada-Nya.

2 ayat ini menunjukkan bahwa apa pun yang Allah tetapkan, pasti ada sebabnya, pasti ada hikmahnya, dan pasti ada tujuannya. Tidak mungkin sia-sia. Sebab, Allah Maha Suci dari kesia-siaan.

Syekh Muhammad bin Husain Al-Jizani berkata:

وقد نزه الله سبحانه وتعالى أفعاله عن العبث، فقال:

“Sungguh, Allah telah menyucikan perbuatan-Nya dari kesia-siaan. Dia berfirman:

{أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا} [المؤمنون: 115] ،

“Apakah kalian menyangka bahwa Kami menciptakan kalian secara main-main saja?” (QS. Al-Muminun: 115)

وقال جل شأنه:

Dan Dia berfirman:

{أَيَحْسَبُ الإنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى} [القيامة: 36]

“Apakah manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan begitu saja?” (Ma’alim Ushul Al-Fiqh ‘Inda Ahlissunnah wal Jama’ah)

Maka, apa pun yang Allah tetapkan pasti ada hikmahnya, pasti ada tujuannya, dan pasti ada sebabnya, tapi….

Sebab tersebut tidak akan berpengaruh kalau tidak Allah kehendaki.

Bekerja keras dan cerdas memang bisa menyebabkan seseorang kaya. Namun, semata-mata kerja keras dan cerdas belum tentu menjadikan seseorang kaya, kalau Allah tidak menghendakinya kaya.

Malas dan bodoh memang bisa menyebabkan seseorang miskin. Namun, semata-mata malas dan bodoh belum tentu menjadikan seseorang miskin, kalau Allah tidak menghendakinya miskin.

Allah melakukan apa pun yang Dia kehendaki.

Itulah keyakinan golongan yang selamat, Ahlussunnah wal Jama’ah.

 

Yang Tersesat Dalam Hal Sebab dan Hikmah

  1. Muktazilah

Sekte Muktazilah berpendapat bahwa segala yang Allah takdirkan pasti ada sebabnya. Namun, sebab itu berpengaruh dengan sendirinya tanpa campur tangan Allah.

Menurut mereka, kerja keras dan cerdaslah yang menjadikan seseorang kaya. Tidak ada campur tangan Allah dalam hal itu.

Dan mereka juga berpendapat bahwa apa yang Allah takdirkan pasti ada hikmahnya. Karena itu, mereka mewajibkan Allah melakukan sesuatu atau meninggalkan sesuatu berdasarkan hikmah tersebut.

Contohnya: Allah menakdirkan seseorang mendapatkan musibah. Dan di antara hikmah dari musibah yang menimpa seseorang yaitu agar terhapus dosanya atau terangkat derajatnya. Karena itu, kalau Allah memberikan musibah kepada seseorang, maka-menurut mereka-Allah wajib menghapus dosanya atau meninggikan derajatnya.

 

Bantahan

Adapun keyakinan mereka bahwa sebab itu berpengaruh dengan sendirinya tanpa campur tangan Allah, maka itu adalah syirik dan bertentangan dengan tauhid!

Mereka lupa atau pura-pura lupa, berapa banyak orang yang bekerja keras dan cerdas, tetapi tetap saja, mereka tidak juga kaya.

Adapun perbuatan mereka mewajibkan Allah melakukan atau meninggalkan sesuatu berdasarkan hikmah-Nya, maka dijawab oleh Syekhul Islam Ibnu Taimiyah:

وأما الإيجاب عليه سبحانه وتعالى والتحريم بالقياس على خلقه، فهذا قول القدرية، وهو قول مبتدع مخالف لصحيح المنقول وصريح المعقول، وأهل السنة متفقون على أنه سبحانه خالق كل شيء وربه ومليكه، وأنه ما شاء كان وما لم يشأ لم يكن، وأن العباد لا يوجبون عليه شيئًا

“Adapun mewajibkan dan mengharamkan bagi-Nya dengan menyamakan-Nya dengan makhluk-Nya, maka itu pendapat Qadariyyah. Dan itu adalah pendapat yang diada-adakan dan bertentangan dengan nas yang benar dan akal yang jernih. Dan Ahlussunnah sepakat bahwa Dia adalah pencipta, pemilik, dan penguasa segala sesuatu dan apa yang Dia kehendaki pasti terjadi dan apa yang tidak Dia kehendaki pasti tidak terjadi, dan bahwasanya para hamba tidak bisa mewajibkan Allah sedikit pun.” (Iqtidha Ash-Shirath Al-Mustaqim Limukhalafah Ashhab Al-Jahim)

 

  1. Asy’ariyyah.

Sekte Asy’ariyyah berpendapat bahwa Allah menakdirkan sesuatu tanpa ada sebab, tujuan, dan hikmah tertentu.

Al-Iijii berkata:

أن أفعاله تعالى ليست معللة بالأغراض، إليه ذهبت الأشاعرة

“Perbuatan-perbuatan-Nya tidak memiliki tujuan-tujuan. Itulah pendapat Asya’irah.” (Al-Mawaqif)

Menurut mereka, seseorang bisa kaya bukan karena bekerja keras dan cerdas, melainkan karena Allah menakdirkannya kaya. Dan Allah menakdirkan itu tanpa adanya sebab tertentu.

Dan menurut mereka juga, tatkala Allah menakdirkan seseorang menjadi miskin, maka itu tanpa tujuan dan hikmah tertentu. Itu semata-mata kehendak-Nya.

 

Bantahan

Itu sama saja dengan mencela syariat dan hikmah.

Mereka tidak tahu atau pura-pura tidak tahu, apakah mungkin seseorang bisa kenyang tanpa makan?

Apakah mungkin seorang bisa punya anak tanpa menikah dan jimak?

Adapun pernyataan mereka bahwa Allah menakdirkan sesuatu tanpa tujuan dan hikmah tertentu, maka itu merupakan pernyataan yang sangat batil. Sebab….

Apakah pantas Allah melakukan sesuatu yang sia-sia?

Apakah pantas Allah disamakan dengan orang yang mengalami sakit jiwa?

Bukankah orang yang mengalami sakit jiwa kadang melakukan sesuatu tanpa tujuan tertentu?

Apakah berani mereka menyamakan Tuhan mereka dengan orang yang semacam demikian?!

Maha Suci Allah dari apa yang mereka katakan….

 

  1. Sufi.

Sebagian sekte Sufi berpendapat bahwa segala yang Allah takdirkan pasti ada sebabnya. Namun, menempuh sebab itu tidaklah diperlukan.

Contohnya: ada di antara mereka yang pergi melaksanakan ibadah haji, tapi tanpa membawa bekal. Ada juga yang ingin mengenal Islam secara utuh dan benar, tapi tidak mau belajar.

 

Bantahan

Itu merupakan sikap kurang waras. Sebab, Allah sendiri berfirman:

وَتَزَوَّدُوا

“Berbekallah….” (QS. Al-Baqarah: 197)

Ibnu ‘Abbas berkata:

كَانَ أَهْلُ اليَمَنِ يَحُجُّونَ وَلاَ يَتَزَوَّدُونَ، وَيَقُولُونَ: نَحْنُ المُتَوَكِّلُونَ، فَإِذَا قَدِمُوا مَكَّةَ سَأَلُوا النَّاسَ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى:

“Dahulu para penduduk Yaman berhaji, tetapi tidak membawa bekal, dan mereka berkata, ‘Kami adalah orang-orang yang bertawakal’. Lalu jika mereka tiba di Mekah, mereka meminta-minta kepada orang-orang. Maka Allah Ta’ala menurunkan firman-Nya:

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى

“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (HR. Bukhari)

Dan Nabi ﷺ juga bersabda:

إِنَّمَا الْعِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ

“Sesungguhnya ilmu itu hanyalah diraih dengan belajar.” (HR. Thabrani)

 

Siberut, 23 Shafar 1443

Abu Yahya Adiya