Sufi dan Meminta Tolong kepada Orang Mati

Sufi dan Meminta Tolong kepada Orang Mati

Ketika masih muda, Syekh Muhammad bin Jamil Zainu adalah seorang Sufi dan belajar kepada seorang tokoh Sufi.

Suatu hari Syekh Muhammad membaca sabda Nabi ﷺ:

إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ

“Jika engkau meminta, maka mintalah kepada Allah! Dan jika engkau memohon pertolongan, maka mohonlah pertolongan kepada Allah!” (HR. Tirmidzi)

Syekh berdialog dengan gurunya tentang hadis tersebut.

Syekh Muhammad bin Jamil Zainu menceritakan dialog tersebut:

فقلت للشيخ هذا الحديث وشرحه يفيد عدم جواز الاستعانة بغير الله, فقال لي:

“Kukatakan kepada guruku tersebut bahwa hadis ini dan penjelasannya menunjukkan terlarangnya memohon pertolongan kepada selain Allah. Namun, guru itu berkata kepadaku:

بل تجوز!!

“Bahkan, itu boleh!”

قلت:

Kutanya:

وما دليلك؟

“Apa dalil Anda?”

فغضب الشيخ وصاح قائلا:

Ternyata guru itu marah dan berkata dengan keras:

إن عمتي تقول يا شيخ سعد

“Sesungguhnya bibiku biasa mengucapkan: ‘Wahai Syekh Sa’d!”

وهو مدفون في مسجد تستعين به

Dan Syekh Sa’d ini telah meninggal dan dikubur di dalam masjid, bibi itu biasa meminta tolong kepadanya. Guru itu berkata:

فأقول لها: يا عمتي وهل ينفعك الشيخ سعد؟ فتقول: أدعوه فيتدخل على الله فيشفيني!!

“Kutanya bibiku, ‘Wahai bibi! Apakah Syekh Sa’d bisa memberimu manfaat?’ Bibiku menjawab, ‘Aku menyerunya, agar ia menghadap Allah lalu ia memberiku kesembuhan.”

قلت له:

Kukatakan kepada guruku itu:

إنك رجل عالم قضيت عمرك في قراءة الكتب, ثم تأخذ عقيدتك من عمتك الجاهلة!

“Anda ini seorang ulama, dan Anda telah menghabiskan umur Anda dengan membaca buku-buku, lalu Anda mengambil akidah Anda dari bibi  Anda yang jahil itu?!”

فقال لي:

Guru itu berkata kepadaku:

عندك أفكار وهابية, أنت تذهب للعمرة وتأتي بكتب وهابية!!!

“Kamu ini memiliki pemikiran-pemikiran Wahabi! Kamu pergi umrah lalu datang membawa buku-buku Wahabi!”

وكنت لا أعرف شيئا عن الوهابية إلا ما أسمعه من المشايخ: فيقولون عنهم: الوهابيون مخالفون للناس لا يؤمنون بالأولياء وكراماتهم, ولا يحبون الرسول صلى الله عليه وسلم, وغيرها من الاتهامات الكاذبة! فقلت في نفسي

Sebenarnya aku tidak tahu sedikit pun tentang Wahabi kecuali apa yang kudengar dari guru-guruku. Mereka berkata bahwa orang-orang Wahabi itu menyalahi umat, tidak percaya kepada para wali dan karomah mereka, dan juga tidak mencintai Rasul ﷺ serta berbagai tuduhan dusta lainnya. Kukatakan pada diriku sendiri:

إن كانت الوهابية تؤمن بالاستعانة بالله وحده, وأن الشافي هو الله وحده, فيجب أن أتعرف عليها.

“Kalau memang orang-orang Wahabi meyakini bahwa permohonan tolong hanya boleh ditujukan kepada Allah semata dan bahwa yang memberikan kesembuhan hanya Allah semata, berarti aku harus mengenal ajaran mereka.” (Kaifa Ihtadaitu Ilaa At-Tauhid wa Ash-Shirath Al-Mustaqiim)

Setelah mempelajari apa saja keyakinan orang-orang “Wahabi” itu, ternyata Syekh Muhammad bin Jamil Zainu di kemudian hari menjadi sosok “Wahabi”.

Beliau menjadi ulama yang mendakwahkan tauhid dan sunnah, memberantas syirik, bidah, dan berbagai penyakit umat lainnya.

Ada beberapa pelajaran yang bisa kita petik dari dialog yang disebutkan Syekh Muhammad bin Jamil Zainu tadi:

 

  1. Syirik itu bertentangan dengan fitrah manusia.

Karena itu, Syekh Muhammad bin Jamil Zainu mengingkari pendapat gurunya yang membolehkan permintaan tolong kepada orang mati. Padahal, ketika itu Syekh masih awam, belum menjadi “Wahabi”.

Mengapa demikian?

Sebab, tauhid adalah fitrah manusia, sedangkan syirik bertentangan dengan fitrah manusia.

 

  1. Para pelaku syirik pasti memiliki argumen untuk melegalkan perbuatan mereka, tetapi argumen tersebut sangat lemah, lebih lemah daripada sarang laba-laba.

Mengapa demikian?

Sebab, perbuatan mereka hanya berdasarkan hawa nafsu mereka, dan juga bertentangan dengan fitrah mereka.

Seperti yang dilakukan oleh guru Sufi tadi. Ia melegalkan perbuatan syirik dengan perkataan bibinya!

Kalau pun para pelaku syirik menghiasi argumen mereka dengan ayat Al-Quran dan hadis, maka tetap saja itu tidak akan menguatkan argumen mereka, malah akan menjatuhkan mereka!

Syekh Muhammad At-Tamimi berkata:

فلا يأتي صاحب باطل بحجة إلا وفي القرآن ما ينقضها ويبين بطلانها

“Maka tidaklah pengusung kesesatan mendatangkan satu argumen pun kecuali di dalam Al-Quran ada yang membatalkannya dan menjelaskan kesesatannya.

كما قال تعالى:

Sebagaimana firman-Nya:

{وَلَا يَأْتُونَكَ بِمَثَلٍ إِلَّا جِئْنَاكَ بِالْحَقِّ وَأَحْسَنَ تَفْسِيرًا} [الفرقان: 33]

“Tidaklah mereka datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan penjelasan yang paling baik.” (QS. Al-Furqan: 33)

قال بعض المفسرين هذه الآية عامة في كل حجة يأتي بها أهل الباطل إلى يوم القيامة.

Sebagian ahli tafsir menjelaskan bahwa ayat ini umum berlaku bagi semua argumen yang dibawa pengusung kesesatan hingga hari kiamat.” (Kasyf Asy-Syubhat)

Sehebat apa pun argumen pelaku syirik, tetap saja tidak bisa mematahkan argumen ahli tauhid.

 

  1. Celaan dan gelar buruk yang dilemparkan kepada dakwah tauhid tidak akan membahayakan dakwah tauhid.

Seperti yang dilakukan oleh tokoh Sufi tadi. Tatkala ia mencela orang-orang yang mengusung dakwah tauhid dan menggelari mereka dengan “Wahabi”, apakah dengan itu ia bisa menghentikan dakwah tauhid?

Tidak. Tidak bisa. Bahkan, Syekh Muhammad bin Jamil Zainu yang ketika itu ‘tidak mengerti apa-apa’ menjadi penasaran untuk menyelami dakwah tauhid, sehingga akhirnya beliau pun di kemudian hari menjadi pengusung dakwah tauhid.

Sehebat apa pun fitnah, celaan, dan tipu daya musuh tauhid, tetap saja tidak bisa menghentikan dakwah tauhid.

 

Siberut, 30 Rajab 1443

Abu Yahya Adiya