Surga dan Neraka Tidak Berbeda?

Surga dan Neraka Tidak Berbeda?

Suatu hari Allah memberikan ilham kepada Syekh ‘Abdul Qadir.

Demikianlah klaim pengikut tarekat Sufi Qadiriyyah.

Apa ilham yang Allah berikan kepada syekh mereka itu?

Kata mereka, Syekh ‘Abdul Qadir berkata:

ثمّ قال لي (أي الله): لا ألفة ولا نعمة في الجنان بعد ظهوري فيها ولا وحشة ولا حرقة في النار بعد خطابي لأهلها

“Kemudian Allah berbicara kepadaku, ‘Tidak ada keakraban dan tidak pula ada kenikmatan di surga setelah kemunculan-Ku di dalamnya. Dan tidak ada kengerian dan pembakaran di dalam neraka setelah Kuajak bicara penghuninya.” (Al-Fuyudhaat Ar-Rabbaniyyah)

Ucapannya mirip seperti ucapan seorang tokoh Sufi yaitu Ibnu ‘Arabi:

أما أهل النار فمآلهم إلى النعيم

“Adapun penduduk neraka, maka tempat kembali mereka adalah kenikmatan.” (Fushush Al-Hikam)

Dan mirip juga dengan ucapan seorang tokoh Sufi lainnya yaitu Ahmad Al-Hassun:

إن أهل النار لا يطيقون الخروج منها لما هم فيه من النعيم-كما هو مذهب الصوفية- ولو أُخرج أحدهم منها لصاح

“Sesungguhnya penduduk neraka tidak sanggup keluar dari neraka, karena mereka merasakan kenikmatan di dalamnya-sebagaimana itu merupakan pendapat kaum Sufi-. Kalau salah seorang dari mereka dikeluarkan darinya, tentu ia akan berteriak:

ارجعوني ارجعوني ردُّوني

“Kembalikan aku! Kembalikan aku! Pulangkan aku!” (Hujjah Al-Mu’min ‘Alaa Man I’taqada Anna Fir’auna Mu’min)

Pertanyaannya yaitu bagaimana mungkin mereka merasa nikmat di neraka, padahal di dalam Al-Quran Allah menyebutkan bahwa Dia berkata kepada penduduk neraka:

اخْسَئُوا فِيهَا وَلَا تُكَلِّمُونِ

“Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kalian berbicara dengan-Ku!” (QS. Al-Mu’minun: 108)

Apakah mungkin orang yang tinggal dengan hina merasakan kenikmatan?

Dan bagaimana mungkin orang yang telah keluar dari neraka ingin kembali masuk ke neraka, padahal di dalam Al-Quran Allah mengabarkan keadaan penduduk nereka:

وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَا أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ

“Dan mereka berteriak di dalamnya, ‘Wahai Tuhan kami, keluarkanlah kami dari sini, niscaya kami akan mengerjakan kebajikan yang berlainan dengan yang telah kami kerjakan dahulu.” (QS. Fathir: 37)

Apakah mungkin orang yang berteriak meminta dikeluarkan dari neraka, lalu setelah dikeluarkan darinya, ia meminta dimasukkan kembali ke dalamnya?!

Apa sebabnya tarekat Qadiriyyah atau kaum Sufi secara umum memiliki keyakinan yang aneh tadi?

Syekh Manshur bin Sulaiman Al-Hamduni berkata:

وهذا إلغاء لمسألة العقاب والثواب. وليس ذا بمستنكر عند الصوفية طالما أن الكل عين واحدة هي الله فالجنة والنار سواء والمسلمون والكافرون وموسى وفرعون سواء وكلهم مرحومون إذ هم جميعاً عابدون لله بل هم الله

“Ini adalah peniadaan terhadap masalah hukuman dan ganjaran. Ini bukan sesuatu yang aneh menurut kaum Sufi selama meyakini bahwa segala sesuatu adalah satu wujud yaitu Allah. Surga dan neraka sama saja. Kaum muslimin, kafirin, Musa, dan Fir’aun adalah sama saja. Semuanya dirahmati. Sebab, semuanya adalah penyembah Allah. Bahkan. mereka semua adalah Allah!” (Hujjah Al-Mu’min ‘Alaa Man I’taqada Anna Fir’auna Mu’min)

Itulah keyakinan kufur wihdatul wujud. Wihdatul Wujud adalah keyakinan bahwa:

أنه ليس هناك خالق ولا مخلوق، فالكل واحد

“Tidak ada yang namanya khalik (pencipta) dan tidak pula makhluk (yang dicipta), semuanya satu.” (Syarh Ath-Thahawiyyah)

Artinya, apa yang kita lihat di alam semesta ini adalah Allah!

Maha Suci Allah dari apa yang mereka katakan….

 

Siberut, 14 Rajab 1444

Abu Yahya Adiya