Penyembah kubur: Bukankah musyrikin Quraisy tidak bersyahadat Laa Ilaaha Illa Allah?
Penyembah Allah: Ya, betul.
Penyembah kubur: Bukankah musyrikin Quraisy tidak mengakui Nabi Muhammad ﷺ sebagai nabi dan rasul-Nya?
Penyembah Allah: Ya, betul.
Penyembah kubur: Bukankah mereka mengingkari Al-Quran dan hari kebangkitan?
Penyembah Allah: Ya, betul.
Penyembah kubur: Itulah mereka. Adapun saya?
Saya bersyahadat Laa Ilaaha Illa Allah. Saya juga mengakui Nabi Muhammad ﷺ sebagai nabi dan rasul-Nya. Saya membenarkan Al-Quran dan adanya hari kebangkitan. Bahkan, saya juga menunaikan salat, zakat dan puasa. Maka, bagaimana bisa Anda menyamakan saya dengan mereka?!
Penyembah Allah: Jika ada orang yang beriman kepada sebagian ajaran Islam, tapi menolak sebagian yang lain, apakah ia seorang muslim?
Penyembah kubur: Tentu saja tidak. Ia kafir!
Penyembah Allah: Kalau ada orang yang mengakui keesaan Allah dan kerasulan Nabi Muhammad ﷺ, tapi tidak mengakui kewajiban salat lima waktu, apakah ia seorang muslim?
Penyembah kubur: Tentu saja tidak. Ia kafir!
Penyembah Allah: Kalau ada orang yang mengakui keesaan Allah, mengakui kerasulan Nabi Muhammad ﷺ, dan mengakui kewajiban salat lima waktu, tapi tidak mengakui kewajiban zakat, apakah ia seorang muslim?
Penyembah kubur: Tentu saja tidak. Ia kafir!
Penyembah Allah: kalau ada orang yang mengakui keesaan Allah, mengakui kerasulan Nabi Muhammad ﷺ, mengakui kewajiban salat lima waktu dan membayar zakat, tapi tidak mengakui kewajiban puasa dan haji apakah ia seorang muslim?
Penyembah kubur: Tentu saja tidak. Ia kafir!
Penyembah Allah: Nah, kalau orang yang mengingkari satu saja ajaran Islam adalah kafir, maka bagaimana pula kalau sampai mengingkari intinya ajaran Islam, yaitu tauhid?! Bukankah lebih kafir lagi?!
Siberut, 22 Rabi’ul Awwal 1442
Abu Yahya Adiya
Sumber: Kasyf Asy-Syubhat karya Imam Muhammad At-Tamimi.






