Siapa yang tidak kenal dengan ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz?
Seorang pemimpin negara dan juga ulama.
Seorang yang saleh dan juga bijaksana.
Seorang ahli ibadah dan jauh dari kemewahan dunia.
Dialah khalifah yang alim, saleh, adil, dan bijaksana.
Kealimannya, kesalehannya, keadilannya, dan kebijaksanaannya sulit ditandingi oleh siapa pun pemimpin setelahnya.
Namun, jika dibandingkan dengan Mu’awiyah bin Abi Sufyan, maka siapakah yang lebih baik?
Apakah ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz? Atau Mu’awiyah bin Abi Sufyan?
Imam Ahmad bin Hanbal berkata:
فأدناهم صُحْبَة أفضل من الْقرن الَّذِي لم يروه وَلَو لقوا الله بِجَمِيعِ الْأَعْمَال
“Orang yang paling sebentar menyertai Nabi ﷺ di antara para sahabat beliau itu lebih baik dibandingkan orang-orang yang belum pernah melihat beliau, walaupun mereka menemui Allah di hari kiamat dengan membawa seluruh amalan.
كَانَ هَؤُلَاءِ الَّذين صحبوا النَّبِي ﷺ ورأوه وسمعوا مِنْهُ أفضل لصحبتهم من التَّابِعين وَلَو عمِلُوا كل أَعمال الْخَيْر
Orang-orang yang bersahabat dengan Nabi ﷺ, melihat beliau, dan mendengar perkataan beliau, mereka itu lebih baik daripada tabiin dikarenakan persahabatan mereka dengan beliau, walaupun tabiin itu melakukan seluruh amal kebaikan.” (Ushul As-Sunnah)
Lihatlah, jika seorang beriman melakukan semua amal kebaikan, tetapi ia belum pernah bertemu dengan Nabi ﷺ, maka tetap saja ia tidak bisa menandingi kemuliaan orang beriman yang pernah bertemu dengan Nabi ﷺ walaupun sesaat.
Ya, walaupun sesaat mendampingi Nabi ﷺ. Maka bagaimana pula kalau sampai lama mendampingi Nabi ﷺ?
Seseorang pernah bertanya kepada ‘Abdullah bin Al-Mubarak:
أيهما أفضل معاوية بن أبي سفيان ، أم عمر بن عبد العزيز؟
“Siapakah yang lebih utama, Mu’awiyah bin Abi Sufyan atau ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz?”
‘Abdullah bin Al-Mubarak pun menjawab:
والله إن الغبار الذي دخل في أنف معاوية مع رسول الله صلى الله عليه وسلم أفضل من عمر بألف مرة ، صلَّى معاوية خلف رسول الله صلى الله عليه وسلم ، فقال : سمع الله لمن حمده ، فقال معاوية : ربنا ولك الحمد ، فما بعد هذا؟
“Demi Allah, sesungguhnya debu yang masuk ke hidung Mu’awiyah ketika bersama Rasulullah ﷺ itu seribu kali lebih baik daripada ‘Umar. Mu’awiyah pernah melaksanakan salat di belakang Rasulullah ﷺ. Beliau ﷺ mengucapkan: ‘Sami’allahu liman hamidah (Allah mendengarkan orang yang memuji-Nya)’ lalu Mu’awiyah menjawab: ‘Rabbanaa walakal hamd (Wahai Tuhan kami bagi-Mu lah segala pujian).’ Maka apa ada keutamaan yang lebih besar daripada ini?” (Wafayaat Al-A’yaan)
Seseorang bertanya kepada Al-Mu’aafaa bin ‘Imran:
أَيْنَ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ مِنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ أَبِي سُفْيَانَ؟
“Bagaimana kedudukan ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz dibandingkan dengan Mu’awiyah bin Abi Sufyan?”
Mendengar perkataan itu, Al-Mu’aafaa marah besar lalu berkata:
لَا يُقَاسُ بِأَصْحَابِ مُحَمَّدٍ ﷺ أَحَدٌ , مُعَاوِيَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ كَاتِبُهُ وَصَاحِبُهُ وَصِهْرُهُ وَأَمِينُهُ عَلَى وَحْيِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَقَدْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:
“Sahabat-sahabat Muhammad ﷺ tidak dapat dibandingkan dengan siapa pun. Mu’awiyah-semoga Allah meridainya-adalah juru tulis Nabi, sahabat beliau, ipar beliau, dan orang kepercayaan beliau dalam menulis wahyu dari Allah ‘Azza wa Jalla, sedangkan Rasulullah ﷺ telah bersabda:
دَعُوا لِي أَصْحَابِي وَأَصْهَارِي فَمَنْ سَبَّهُمْ فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
“Jangan ganggu para sahabatku dan iparku! Karena siapa yang mencela mereka, maka ia mendapat laknat Allah, para malaikat dan seluruh manusia.” (Asy-Syari’ah)
‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz tidak pernah bertemu dengan Nabi ﷺ. Sedangkan Mu’awiyah bin Abi Sufyan pernah bertemu dengan Nabi ﷺ.
‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz tidak pernah bermakmum kepada Nabi ﷺ. Sedangkan Mu’awiyah bin Abi Sufyan pernah bermakmum kepada Nabi ﷺ.
‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz tidak pernah berjihad bersama Nabi ﷺ. Sedangkan Mu’awiyah bin Abi Sufyan pernah berjihad bersama Nabi ﷺ.
Maka, apakah kedudukan keduanya sama?
Siberut, 10 Dzulqa’dah 1443
Abu Yahya Adiya






