Apa reaksi kita ketika mendengar kematian seorang yang saleh?
Tentu saja kita merasa kehilangannya. Kita mendoakannya. Kita memohon kepada Allah agar mengasihi dan mengampuninya, tapi….
Perlukah kita memperbagus makamnya?
Atau membuat kubah di atas makamnya?
Atau beribadah di sekitar makamnya?
Saat Nabi ﷺ sakit, istri beliau, Ummu Salamah datang menjenguk. Dan ketika itu, Ummu Salamah bercerita kepada beliau tentang keindahan kanisah yang ia saksikan di negeri Ethiopia, dan juga gambar-gambar yang ada di dalamnya.
Setelah mendengar ceritanya, beliau ﷺ pun mengangkat kepalanya lalu bersabda:
أُولَئِكِ إِذَا مَاتَ مِنْهُمُ الرَّجُلُ الصَّالِحُ بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا، ثُمَّ صَوَّرُوا فِيهِ تِلْكَ الصُّورَةَ أُولَئِكِ شِرَارُ الخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ
“Mereka itu, bila di antara mereka ada orang saleh yang meninggal dunia, mereka membangun tempat ibadah di atas kuburnya, lalu mereka membuat gambar-gambar di dalamnya. Mereka itulah seburuk-buruk makhluk di sisi Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan terlarangnya membangun tempat ibadah di sekitar kubur orang saleh. Sebab, Nabi ﷺ menyatakan bahwa orang yang melakukan demikian adalah seburuk-buruk makhluk di sisi Allah.
Itu peringatan Nabi ﷺ ketika beliau masih hidup. Dan ternyata peringatan tersebut beliau ulangi lagi lima hari sebelum beliau wafat.
Wasiat Lima Hari Sebelum Wafat
Jundub bin ‘Abdullah berkata:
سَمِعْتُ النَّبِيَّ ﷺ قَبْلَ أَنْ يَمُوتَ بِخَمْسٍ، وَهُوَ يَقُولُ:
“Aku pernah mendengar Nabi ﷺ bersabda lima hari sebelum beliau meninggal dunia:
إِنِّي أَبْرَأُ إِلَى اللهِ أَنْ يَكُونَ لِي مِنْكُمْ خَلِيلٌ، فَإِنَّ اللهِ تَعَالَى قَدِ اتَّخَذَنِي خَلِيلًا، كَمَا اتَّخَذَ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا، وَلَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا مِنْ أُمَّتِي خَلِيلًا لَاتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ خَلِيلًا
“Sungguh, aku menyatakan setia kepada Allah dengan menolak untuk memiliki khalil (kekasih) di antara kalian. Karena sesungguhnya Allah Ta’ala telah menjadikanku sebagai khalil-Nya, sebagaimana Dia telah menjadikan Ibrahim sebagai khalil-Nya. Seandainya aku diperbolehkan menjadikan seorang dari umatku sebagai khalil, tentu akan kujadikan Abu Bakar sebagai khalilku.
أَلَا وَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانُوا يَتَّخِذُونَ قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ وَصَالِحِيهِمْ مَسَاجِدَ، أَلَا فَلَا تَتَّخِذُوا الْقُبُورَ مَسَاجِدَ، إِنِّي أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ
Ketahuilah, sesungguhnya umat sebelum kalian telah menjadikan kuburan para Nabi dan orang-orang saleh di antara mereka sebagai tempat ibadah. Ingatlah, janganlah kalian menjadikan kuburan sebagai tempat beribadah, karena aku melarang kalian dari perbuatan itu.” (HR. Muslim)
Itu peringatan dari Nabi ﷺ lima hari sebelum beliau wafat. Beliau benar-benar memperingatkan umatnya agar tidak melakukan perbuatan tersebut.
Bahkan, peringatan tersebut beliau ﷺ ulangi lagi saat menjelang wafatnya, yaitu ketika detik-detik perpisahan antara beliau dengan umatnya.
Laknat di Akhir Hayat
‘Aisyah berkata:
لَمَّا نَزَلَ بِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ طَفِقَ يَطْرَحُ خَمِيصَةً لَهُ عَلَى وَجْهِهِ، فَإِذَا اغْتَمَّ بِهَا كَشَفَهَا عَنْ وَجْهِهِ، فَقَالَ وَهُوَ كَذَلِكَ:
“Ketika Rasulullah ﷺ akan diambil nyawanya, beliau segera menutup mukanya dengan kain. Dan ketika nafasnya terasa sesak, beliau buka kembali kain itu. Ketika itulah beliau bersabda:
لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى اليَهُودِ وَالنَّصَارَى، اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ
“Laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang Yahudi dan Nashrani, mereka menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai tempat peribadatan.”
يُحَذِّرُ مَا صَنَعُوا فَلَوْلَا ذَاكَ أُبْرِزَ قَبْرُهُ، غَيْرَ أَنَّهُ خُشِيَ أَنْ يُتَّخَذَ مَسْجِدًا
Beliau mengingatkan umatnya agar menjauhi perbuatan mereka. Jika bukan karena hal itu, maka pasti kubur beliau akan ditampakkan. Hanya saja, dikhawatirkan kubur beliau nanti dijadikan tempat beribadah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kuburan Bukan Tempat Ibadah
Beberapa hadis tadi sangat jelas menunjukkan bahwa kuburan itu bukan tempat untuk beribadah.
Dan itu juga diperkuat oleh sabda Nabi ﷺ:
لَا تُصَلُّوا إِلَى الْقُبُورِ
“Jangan kalian melaksanakan salat dengan menghadap kubur.” (HR. Muslim)
Dan juga sabda beliau ﷺ:
الْأَرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدٌ إِلَّا الْمَقْبَرَةَ وَالْحَمَّامَ
“Bumi itu semuanya merupakan tempat untuk sujud kecuali kuburan dan kamar mandi.” (HR. Ahmad, Sunan Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Dan karena alasan itu pula kubur Nabi ﷺ tidak ditampakkan. Sebagaimana perkataan ‘Aisyah:
يُحَذِّرُ مَا صَنَعُوا فَلَوْلَا ذَاكَ أُبْرِزَ قَبْرُهُ، غَيْرَ أَنَّهُ خُشِيَ أَنْ يُتَّخَذَ مَسْجِدًا
“Beliau mengingatkan umatnya agar menjauhi perbuatan mereka. Jika bukan karena hal itu, maka pasti kubur beliau akan ditampakkan. Hanya saja, dikhawatirkan kubur beliau nanti dijadikan tempat beribadah.”
Maka, telah jelas dan nyata bahwa menjadikan kuburan nabi atau orang saleh sebagai tempat beribadah bukan termasuk ajaran Islam.
Nabi ﷺ bersabda:
وَاعْلَمُوا أَنَّ شِرَارَ النَّاسِ الَّذِينَ اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ
“Ketahuilah, seburuk-buruk manusia adalah yang menjadikan kuburan nabi sebagai tempat beribadah.” (HR. Ahmad)
Kalau menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah saja sangat dimurkai Allah, maka bagaimana pula kalau menjadikan itu sebagai tempat mencari berkah, rezeki, dan keuntungan dari selain Allah?
Nabi ﷺ bersabda:
البَرَكَةُ مِنَ اللَّهِ
“Berkah itu dari Allah.” (HR. Bukhari)
Ya, berkah itu dari Allah. Lantas, kenapa meminta itu kepada penghuni kubur? Dan kenapa mencari itu di kubur?
Siberut, 21 Muharram 1442
Abu Yahya Adiya






